Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Viral Bocah SD Nangis Minta Sekolah, Open Donasi, Ternyata Settingan Ayahnya Demi Judi Online

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 19 Juni 2025 | 04:01 WIB
Tangis Pelajar di Sulteng Pecah Usai Diminta Berhenti Sekolah oleh Ayahnya
Tangis Pelajar di Sulteng Pecah Usai Diminta Berhenti Sekolah oleh Ayahnya

Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah — Sebuah video yang menampilkan seorang anak kecil menangis memohon agar tak dikeluarkan dari sekolah sempat membuat hati netizen teriris.

Galang Rawadhan (12), bocah SD di Tojo Una-Una, terlihat mengenakan seragam putih-merah, menangis histeris di depan pintu sambil memeluk sang ayah, Rikson Lawadang, yang disebut-sebut lumpuh dan tak mampu lagi membiayai sekolah anaknya.

Video berdurasi 37 detik itu dengan cepat menyebar di media sosial. Ribuan komentar simpati mengalir.

Namun siapa sangka, video yang menguras air mata itu ternyata hanya sandiwara. Bukan kisah nyata, melainkan cerita rekaan demi mengais belas kasihan warganet.

Skenario Tangisan: Bukan Jeritan Hati, Tapi Strategi Klik dan Uang

Kepolisian mengungkap bahwa video viral tersebut hanyalah rekayasa. Bukan karena terpaksa berhenti sekolah, Galang masih aktif bersekolah seperti biasa. Bahkan, menurut informasi dari warga sekitar, anak itu justru dikenal malas belajar dan seharusnya kini sudah duduk di bangku SMP.

“Video itu memang disusun seperti film. Bukan kejadian nyata. Anak itu sebenarnya tidak pernah putus sekolah,” kata Kapolsek Una-Una, AKP Mustarim Abbas, Minggu (15/6/2025).

Lebih lanjut, Mustarim mengungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan. Ternyata ini bukan kali pertama ayah dan anak tersebut membuat konten penuh drama.

Sebelumnya, mereka pernah mengunggah video dengan narasi serupa menjelang Lebaran, meminta bantuan untuk membeli pakaian baru. Bantuan mengalir, namun uang itu justru digunakan untuk berjudi secara online.

Judi Online di Balik Tangis Galang

“Setelah bantuannya cair, dugaan kuat uang itu habis buat deposit judi. Karena dana mulai habis, dibuatlah video baru lagi untuk narik simpati,” ujar Mustarim. Polisi juga menemukan bukti yang memperkuat dugaan keterlibatan Rikson dalam praktik judi daring.

Beberapa warga bahkan mengaku sudah lama curiga terhadap gaya hidup ayah Galang yang tak sejalan dengan narasi kemiskinan yang mereka angkat.

“Orang sekitar sudah tahu. Makanya kami tidak asal bertindak, tapi sekarang sudah ada bukti. Kalau video ini terus dipakai untuk penipuan publik, kami bisa jerat dengan pasal penyalahgunaan bantuan dan penipuan,” tegas Mustarim.

Dari Drama ke Penyelamatan: Galang Kini Diasuh Wakil Ketua DPRD

Di tengah kontroversi ini, sebuah kabar baik datang. Wakil Ketua DPRD Tojo Una-Una, Jafar M Amin, memutuskan untuk mengangkat Galang sebagai anak asuh. Ia menyatakan bahwa pendidikan Galang tetap harus berlanjut, apapun latar belakang keluarganya.

“Saya sudah bertemu langsung, orang tuanya juga sudah menandatangani surat pernyataan penyerahan hak asuh,” kata Jafar, Senin (16/6).

Meski enggan mengomentari lebih jauh soal video settingan atau perjudian yang melibatkan ayah Galang, Jafar menegaskan bahwa anak itu kini menjadi tanggung jawabnya penuh.

“Yang penting Galang tetap bisa sekolah dan masa depannya terjamin,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang ikut membantu, termasuk Kapolres, Bupati, Wakil Bupati, dan Wakil Ketua MPR RI yang turut mendorong solusi terbaik bagi Galang.

Manipulasi Emosi di Era Konten: Perlu Kewaspadaan Publik

Kasus Galang Rawadhan dan ayahnya menjadi pelajaran keras bahwa di era digital, narasi kesedihan bisa saja menjadi alat manipulasi.

Tangisan anak, kelumpuhan orang tua, dan kemiskinan yang dipentaskan dalam video ternyata bisa jadi senjata untuk mengejar uang dan klik.

Di sisi lain, ini juga membuka diskusi tentang bagaimana publik harus lebih jeli menanggapi konten yang beredar. Empati adalah hal baik, tetapi empati tanpa verifikasi bisa menjadi celah bagi penipu digital untuk meraup keuntungan lewat sandiwara kemiskinan.


TAG POPULER:

#DramaViral #HoaksOnline #JudiOnline #KontenManipulatif #TojoUnaUna #BocahSDViral # #VideoSettingan #TangisanBohongan #

Editor : Mahendra Aditya
#Penipuan Publik #judi online #rekayasa video #Donasi Online #Tojo Una Una #Tojo Una-Una #video settingan #Rikson Lawadang #sulawesi tengah #Konten settingan