RADAR KUDUS — Derai tanah, jeritan keluarga, dan aroma duka menyelimuti kawasan tambang Gunung Kuda di Desa Cipanas, Kecamatan Dukuhpuntang, Kabupaten Cirebon.
Jumat pagi, 30 Mei 2025, menjadi saksi bisu saat alam kembali menagih tanggung jawab manusia—dengan harga 14 nyawa melayang dan delapan lainnya masih dinyatakan hilang.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun tak menunggu lama. Status Tanggap Darurat Bencana langsung ditetapkan.
Aktivitas penambangan resmi dihentikan, dan perburuan korban pun dibekukan sementara sambil menunggu asesmen keselamatan lanjutan.
“Kami belajar dari kasus longsor di Sumedang, jangan sampai ada korban tambahan karena gegabah,” kata Sekda Jabar, Herman Suryatman, saat meninjau lokasi kejadian.
Namun, di balik respons cepat hari ini, terselip ironi yang sulit ditelan: peringatan sudah disampaikan sejak lama.
Peringatan Diabaikan, Tragedi Tak Terhindarkan
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat, Bambang Tirtoyuliono, mengungkapkan fakta mencengangkan: “Kami sudah mewanti-wanti sejak Februari. Berkali-kali! Bahkan Polres sudah police line lokasi itu sebelum kejadian.”
Namun pengelola tambang disebut “keras kepala”—tetap melanjutkan penambangan meski sudah mendapat teguran keras.
Tambang Galian C itu dianggap menerapkan metode penambangan yang salah kaprah. Harusnya terasering dari atas, bukan menggali dari bawah yang memicu ketidakstabilan lereng.
“Ini kesalahan fatal dalam teknik. Dan sekarang semua menanggung akibatnya,” tegas Bambang.
Proses Evakuasi Dihentikan Sementara, Mitigasi Jadi Prioritas
Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan telah mengevakuasi 14 korban jiwa hingga Jumat sore.
Empat korban luka ringan sudah menjalani perawatan jalan, sementara delapan lainnya masih tertimbun material longsoran.
Namun karena kondisi lokasi rawan longsor susulan, evakuasi dihentikan sementara. Sabtu pagi, tim akan kembali mengevaluasi keamanan sebelum melanjutkan pencarian.
“Kalau area dinyatakan aman, proses pencarian langsung digelar kembali,” jelas Herman.
Sebagai bagian dari strategi penanganan, Dandim setempat ditunjuk sebagai Incident Commander. Dapur umum dan logistik untuk keluarga korban serta tim penyelamat sudah mulai disalurkan.
Tambang Ilegal Dibekukan: Terlambat Tapi Harus Tegas
Pasca kejadian tragis ini, tiga yayasan pengelola tambang dan satu lembaga eksplorasi tambang di Gunung Kuda telah menerima surat penghentian operasi.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dikabarkan akan segera mengeluarkan keputusan resmi untuk penutupan permanen seluruh aktivitas tambang di kawasan tersebut.
Langkah ini dianggap sebagai respons tegas yang—sayangnya—baru muncul setelah nyawa melayang.
Pemerintah berjanji akan memperketat pengawasan tambang rakyat dan mendorong penerapan standar keselamatan kerja dan lingkungan yang lebih ketat.
Pelajaran Pahit dan Desakan Reformasi Tambang
Tragedi Gunung Kuda membuka kembali luka lama sistem pengawasan tambang di Indonesia yang lemah dan penuh celah. Banyak tambang rakyat yang beroperasi tanpa kajian risiko dan hanya mengejar hasil cepat tanpa memikirkan dampak lingkungan.
Kini, publik dan pemerhati lingkungan menuntut audit total terhadap tambang-tambang serupa di Jawa Barat. Tak cukup dengan penutupan sementara—mereka ingin reformasi regulasi.
“Bencana ini bukan sekadar longsor tanah. Ini longsor tanggung jawab,” ujar seorang aktivis lingkungan yang ikut memantau proses evakuasi di lapangan.
Harapan Terakhir: Delapan Nyawa yang Masih Dicari
Sementara itu, keluarga korban masih menggantungkan harapan di bawah tenda darurat. Mata mereka menatap kosong ke arah gunung, berharap keajaiban datang. Mereka tahu, kemungkinan selamat sangat kecil, tapi harapan adalah hal terakhir yang bisa dipertahankan.
Herman menambahkan bahwa santunan untuk keluarga korban telah disiapkan. “Tapi tentu tidak bisa mengganti kehilangan yang mereka alami. Kami hanya bisa memastikan mereka tidak sendirian,” katanya.
Alam Memberi Sinyal, Tapi Kita Sering Menolak Mendengar
Longsor di Gunung Kuda adalah panggilan keras: bahwa mengeksploitasi alam tanpa etika dan keselamatan akan berbalik menjadi bencana.
Dan seperti yang terjadi di Cirebon, korban utamanya bukan hanya para penambang—tapi masyarakat luas yang terpaksa menanggung akibat dari kelalaian bersama.
Editor : Mahendra Aditya