8 Kali Prabowo Hentakkan Meja di PBB: Pidato Menggetarkan Dunia, Palestina Jadi Sorotan
Mahendra Aditya Restiawan• Rabu, 24 September 2025 | 15:36 WIB
Presiden RI, Prabowo Subianto
RADAR KUDUS — Gedung Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sontak hening lalu bergemuruh ketika Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, naik ke podium.
Pidatonya bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan sebuah orasi penuh energi yang mengguncang suasana.
Dalam durasi sekitar 40 menit, delapan kali Prabowo menghentakkan tangan ke meja mimbar, tanda emosinya meluap.
Aksi itu langsung menjadi sorotan dunia. Tak hanya karena jarang ada kepala negara yang tampil seberani itu di panggung PBB, tetapi juga karena isi pidato yang menyinggung luka sejarah Indonesia, konflik Palestina–Israel, hingga janji menghapus kemiskinan dan kelaparan dari Tanah Air.
Menggugat Luka Penjajahan
Momen hentakan pertama terjadi saat Prabowo mengingatkan dunia bahwa Indonesia pernah merasakan pahitnya kolonialisme.
Dengan suara bergetar namun tegas, ia menyebut rakyat Nusantara dulu diperlakukan lebih rendah dari binatang di tanah sendiri.
“Kami tahu betul arti penindasan. Rakyat kami pernah dianggap tidak lebih berharga dari seekor anjing,” ujar Prabowo dengan tatapan menyapu ruangan. Hentakan tangannya ke meja membuat suasana mendadak hening.
Para delegasi pun menoleh, menyadari orasi itu bukan sekadar retorika, melainkan lahir dari pengalaman sejarah panjang.
Solidaritas yang Menghidupkan
Prabowo lalu kembali menghentakkan meja ketika menyinggung perjuangan Indonesia melawan kelaparan, penyakit, dan kemiskinan pascakemerdekaan. Ia menekankan, tanpa solidaritas global, Indonesia tak akan bisa bertahan.
“Kami tahu arti pentingnya solidaritas. Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri bersama kami, memberi bantuan yang sangat berarti,” kata Prabowo. Kali ini, tepuk tangan menggema, seakan menegaskan bahwa pesan solidaritas masih relevan hingga kini.
Indonesia Siap Kirim 20.000 Pasukan Perdamaian
Momen ketiga yang paling mengejutkan adalah ketika Prabowo menegaskan Indonesia siap mengirim 20.000 pasukan perdamaian ke berbagai titik konflik dunia, termasuk Gaza, Ukraina, hingga Sudan.
“Perdamaian bukan hanya kata-kata. Kami siap hadir dengan putra-putri bangsa, bahkan berkontribusi finansial, demi tegaknya misi besar PBB,” tegasnya.
Hentakan tangannya ke meja mengiringi pernyataan itu, membuat banyak diplomat menunduk, terkesima dengan tawaran kontribusi besar dari Indonesia.
Janji Menghapus Kemiskinan
Hentakan meja berikutnya muncul saat Prabowo berbicara tentang misinya sebagai Presiden Indonesia. Dengan nada lantang, ia menyatakan tekad untuk mengeluarkan seluruh rakyat Indonesia dari kemiskinan dan menjadikan negeri ini sebagai pusat solusi pangan, energi, dan air dunia.
“Tujuan kami jelas: mengangkat rakyat dari jurang kemiskinan, menjadikan Indonesia motor solusi global,” katanya, disambut riuh tepuk tangan.
Dukungan Penuh untuk Palestina
Sorakan dukungan terdengar lagi ketika Prabowo menghentakkan meja untuk menegaskan keberpihakan Indonesia terhadap Palestina.
Ia menyambut baik semakin banyak negara besar yang kini mengakui Palestina sebagai negara merdeka.
“Memilih jalan sejarah yang benar berarti berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian. Indonesia berdiri tegak bersama Palestina,” ujarnya lantang.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan garis diplomasi Indonesia sejak era Soekarno: konsisten mendukung kemerdekaan bangsa Palestina.
Persatuan Melawan Penindasan
Momen emosional kembali hadir saat Prabowo menekankan pentingnya persatuan antarnegara dalam melawan penindasan.
“Kita mungkin lemah secara individu, tapi jika bersatu, kita bisa menjadi kekuatan besar yang mengakhiri ketidakadilan,” tegasnya sambil menghentakkan meja lagi.
Pidato ini membuat sejumlah perwakilan negara di forum itu mengangguk setuju, menyadari bahwa seruan persatuan melawan penindasan bukan sekadar retorika, melainkan sebuah panggilan sejarah.
Solusi Dua Negara: Palestina–Israel
Dalam hentakan meja ketujuhnya, Prabowo menegaskan kembali dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara bagi konflik Palestina–Israel.
“Kita harus memiliki Palestina yang merdeka, tetapi juga harus menjamin keamanan Israel. Hanya dengan begitu perdamaian sejati bisa tercapai,” katanya.
Pernyataan ini dianggap seimbang dan berani, karena tidak hanya berpihak pada Palestina, tetapi juga menekankan perlunya jaminan hidup damai bagi Israel.
Mimpi Umat Manusia: Hidup Sebagai Satu Keluarga
Puncak pidato Prabowo ditandai dengan hentakan meja terakhir. Ia mengajak seluruh umat beragama—Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha—untuk hidup sebagai satu keluarga manusia.
“Mungkin ini terdengar seperti mimpi. Tapi inilah mimpi indah yang harus kita perjuangkan bersama,” katanya dengan suara parau.
Pesan itu menutup pidato dengan standing ovation dari sejumlah delegasi. Prabowo berhasil mengubah forum formal PBB menjadi arena emosional yang meninggalkan kesan mendalam.
Dampak Global: Prabowo dan Citra Indonesia
Aksi hentakan meja ini langsung jadi headline di berbagai media dunia. Ada yang menyebutnya sebagai pidato paling emosional sejak era Soekarno di PBB tahun 1960-an.
Ada pula yang menilai Prabowo berhasil membangun citra Indonesia sebagai negara vokal dalam memperjuangkan perdamaian dunia.
Bagi Indonesia, pidato ini menjadi bukti bahwa negeri kepulauan di Asia Tenggara bukan sekadar penonton, melainkan pemain aktif di panggung diplomasi global.
Delapan kali Prabowo menghentakkan meja bukan sekadar gerakan spontan, tetapi simbol dari delapan isu penting: luka penjajahan, solidaritas global, komitmen pasukan perdamaian, janji keluar dari kemiskinan, dukungan Palestina, seruan persatuan, solusi dua negara, hingga mimpi umat manusia hidup sebagai satu keluarga.
Pidato itu mengingatkan dunia bahwa suara Indonesia tetap lantang, meski di tengah riuhnya politik global.
Dan hentakan meja Prabowo, bisa jadi, akan tercatat sebagai salah satu momen diplomasi paling berkesan dalam sejarah Indonesia di PBB.