RADAR KUDUS - Pertandingan terakhir babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi mimpi buruk bagi Timnas Indonesia.
Melawan Jepang di kandang lawan, skuat Merah Putih harus menelan kekalahan telak 6-0. Ironisnya, Jepang bahkan tak menurunkan skuat utamanya.
Bek FC Twente, Mees Hilgers, tampil penuh selama 90 menit namun tak mampu menahan gempuran Samurai Biru yang tampil seperti tanpa ampun.
Dihajar Tim Cadangan Jepang, Indonesia Kewalahan Sejak Awal
Laga ini seolah menjadi bukti nyata bahwa jurang antara sepak bola Indonesia dan Jepang masih sangat dalam.
Jepang, yang sudah mengamankan tiket ke putaran utama Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menurunkan tim lapis kedua. Bahkan striker andalan mereka, Ayase Ueda dari Feyenoord, diistirahatkan.
Meski begitu, Jepang tetap tampil dominan sejak peluit awal dibunyikan. Baru 20 menit berlalu, papan skor sudah menunjukkan keunggulan 2-0 bagi tuan rumah.
Gol pertama dicetak Daichi Kamada, setelah menerima assist dari debutan Mito, penyerang muda Sparta Rotterdam. Hanya berselang beberapa menit, Takefusa Kubo menggandakan keunggulan.
Timnas Indonesia tampak tak mampu keluar dari tekanan. Belum sempat bernapas, Kamada kembali mencetak gol ketiganya tepat sebelum babak pertama usai.
Skor 3-0 di paruh pertama membuat laga semakin berat untuk pasukan Patrick Kluivert.
Baca Juga: Andai Kalahkan Jepang, Timnas Indonesia Bisa Tembus Ranking FIFA 110 Dunia! Ini Hitung-Hitungannya
Mees Hilgers Main Penuh, Tapi Tak Mampu Selamatkan Garuda
Mees Hilgers, salah satu pemain keturunan yang kini memperkuat Garuda, dipercaya sebagai starter di lini belakang.
Meski tampil penuh, Hilgers tampak kewalahan menghadapi pergerakan cepat pemain Jepang. Tak ada koordinasi yang rapi di lini belakang, dan tekanan bertubi-tubi membuat lini pertahanan Indonesia kehilangan arah.
Di babak kedua, penderitaan semakin menjadi. Ryoya Morishita, Shuto Machino, dan Mao Hosoya menambah tiga gol tambahan. Skor akhir 6-0 menjadi hasil paling memalukan bagi Indonesia di kualifikasi kali ini.
Yang lebih menyakitkan, Indonesia tak mencatat satu pun tembakan ke arah gawang sepanjang 90 menit.
Tidak ada kreativitas di lini tengah, dan lini depan nyaris tak menyentuh bola berbahaya. Ini bukan hanya soal kalah, tapi soal bagaimana kalah dengan tanpa perlawanan.
Sudah Lolos, Tapi Apa Harganya?
Meski dibantai habis-habisan, Indonesia sudah dipastikan lolos ke babak keempat kualifikasi. Hasil buruk ini tak menggugurkan peluang mereka, karena aturan memungkinkan tim peringkat bawah tetap melaju melalui babak penyisihan tambahan antar tim posisi tiga dan empat.
Namun pertanyaannya: apa arti kelolosan jika performanya seperti ini?
Kekalahan ini seharusnya menjadi alarm keras bagi PSSI, Kluivert, dan seluruh jajaran pelatih. Tidak cukup hanya mengandalkan nama-nama pemain diaspora atau naturalisasi.
Diperlukan kerangka permainan, disiplin taktik, dan mental bertanding yang jauh lebih kuat untuk bersaing di level Asia, apalagi dunia.
Baca Juga: Dibantai Jepang 6-0, Ranking FIFA Indonesia Tetap Naik! Lho Kok Bisa?
Saatnya Evaluasi Total Sebelum Laga Penentuan Berikutnya
Hasil undian babak keempat akan diumumkan pada 17 Juli mendatang. Artinya, waktu evaluasi sangat terbatas. Pelatih Patrick Kluivert punya PR besar untuk membangun ulang kepercayaan diri dan soliditas timnya.
Laga melawan Jepang ini harus menjadi cermin: jika ingin mimpi tampil di Piala Dunia 2026 jadi kenyataan, maka Indonesia wajib memperbaiki segalanya. Mulai dari pertahanan, transisi antar lini, hingga mentalitas saat menghadapi tekanan besar.
Editor : Mahendra Aditya