RADAR KUDUS - Timnas Indonesia menghadapi cobaan besar jelang FIFA Matchday September 2025.
Kiper utama sekaligus andalan Garuda, Maarten Paes, dipastikan tidak masuk dalam daftar skuad yang disiapkan Patrick Kluivert.
Absennya penjaga gawang FC Dallas itu menimbulkan banyak spekulasi, terutama karena perannya selama ini sangat vital di bawah mistar.
Absennya Paes, Pertanyaan Besar untuk Timnas
Sejak resmi membela Merah Putih, Paes hampir tak tergantikan sebagai pilihan nomor satu.
Usianya baru 27 tahun, namun sudah tampil konsisten di sejumlah laga krusial, termasuk saat Indonesia mencatat sejarah di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Karena itu, ketidakhadirannya pada laga melawan Kuwait (5/9) dan Lebanon (8/9) menjadi sorotan besar.
PSSI sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait alasan di balik absennya sang kiper. Namun, indikasi kuat mengarah pada faktor cedera.
Baca Juga: Mengapa Maarten Paes Absen di Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday September 2025? Ini Alasannya
Cedera di Klub Jadi Alasan Logis
Dalam keterangan resmi FC Dallas, Paes dilaporkan mengalami masalah fisik usai menghadapi New York City FC pada 26 Juli 2025. Cedera tersebut membuatnya absen dalam dua laga MLS berikutnya melawan Portland Timbers dan Austin FC. Kondisi ini yang diyakini membuatnya tidak siap bergabung bersama Timnas.
Situasi ini jelas menjadi kerugian besar. Pasalnya, dua laga FIFA Matchday September bukan sekadar uji coba, tetapi juga bagian penting dari persiapan menghadapi putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Tiga Nama Siap Rebutkan Posisi Kiper Utama
Tanpa Paes, pelatih Patrick Kluivert memanggil tiga kiper untuk mengisi posisi krusial ini:
-
Emil Audero (Cremonese – Serie A Italia)
-
Ernando Ari Sutaryadi (Persebaya Surabaya)
-
Nadeo Argawinata (Borneo FC Samarinda)
Ketiganya punya peluang untuk tampil. Dari segi pengalaman, Emil Audero sedikit lebih unggul karena pernah merasakan kerasnya Serie A Italia dan membela Timnas junior Italia.
Namun, Ernando dan Nadeo juga bukan nama asing, karena keduanya berulang kali menjadi pilihan utama di kompetisi domestik dan ajang internasional bersama Garuda.
Pertarungan mereka untuk merebut posisi inti akan menjadi perhatian utama publik di laga uji coba nanti.
Tak Hanya Paes yang Absen
Ketiadaan Maarten Paes bukan satu-satunya masalah. Beberapa nama besar lain juga tak dipanggil, di antaranya Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, Ivar Jenner, hingga Rafael Struick.
Absennya pilar-pilar tersebut membuat beban Kluivert semakin berat. Pelatih asal Belanda itu harus melakukan rotasi sekaligus menguji kedalaman skuad.
Ia menegaskan bahwa FIFA Matchday kali ini bukan hanya sekadar uji coba, melainkan kesempatan untuk membangun tim yang lebih solid dan kompetitif.
Meski berstatus laga persahabatan, duel melawan Kuwait dan Lebanon tidak bisa dipandang remeh.
Kedua tim Asia Barat tersebut dikenal memiliki gaya bermain keras, fisik kuat, dan organisasi pertahanan yang solid. Hal ini akan menjadi ujian nyata bagi Garuda dalam mengukur sejauh mana kesiapan menghadapi lawan tangguh di kualifikasi mendatang.
Kehilangan Paes memang menjadi kerugian besar, namun momentum ini sekaligus menjadi panggung pembuktian bagi tiga kiper yang dipanggil.
Apakah Audero mampu langsung menunjukkan kualitas Eropa-nya? Atau justru Ernando dan Nadeo yang akan menegaskan diri sebagai benteng masa depan Garuda?
Strategi Kluivert: Rotasi dan Fleksibilitas
Patrick Kluivert kemungkinan besar akan menerapkan strategi fleksibel. Absennya sejumlah pemain inti memaksanya mencari kombinasi terbaik dengan sumber daya yang ada.
Fokus utama Kluivert diyakini pada keseimbangan pertahanan, transisi cepat, serta disiplin organisasi permainan.
“Tim harus tetap kompetitif meski tanpa beberapa pemain penting. Setiap pertandingan adalah kesempatan untuk membangun fondasi yang lebih kuat,” ungkap Kluivert dalam konferensi pers terbarunya.
Absennya Paes dan sejumlah pilar lain membuka pintu bagi para pemain muda untuk unjuk kemampuan.
Kluivert tampaknya ingin memberi menit bermain lebih banyak kepada talenta yang selama ini jarang mendapat kesempatan.
Bagi Indonesia, ini bisa menjadi investasi jangka panjang.
Sebab, dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2026, Garuda tidak boleh bergantung hanya pada satu-dua pemain bintang.
Kedalaman skuad menjadi kunci jika ingin bersaing di level Asia.
Meski kehilangan Maarten Paes terasa berat, Timnas Indonesia tetap punya amunisi di bawah mistar.
Audero, Ernando, dan Nadeo masing-masing memiliki kualitas yang bisa diandalkan.
Laga melawan Kuwait dan Lebanon akan menjadi ujian sekaligus kesempatan emas untuk membuktikan siapa yang pantas jadi penjaga gawang nomor satu Garuda.
Hasil pertandingan mungkin bukan tolok ukur utama. Namun, konsistensi, semangat juang, dan munculnya pemain baru yang mampu tampil tenang akan sangat menentukan arah perjalanan Timnas menuju kualifikasi Piala Dunia 2026.
Editor : Mahendra Aditya