Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Beredar Isu Persikas Dijual ke Palembang, Suporter Mengamuk! Dedi Mulyadi Murka Diserbu Saat Acara Rakyat

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 1 Juni 2025 | 04:21 WIB

 

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat ditemui aliansi supporter Persikas (Foto : tangkapan layar unggahan Instagram Dedi Mulyadi, @dedimulyadi71)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat ditemui aliansi supporter Persikas (Foto : tangkapan layar unggahan Instagram Dedi Mulyadi, @dedimulyadi71)

RADAR KUDUS - Persikas Subang, klub kebanggaan warga Kabupaten Subang, tengah diguncang rumor yang membuat publik geram: kabarnya akan dijual dan dipindah markas ke luar daerah.

Isu tersebut menyulut aksi protes dari suporter fanatik mereka yang memilih turun ke jalan—bahkan menghadang langsung Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam acara resmi.

Aksi tersebut terjadi saat Dedi Mulyadi tengah menggelar kegiatan bertajuk “Nganjang Ka Rakyat” di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Subang pada Rabu malam (28 Mei 2025).

Tanpa diduga, sekelompok suporter Persikas datang membawa spanduk bertuliskan “Selamatkan Persikas” dan meneriakkan yel-yel yang mengguncang suasana.

Bukannya mendapat respons simpatik, aksi ini justru memicu kemarahan sang gubernur. Dedi naik pitam, menyebut forum itu bukan tempat untuk urusan sepak bola.

"Ini forum rakyat, bukan tempat kalian cari sensasi soal klub. Mikir kamu!" teriaknya, yang terekam dalam video dan viral di media sosial.


Isu Panas: Benarkah Persikas Akan Dijual?

Rumor tentang penjualan klub berlogo Singa ini pertama kali muncul di media sosial, menyebar cepat lewat akun Instagram Berita Liga Indonesia.

Dalam unggahan yang menyayat hati para fans, disebutkan bahwa Persikas akan diubah menjadi "Sumsel United" dan bermarkas di Palembang.

Tak hanya berpindah kota, klub ini juga dikabarkan akan jadi rival baru Sriwijaya FC di Sumatera Selatan.

Meski belum ada pengumuman resmi, kekhawatiran suporter bukan tanpa dasar. Ketua Umum Persikas Subang, Ahmad Bukhori, memberikan keterangan singkat soal situasi tersebut. "Belum final, masih tahap penjajakan kemitraan," ucapnya singkat.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang, juga menegaskan bahwa proses akuisisi belum sampai 100 persen. "Belum akuisisi, tapi penjajakan memang sedang berjalan," ujarnya.


Butuh Dana Rp13 Miliar, Ancaman Finansial Membayangi

Latar belakang isu ini pun mengarah ke masalah klasik: keuangan. Untuk bisa bersaing di Liga 2 musim 2025/2026, manajemen Persikas membutuhkan dana segar sekitar Rp13 miliar—naik dari musim lalu yang hanya Rp10 miliar.

Hal ini diungkapkan oleh salah satu pengurus Persikas, Dadang Kurnianudin. "Kami butuh dana besar untuk memenuhi standar Liga 2 yang semakin ketat. Sponsor juga selektif melihat tim mana yang layak didukung," jelasnya.

Belum lagi kewajiban lisensi klub profesional yang mulai diberlakukan musim depan, menambah beban operasional dan menuntut struktur manajemen yang jauh lebih tertib dan modern.


Antara Cinta Suporter dan Realita Bisnis

Dilema yang dihadapi Persikas Subang mencerminkan fenomena yang kini marak di sepak bola Indonesia: klub-klub kecil kesulitan finansial dan terpaksa berpikir rasional meski harus mengorbankan identitas lokal.

Di sisi lain, suporter tak ingin klub mereka lepas dari akar budaya daerah. Bagi warga Subang, Persikas bukan sekadar tim bola—ia simbol identitas, harga diri, dan kebanggaan kolektif. Maka tak heran jika aksi demo suporter kemarin berlangsung emosional.

Namun kemarahan Dedi Mulyadi memunculkan pertanyaan baru: apakah suara rakyat kecil, bahkan dalam bentuk dukungan terhadap klub sepak bola daerah, tidak layak mendapat ruang? Terlebih dalam forum yang katanya untuk rakyat?


Bola Kini di Tangan Pengurus dan Pemda

Dengan belum adanya keputusan final, masa depan Persikas kini tergantung pada transparansi pengurus klub dan sikap pemerintah daerah.

Apakah klub akan tetap berpijak di tanah kelahirannya, atau terpaksa hijrah demi kelangsungan hidup, masih menjadi teka-teki.

Yang pasti, gelombang kekecewaan publik telah muncul. Mereka tak sekadar menolak penjualan klub, tapi juga menuntut agar sepak bola lokal dihargai, dibina, dan dilindungi dari tekanan pasar dan akuisisi asing.

Editor : Mahendra Aditya
#Dedi Mulyadi #Persikas #kang dedi mulyadi #KANG DEDI MULYADI CHANNEL #Persikas Subang dijual #Kang Dedi Mulyadi KDM #KDM Lain Bapa Aing #persikas dijual #KDM