RADAR KUDUS – Suasana haru menyelimuti keluarga korban ketika Tim SAR gabungan mulai mengevakuasi reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo menggunakan alat berat.
Langkah ini dilakukan setelah adanya permintaan langsung dari pihak keluarga.
“Keluarga korban memutuskan agar proses evakuasi dilakukan dengan alat berat,” jelas Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Kamis (2/10).
Baca Juga: Melalui Program Speling, Pemprov Jateng Terus Upayakan Pemerataan Layanan Kesehatan
Menurut Suharyanto, pihaknya sebenarnya menawarkan opsi evakuasi manual.
Namun, para keluarga dengan suara bulat menyetujui agar bangunan yang menimpa korban segera diangkat.
“Mereka menyampaikan, sudah cukup menunggu tiga hari, sekarang mohon segera gunakan alat berat,” tambahnya.
Keputusan tersebut diambil dengan berat hati. Raut wajah penuh kesedihan tampak dari keluarga korban yang terus menangis sepanjang proses.
Meski demikian, mereka berusaha ikhlas agar para korban segera ditemukan.
Keluarga juga menegaskan bila nantinya jenazah berhasil ditemukan, mereka siap untuk melaksanakan pengurusan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Terlebih, hasil pantauan drone thermal sejak Rabu (1/10) hingga Kamis pagi (2/10) tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan.
Baca Juga: Mega Proyek Industri Masuk Grobogan, Kantah Pastikan Sesuai Aturan Tata Ruang
“Sebagai penguat, kami buat berita acara yang ditandatangani perwakilan keluarga agar jelas bahwa langkah ini sesuai kesepakatan, bukan keputusan sepihak,” ungkap Suharyanto.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Senin (29/9) pukul 15.35 WIB. Gedung empat lantai Pondok Pesantren Al Khoziny ambruk ketika para santri sedang Salat Asar di lantai satu.
Sejumlah santri pun terjebak di bawah puing bangunan.
Sejak Kamis siang, satu per satu crane dikerahkan untuk mengangkat puing-puing.
Hingga hari ketiga, tercatat 108 orang menjadi korban, dengan rincian 5 meninggal dunia dan 103 selamat. Dari jumlah itu, 18 orang berhasil dievakuasi tim SAR.
Baca Juga: Rumah Bukan Sekadar Bangunan: Lirik dan Makna Lagu Kita Usahakan Rumah Itu Kembali Viral di TikTok
Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa keputusan penggunaan alat berat telah melalui diskusi bersama keluarga.
“Semua pihak sepakat, termasuk keluarga korban, sehingga evakuasi dilaksanakan dengan alat berat,” katanya.
BNPB menurunkan 219 personel, 30 ambulans, 30 truk sampah, 300 kantong jenazah, serta lima unit crane.
Pemerintah juga berjanji akan membantu keluarga yang kesulitan dalam proses pemakaman maupun pemindahan jenazah keluar daerah.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat RPDO Basarnas Emi Freezer menyampaikan bahwa evakuasi dengan alat berat hanya dilakukan hingga sore hari demi alasan keamanan.
“Pencahayaan terbatas di malam hari bisa membahayakan petugas, sehingga kami hentikan saat gelap,” ujarnya.
Freezer menambahkan, sebelum memutuskan penggunaan alat berat, Basarnas telah melakukan tiga kali pemeriksaan dengan peralatan modern.
Hasilnya, sejak Rabu malam hingga Kamis pagi, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan.
“Setiap kali puing diangkat, kami lakukan asesmen ulang agar proses tetap aman,” tegasnya.
Editor : Ali Mustofa