Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Malam Jumat Kliwon di Satu Suro 2025, Gunung Lawu Jadi Rujukan Tempat Ritual Sakral?

Muhammad Agung Prayoga • Sabtu, 7 Juni 2025 | 16:53 WIB
Foto: Gunung Lawu/Jawa Pos Radar Magetan
Foto: Gunung Lawu/Jawa Pos Radar Magetan

RADAR KUDUS -- Pergantian tahun Jawa atau malam satu Suro konon dianggap mistis oleh berbagai kalangan.

Efek magis sampai dipenuhi malapetaka dipercaya oleh banyak orang, sehingga orang Jawa dianjurkan memperbanyak berdoa supaya diberi keselamatan oleh Tuhan yang Maha Esa.

Namun di tahun 2025 ini berbeda, bukan sekadar malam satu Suro seperti yang sebelum-sebelumnya, sebab berbarengan dengan weton malam Jumat Kliwon.

 

Menurut berbagai pihak, hari itu dirumorkan begitu tipis dinding antara dua dimensi -nyata dan gaib. Komunikasi manusia dengan alam gaib begitu lancar.

Berangkat dari hal itu, sejumlah masyarakat kerap melaksanakan ritual, salah satunya di Gunung Lawu.

Terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, gunung ini terkenal angker, tapi istimewa dan populer bagi masyarakat yang hobi menekuni dunia spiritual alam gaib.

Mari kita telusuri lebih dalam tentang tradisi ini dan bagaimana gunung Lawu memainkan peran penting dalam ritual malam Satu Suro.

 

Tradisi dan Pesona Gunung Lawu

Gunung Lawu dianggap sebagai tempat yang sakral oleh banyak masyarakat Jawa. Setiap malam Satu Suro, banyak peziarah yang mendaki gunung ini untuk melakukan berbagai ritual spiritual.

Tradisi naik gunung pada malam Satu Suro bukan hanya tentang mendaki secara fisik, tetapi juga tentang pendakian spiritual.

Banyak pendaki yang menganggap perjalanan ini sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan untuk melakukan refleksi diri yang mendalam.

Gunung Lawu sendiri adalah tempat yang sarat akan legenda dan mitos.

Dalam sejarah Jawa, Gunung Lawu sering dikaitkan dengan kisah-kisah mistis dan spiritual.

 

Salah satu cerita yang terkenal adalah legenda Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang dikatakan menghilang secara misterius di Gunung Lawu.

Banyak yang percaya bahwa jiwa Prabu Brawijaya V masih menjaga gunung ini, dan pendakian pada malam Satu Suro adalah cara untuk menghormati arwah leluhur yang diyakini bersemayam di sana.

Setibanya di puncak Gunung Lawu, para peziarah biasanya melakukan berbagai ritual.

Mereka berdoa, bermeditasi, atau bahkan melakukan 'kungkum' di mata air yang ada di sekitar gunung untuk membersihkan diri secara spiritual.

Menukil "Serat Kalatidha", ritual kungkum atau berendam dalam air ini menekankan pentingnya keseimbangan antara dunia material dan spiritual.

Rahasia Jumat Kliwon

Malam Jumat dikenal dalam tradisi Islam sebagai malam yang penuh berkah dan doa, sedangkan hari Kliwon dalam pasaran Jawa sering dianggap sebagai waktu di mana batas antara dunia nyata dan gaib menjadi lebih tipis.

Literatur Jawa kuno seperti "Serat Centhini" dan "Serat Wedhatama" mengungkap terdapat malam-malam tertentu untuk ritual dan meditasi, seperti halnya dengan malam Jumat Kliwon.

Misteri yang melingkupi malam ini seringkali terkait dengan kepercayaan bahwa pintu-pintu alam gaib lebih mudah diakses.

Banyak orang yang percaya bahwa ini adalah malam yang tepat untuk berkomunikasi dengan leluhur atau mencari petunjuk spiritual.

Tidak heran, apabila beberapa juga membawa sesajen sebagai bentuk persembahan kepada leluhur dan penjaga gunung.

Ritual ini dianggap membantu memurnikan jiwa dan membawa keberkahan bagi para peserta.

 

Solidaritas

Tradisi naik gunung ini juga memperkuat rasa kebersamaan di antara para peziarah.

Dalam perjalanan menuju puncak, mereka saling membantu dan mendukung satu sama lain, memperkuat ikatan sosial dan spiritual.

Kebersamaan ini mencerminkan filosofi Jawa tentang pentingnya gotong royong dan harmoni dalam komunitas.

Mendaki Gunung Lawu pada malam Satu Suro bukanlah tugas yang mudah. Persiapan fisik dan mental sangat diperlukan.

Pendaki harus siap menghadapi cuaca yang dingin dan medan yang menantang. Namun, bagi banyak orang, tantangan ini adalah bagian dari proses spiritual yang membantu mereka menguji ketahanan dan komitmen personal.

Kehidupan Spiritual

Bagi mereka yang mendaki Gunung Lawu pada malam Satu Suro, pengalaman ini sering kali meninggalkan kesan yang mendalam.

Banyak yang kembali dengan perasaan lebih damai dan terhubung secara spiritual, merasa telah membersihkan diri dari beban emosional dan mental.

Ini adalah momen untuk memulai tahun baru Jawa dengan hati yang lebih ringan dan pikiran yang lebih jernih.

Apalagi, jika dimensi manusia dengan makhluk gaib begitu tipis -Malam satu Suro di Jumat Kliwon, interaksi kedua ciptaan Tuhan yang Maha Esa ini kian intim.

Entah niat melestarikan tradisi kejawen, sekadar silaturahmi, atau bahkan transaksional, semua ditanggung sendiri, wallahualam.

Editor : Ali Mustofa
#gunung lawu #malam jumat kliwon #tahun baru #mistis #tradisi #satu suro