Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rerie: Patiayam Warisan Peradaban yang Harus Dilestarikan

Zainal Abidin RK • Minggu, 15 Juni 2025 | 19:54 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat hadir dan memaparkan materi dalam diskusi
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat hadir dan memaparkan materi dalam diskusi

KUDUS — Situs Patiayam di Kudus dinilai menyimpan jejak penting peradaban kuno Indonesia. Wakil Ketua MPR RI yang juga Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan pentingnya pelestarian kawasan purbakala tersebut sebagai warisan bangsa yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah tinggi.

Penegasan itu ia sampaikan dalam forum diskusi bertajuk "Melestarikan Cagar Budaya, Memperkokoh Kekayaan Bangsa", yang digelar di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jumat (13/6) malam.

“Situs Patiayam menyimpan jejak peradaban purba yang luar biasa. Ini warisan yang harus kita ungkap dan lestarikan agar dunia tahu kekayaan yang kita miliki,” ujar Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, di hadapan peserta diskusi.

Mahasiswa KKL dari Universitas Indonesia meminta tanda tangan buku Ilmiah Populer Patiayam kepada Lestari Moerdijat
Mahasiswa KKL dari Universitas Indonesia meminta tanda tangan buku Ilmiah Populer Patiayam kepada Lestari Moerdijat

Rerie mengapresiasi keterlibatan Universitas Indonesia (UI) yang secara konsisten mengirim tim arkeologi untuk mengeksplorasi situs tersebut. Ia menyebut, kegiatan penggalian yang dilakukan tahun ini merupakan kelanjutan dari upaya yang dimulai pada tahun sebelumnya, bersama Center for Prehistoric and Austronesian Studies (CPAS), BRIN, serta para relawan.

Dalam ekskavasi sebelumnya, tim menemukan sebagian fosil gajah purba jenis Elephas. Tahun ini, proses penggalian dilanjutkan bersamaan dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Arkeologi UI.

Penggaliann ada dua titik. Titik pertama dilakukan oleh tim CPAS dan titik kedua yang dilaksanakan mahasiswa KKL Arkeolog UI. Jarak keduanya 500 meter.

“Penggalian ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmiah, tapi juga menjadi pengingat bahwa Kudus punya potensi sejarah luar biasa yang belum banyak diketahui,” tambah politisi dari Partai NasDem tersebut.

Rerie menekankan, pelestarian situs purbakala seperti Patiayam bukan hanya menjadi tanggung jawab para arkeolog atau akademisi. Ia mendorong keterlibatan semua pihak — mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal — agar pelestarian situs ini berkelanjutan. Selain menjadi pusat riset dan edukasi, Patiayam juga dinilai berpotensi menjadi destinasi wisata budaya.

Dalam kegiatan penggalian tahun ini, sebanyak 70 mahasiswa Arkeologi UI mengikuti KKL dengan pendampingan lima dosen dan sepuluh mahasiswa senior.

Salah satu peserta, Vivi Luthfina, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum wajib. Para mahasiswa tiba di Kudus pada Selasa (10/6) malam, dilanjutkan survei lapangan keesokan harinya. Pada Kamis (12/6), dilakukan pemetaan lokasi, sedangkan Jumat (13/6) menjadi hari pertama penggalian.

“Tahun ini kami fokus meneliti tulang-tulang Elephas untuk memastikan data temuan. Hari ini sudah mulai penggalian di split 1 dan kegiatan berlangsung setiap hari,” jelas Vivi.

Rerie berharap, dengan sinergi berbagai pihak, riset dan pelestarian situs Patiayam dapat terus berlanjut, membawa manfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat sekitar.

 

Editor : Zainal Abidin RK
#kudus terkini #patiayam #Lestari Moerdijat #MPR RI #situs patiayam #arkeologi #ui #universitas indonesia