RADAR KUDUS – Di balik gemerlap panggung Olimpiade Sains Nasional (OSN), ada fakta menarik yang jarang disorot: bentuk penghargaan yang diterima para juara di level kabupaten/kota (OSN-K).
Bagi ribuan siswa yang lolos seleksi tingkat sekolah (OSN-S), ajang ini bukan hanya menjadi batu loncatan menuju provinsi dan nasional, tetapi juga membawa pulang hadiah yang tak sedikit—dengan satu bentuk apresiasi yang wajib hukumnya: sertifikat.
Ya, sertifikat OSN-K adalah hak setiap pemenang, dan ini ditetapkan langsung oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Baca Juga: Bersiaplah! Inilah Jadwal Lengkap OSN SMP 2025, Dari Sekolah Hingga Nasional
Namun, di luar itu, penghargaan lain seperti trofi, uang pembinaan, bahkan barang apresiasi, ternyata sangat bergantung pada kebijakan daerah masing-masing.
Berdasarkan petunjuk teknis OSN 2025, penghargaan selain sertifikat diserahkan sepenuhnya ke pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
Artinya, jenis dan besaran hadiah bisa berbeda di setiap wilayah. Beberapa daerah memberikan trofi dan piagam dalam bentuk fisik, sementara yang lain memilih e-sertifikat digital.
Namun yang paling menarik perhatian adalah nominal uang pembinaan. Di sejumlah daerah, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.
Contohnya, di OSN-K Yogyakarta tahun 2024 untuk jenjang SD, juara pertama bidang Matematika dan IPA mendapat Rp3 juta. Sementara jenjang SMP di tahun sebelumnya bahkan lebih besar: juara pertama diganjar Rp5 juta.
Bandingkan dengan Kabupaten Bireuen, Aceh, tahun 2023. Di sana, juara pertama OSN-K tingkat SMP hanya mendapat Rp1,5 juta.
Baca Juga: 6.550 Siswa SD Lolos OSN 2025! Tapi 225 Daerah Ini Tak Kirim Wakil, Ada Namamu?
Juara dua dan tiga masing-masing menerima Rp1,2 juta dan Rp1 juta. Variasi ini mencerminkan fleksibilitas anggaran, sekaligus semangat daerah dalam menghargai prestasi anak-anak berbakatnya.
Penghargaan dalam bentuk uang atau trofi sejatinya lebih dari sekadar simbol. Ini adalah bentuk pengakuan nyata yang bisa memotivasi siswa untuk terus berkembang, sekaligus menumbuhkan semangat kompetitif yang sehat.
Oleh karena itu, meski tidak diwajibkan secara nasional, BPTI tetap mendorong daerah untuk memberikan lebih dari sekadar sertifikat.
“Bentuk apresiasi tambahan diharapkan jadi motivasi bagi para peserta, dan ini menjadi indikator bahwa prestasi mereka dihargai dan didukung penuh,” demikian salah satu poin dalam panduan resmi OSN 2025.
Setelah sukses di tingkat kabupaten/kota, siswa-siswa terbaik akan melaju ke ajang OSN Provinsi (OSN-P).
Di tingkat ini, skala hadiah dan pengakuan biasanya lebih tinggi, seiring ketatnya persaingan dan makin terbukanya peluang mewakili daerah ke tingkat nasional.
Dan seperti OSN-K, hadiah OSN-P pun kembali berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi.
Namun yang terpenting, seluruh proses seleksi ini bukan semata-mata soal hadiah. OSN adalah bagian dari misi besar untuk menemukan dan membina talenta-talenta terbaik bangsa dalam bidang sains.
Setiap tahapan adalah proses pembelajaran, dan setiap sertifikat yang didapat adalah tiket menuju peluang yang lebih besar.
Meski hadiah OSN-K tidak seragam di seluruh Indonesia, sertifikat tetap menjadi bentuk penghargaan yang pasti diterima.
Hadiah lain seperti uang pembinaan atau trofi ditentukan oleh daerah masing-masing, dengan nilai yang bisa mencapai jutaan rupiah.
Dukungan ini bukan hanya bentuk apresiasi, tapi juga suntikan semangat bagi generasi muda untuk terus berkarya dalam bidang sains.
Editor : Mahendra Aditya