KUDUS — Situs Patiayam di Kudus dinilai menyimpan jejak penting peradaban kuno Indonesia. Wakil Ketua MPR RI yang juga Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan pentingnya pelestarian kawasan purbakala tersebut sebagai warisan bangsa yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah tinggi.
Penegasan itu ia sampaikan dalam forum diskusi bertajuk "Melestarikan Cagar Budaya, Memperkokoh Kekayaan Bangsa", yang digelar di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jumat (13/6) malam.
“Situs Patiayam menyimpan jejak peradaban purba yang luar biasa. Ini warisan yang harus kita ungkap dan lestarikan agar dunia tahu kekayaan yang kita miliki,” ujar Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, di hadapan peserta diskusi.
Rerie mengapresiasi keterlibatan Universitas Indonesia (UI) yang secara konsisten mengirim tim arkeologi untuk mengeksplorasi situs tersebut. Ia menyebut, kegiatan penggalian yang dilakukan tahun ini merupakan kelanjutan dari upaya yang dimulai pada tahun sebelumnya, bersama Center for Prehistoric and Austronesian Studies (CPAS), BRIN, serta para relawan.
Dalam ekskavasi sebelumnya, tim menemukan sebagian fosil gajah purba jenis Elephas. Tahun ini, proses penggalian dilanjutkan bersamaan dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Arkeologi UI.
Penggaliann ada dua titik. Titik pertama dilakukan oleh tim CPAS dan titik kedua yang dilaksanakan mahasiswa KKL Arkeolog UI. Jarak keduanya 500 meter.
“Penggalian ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmiah, tapi juga menjadi pengingat bahwa Kudus punya potensi sejarah luar biasa yang belum banyak diketahui,” tambah politisi dari Partai NasDem tersebut.
Rerie menekankan, pelestarian situs purbakala seperti Patiayam bukan hanya menjadi tanggung jawab para arkeolog atau akademisi. Ia mendorong keterlibatan semua pihak — mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal — agar pelestarian situs ini berkelanjutan. Selain menjadi pusat riset dan edukasi, Patiayam juga dinilai berpotensi menjadi destinasi wisata budaya.
Dalam kegiatan penggalian tahun ini, sebanyak 70 mahasiswa Arkeologi UI mengikuti KKL dengan pendampingan lima dosen dan sepuluh mahasiswa senior.
Salah satu peserta, Vivi Luthfina, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum wajib. Para mahasiswa tiba di Kudus pada Selasa (10/6) malam, dilanjutkan survei lapangan keesokan harinya. Pada Kamis (12/6), dilakukan pemetaan lokasi, sedangkan Jumat (13/6) menjadi hari pertama penggalian.
“Tahun ini kami fokus meneliti tulang-tulang Elephas untuk memastikan data temuan. Hari ini sudah mulai penggalian di split 1 dan kegiatan berlangsung setiap hari,” jelas Vivi.
Rerie berharap, dengan sinergi berbagai pihak, riset dan pelestarian situs Patiayam dapat terus berlanjut, membawa manfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat sekitar.
Editor : Zainal Abidin RK