RADAR KUDUS - Anggota Komisi VII DPR RI sekaligus desainer senior, Samuel Wattimena, menilai industri fashion di Jawa Tengah (Jateng) memiliki kreativitas yang baik dan terus berkembang.
Namun menurutnya, pasar yang dibidik masih perlu diperjelas dan dipertajam arahnya.
“Industri fashion di Jateng itu bagus, bukan cuma di Semarang saja. Tapi fokus pasarnya masih perlu diasah,” ujar Samuel di sela acara Semarang’s Luxury Wedding Expo-Renaissance Romance 2025, Minggu (13/7), di Semarang.
Samuel mengimbau para pelaku industri fashion di daerah agar lebih realistis dalam menargetkan pasar lokal.
Yaitu dengan menciptakan koleksi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Ia juga mengkritisi kecenderungan pelaku fesyen dalam mengikuti tren luar negeri tanpa mempertimbangkan nilai-nilai lokal.
Menurutnya, kata "tren" terlalu erat kaitannya dengan industri besar yang mengedepankan produksi cepat dan masif.
“Kalau kita pakai istilah tren, itu sebenarnya berkaitan dengan produksi skala besar. Sementara kita di sini banyak yang masih produksi kecil, bahkan lambat. Jadi, jangan terpaku pada tren dunia,” kata Samuel.
Ia mencontohkan bagaimana Jepang berhasil menciptakan gaya fashion sendiri setelah Prancis dikenal sebagai pusat mode dunia.
Menurut Samuel, Indonesia punya kekuatan besar di ranah fesyen etnik, sehingga tidak perlu minder terhadap tren global.
“Yang penting itu percaya diri. Etnik kita kaya sekali. Angkat itu sebagai kekuatan utama,” tambahnya.
Dalam pameran tersebut, Samuel turut mempersembahkan delapan koleksi busana bertema “Hoax & Seven Sins”.
Koleksi ini menggunakan kain sisa, tekstur kasar, dan pola yang bertabrakan, mencerminkan kondisi sosial saat ini yang dipenuhi perpecahan, ketidakpercayaan, dan keterputusan dari akar budaya.
“Ini adalah refleksi dari kondisi masyarakat sekarang. Baju-bajunya 80 persen dibuat dari pakaian bekas yang saya olah kembali,” jelasnya.
Melalui karyanya, Samuel ingin menyampaikan pesan bahwa hal-hal yang dianggap remeh seperti limbah tekstil pun bisa dimaknai dan dihidupkan kembali, bahkan menyadarkan masyarakat akan pentingnya kejujuran dan rasa syukur.
“Karya ini bukan hanya soal busana. Ini lahir dari keresahan terhadap politik yang tak jelas arah, budaya yang hanya jadi hiasan untuk wisata, dan agama yang kehilangan makna," ujarnya.
"Ketika batik desa dipadukan dengan denim urban, itu bukan sekadar gaya. Itu simbol bahwa lokalitas kita masih hidup dan tetap bisa berdialog tanpa kehilangan jati diri,” tutupnya. (Kholissofiyana)
Editor : Ali Mustofa