Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sosok Ustazah Viral Shuniyya Ruhama: Viral Dituduh Transgender, Benarkah Dulu Bernama Eko? Lulusan Cumlaude UGM Jadi Sorotan!

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 1 Juni 2025 | 02:32 WIB
Sosok Shuniyya Ruhama
Sosok Shuniyya Ruhama

RADAR KUDUS - Nama Shuniyya Ruhama mendadak jadi pusat perhatian publik. Sosok yang selama ini dikenal sebagai ustazah muda inspiratif kini diterpa isu sensasional: disebut-sebut sebagai transgender dengan identitas masa lalu bernama Eko.

Perdebatan sengit pun pecah di media sosial, menyoroti latar belakangnya, kiprahnya sebagai penceramah, hingga rekam jejak akademiknya yang ternyata tak biasa—lulusan cumlaude Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sosok Ustazah yang Mencuri Perhatian, Kini Jadi Target Tuduhan

Video dakwah Shuniyya yang menyebar luas di media sosial awalnya mengundang decak kagum. Dengan pembawaan tenang dan tutur kata santun, ia tampak begitu meyakinkan dalam menyampaikan materi keislaman.

Namun, angin berubah kencang ketika akun Twitter @gasmedsos pada 30 Mei 2025 melontarkan tudingan tajam: menyebut Shuniyya Ruhama sebagai “waria berkedok ustazah.”

Dalam unggahan itu, disebutkan bahwa nama asli Shuniyya adalah Eko, seorang pria yang kini hidup sebagai perempuan dan tampil sebagai pendakwah.

Narasi ini segera menjadi viral, memicu kontroversi dan diskusi panjang di berbagai platform media sosial.

Tudingan Disertai Bukti? Jejak Digital dan Tangkapan Layar Muncul

Tak lama setelah tudingan itu beredar, muncul tangkapan layar dari akun Twitter lain, @cheetahspk1, yang menyertakan potongan data pribadi yang diklaim berasal dari Shuniyya Ruhama.

Tertulis bahwa ia lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 22 Maret 1982 dan memiliki nama lengkap Shuniyya Ruhama Habiballah.

Yang mengejutkan, dalam dokumen tersebut tercantum riwayat pendidikannya di Jurusan Sosiologi, FISIPOL UGM, dan bahkan disebut lulus cumlaude dengan IPK 3,56 pada tahun 2024.

Tidak hanya berprestasi secara akademik, Shuniyya juga diketahui aktif dalam berbagai organisasi kampus.

Netizen Terbelah: Simpati, Cibiran, dan Pertanyaan Etis

Viralnya nama Shuniyya langsung menarik lebih dari 450 ribu penayangan di X (Twitter), dengan ratusan komentar bermunculan.

Sebagian warganet tampak mengecam, tetapi tidak sedikit pula yang mempertanyakan mengapa masyarakat bisa memberi panggung pada figur yang diduga menyembunyikan identitas masa lalunya.

Komentar sinis bermunculan seperti, “Lah, emang dari dulu doi bencong,” hingga nada sarkastik lainnya tentang suaranya yang dinilai terlalu “perempuan.”

Namun di sisi lain, ada suara netral dan kritis terhadap fenomena sosial ini. “Gak bisa cuma nyalahin dia aja. Harusnya dilihat juga kenapa dia bisa sampai ada di posisi itu,” tulis akun @solusiskripsi.

Simbol Kebingungan Zaman atau Refleksi Toleransi?

Kasus Shuniyya membuka kembali perdebatan lama tentang identitas gender, ruang dakwah, dan batas toleransi masyarakat.

Di satu sisi, sebagian orang menganggap bahwa dunia dakwah harus steril dari mereka yang dianggap “menyimpang” dari norma.

Tapi di sisi lain, ada pula yang melihat bahwa kehadiran Shuniyya mencerminkan kompleksitas zaman, di mana garis antara keimanan dan identitas pribadi tidak selalu bisa dipisahkan secara hitam putih.

Apa pun kebenaran di balik tudingan ini, satu hal yang pasti: media sosial kini punya kekuatan luar biasa untuk mengangkat atau menjatuhkan seseorang dalam sekejap.

Dan di era informasi seperti saat ini, fakta dan opini bercampur menjadi satu arus deras yang sulit dibendung.

Pendidikan Tinggi dan Dakwah: Kombinasi Tak Lazim?

Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti, tak bisa dipungkiri bahwa latar belakang akademis Shuniyya mencuri perhatian.

Tidak banyak pendakwah yang berasal dari jurusan Sosiologi dan menyandang gelar cumlaude dari universitas sekelas UGM. Ini menjadikan sosoknya unik dan berbeda dari kebanyakan penceramah lainnya.

Banyak yang kemudian bertanya-tanya: apakah prestasi akademiknya bisa menjadi penyeimbang atas kontroversi personalnya? Apakah publik bisa memisahkan antara kualitas dakwah dan masa lalu seseorang?

Antara Kebenaran dan Sensasi

Isu Shuniyya Ruhama menunjukkan betapa cepatnya masyarakat kita mengonsumsi dan merespons informasi—baik yang benar maupun yang belum tentu akurat.

Identitasnya yang diduga transgender dan masa lalunya sebagai "Eko" masih simpang siur, namun reaksi publik sudah terbentuk, bahkan menghakimi.

Kini, semua tergantung pada langkah Shuniyya Ruhama sendiri. Akankah ia buka suara? Atau memilih diam dalam badai? Yang jelas, kisah ini belum berakhir—dan mungkin justru baru dimulai.


Keyword SEO utama: , ustazah transgender, viral di media sosial, lulusan cumlaude UGM, Shuniyya Ruhama Habiballah, , identitas transgender Indonesia.

Editor : Mahendra Aditya
#Profil Shuniyya Ruhama #ustazah viral #Shuniyya Ruhama #Sosok Shuniyya Ruhama