RADAR KUDUS - Papua Tengah kembali diguncang kabar mengejutkan. Setelah insiden pelarian 19 narapidana dari Lapas Kelas II B Nabire, fakta mengerikan terkuak dari balik jeruji besi.
Bukan sekadar kabur, para napi diduga telah lama mempersiapkan aksi ini dengan menyimpan senjata tajam, alat komunikasi, hingga besi-besi yang dimodifikasi.
Operasi penggeledahan yang dilakukan Polres Nabire pada Selasa malam (3/6) mengungkap sisi gelap yang selama ini tersembunyi di dalam penjara.
Dipimpin langsung oleh Kapolres Nabire, AKBP Samuel Tariratu, razia dilakukan di sejumlah blok tahanan, termasuk sel yang ditinggalkan para napi yang melarikan diri.
Hasilnya mengejutkan: puluhan senjata tajam seperti parang, potongan besi runcing, hingga belasan ponsel ditemukan dalam sel tahanan.
"Kami temukan barang-barang berbahaya yang tidak semestinya ada di dalam lapas, termasuk alat yang diduga digunakan saat pelarian," ungkap AKBP Samuel.
Pelarian Terencana: Napi Serang Petugas dengan Parang
Aksi pelarian ini tidak bisa disebut spontan. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, narapidana yang kabur melancarkan serangan brutal terhadap petugas menggunakan senjata tajam yang telah mereka simpan.
Beberapa petugas mengalami luka dalam peristiwa itu. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa insiden tersebut merupakan aksi terorganisir.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Lepas 10 Pemain Sekaligus Jelang Liga 1 2025, Siapa Saja yang Tersingkir?
Lebih mengejutkan lagi, dari 19 napi yang berhasil kabur, 11 di antaranya diketahui merupakan anggota aktif Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dari wilayah konflik seperti Puncak Jaya, Paniai, dan Puncak.
Keterlibatan mereka menambah kompleksitas persoalan keamanan di wilayah Papua Tengah.
Brigjen Pol Faizal Rahmadani, Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, mengonfirmasi bahwa mereka yang melarikan diri bukan napi biasa.
"Sebelas di antaranya adalah bagian dari jaringan KKB. Ini bukan pelarian sembarangan, ini sudah dirancang," katanya.
Lapas Bocor: Bagaimana Senjata dan Ponsel Bisa Masuk?
Temuan senjata tajam dan ponsel dalam jumlah banyak menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana benda-benda terlarang tersebut bisa masuk ke dalam penjara?
Publik kini menyoroti lemahnya pengawasan di lapas serta potensi adanya oknum internal yang bermain mata. Dugaan adanya penyelundupan barang melalui pengunjung maupun petugas nakal mencuat.
Apalagi, ponsel kerap menjadi alat komunikasi utama bagi napi untuk berkoordinasi dengan jaringan di luar penjara, termasuk untuk merencanakan pelarian.
"Ini jadi evaluasi menyeluruh, bagaimana kontrol internal lapas bisa kecolongan hingga sebanyak itu," ujar seorang pengamat hukum pidana Papua yang enggan disebutkan namanya.
Ancaman Keamanan Papua Meningkat
Kaburnya napi, terutama dari jaringan KKB, menjadi alarm bahaya bagi stabilitas keamanan Papua Tengah. Aksi pelarian ini tidak hanya mencoreng wajah sistem pemasyarakatan, tetapi juga memperlihatkan betapa rapuhnya pertahanan institusi di daerah konflik.
Aparat kini berpacu dengan waktu untuk menangkap kembali para napi yang kabur. Selain menggelar razia di lapas, pengejaran besar-besaran dilakukan oleh tim gabungan TNI-Polri.
Pihak kepolisian juga tengah menyelidiki kemungkinan adanya jaringan pendukung di luar penjara yang membantu pelarian.
Ketika Penjara Tak Lagi Aman
Kejadian ini menjadi pukulan keras bagi sistem peradilan pidana di Indonesia, khususnya di wilayah Papua yang rentan konflik. Bagaimana bisa sebuah lapas menyimpan senjata tajam dan ponsel dalam jumlah besar tanpa terdeteksi?
Razia yang dilakukan pasca pelarian menjadi bukti nyata bahwa penjara bukan lagi tempat aman untuk menahan para pelaku kejahatan berat.
Diperlukan evaluasi menyeluruh, tidak hanya dari sisi pengawasan fisik, tetapi juga dari integritas aparat yang terlibat di dalamnya.
Jika tidak segera dibenahi, bukan tak mungkin peristiwa serupa akan terulang kembali—dan dengan skala yang lebih besar dan lebih berbahaya.
Editor : Mahendra Aditya