Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Festival Nginguk Githok VII di Rembang Dimeriahkan Barongan hingga Berbagai Tarian

Redaksi Radar Kudus • Sabtu, 17 Mei 2025 | 00:57 WIB

 

MENARIK: Penari tampil dalam acara Festival Nginguk Githok di Sekararum, Sumber
MENARIK: Penari tampil dalam acara Festival Nginguk Githok di Sekararum, Sumber

REMBANG - Festival Nginguk Githok VII digelar lima hari berturut-turut di Sekararum, Sumber. Momen ini menyuguhkan berbagai pertunjukan kesenian.

Acara ini terlaksana mulai 13–18 Mei 2025. Tahun ini, “Gegayuhan” diusung menjadi tema, yang memberikan makna harapan atau cita-cita.

Sehingga dengan Tema ini, warga desa diharapkan bisa membayangkan masa depan kampung mereka melalui pendekatan budaya dan tradisi.

"Gegayuhan diangkat sebagai tema untuk mengajak masyarakat desa membayangkan masa depan kampung mereka," kata Yasin, Project Manager Nginguk Githok VII.

Warga Sekararum bersama SKRM Squad dan Kolektif Hysteria bergotong royong menyukseskan festival. Ada berbagai kesenian yang disuguhkan.

Pertunjukan juga memadukan tradisi lokal dengan sentuhan seni kontemporer.

Warga di sana juga menjadi pelaku budaya melalui sumbangsih ide, tenaga, bahkan halaman rumah untuk dijadikan panggung seni.Pembukaan festival dimulai dengan pameran seni lukis dari seniman lokal dan nasional.

Selain itu, juga ada pertunjukan tari baledolan, stand up comedy, dan penampilan Rebana Nada Dien.

Suasana semarak masih terasa di hari berikutnya. Kelompok seni dari berbagai daerah ikut meramaikan acara.

Seperti Barongan “Pandji Sabda Jagad” dari Blora, hingga Tari Gedruk “Prabu Erlangga” dari Semarang.

Festival Nginguk Githok di Sekararum, Sumber
Festival Nginguk Githok di Sekararum, Sumber

Tak ketinggalan ritual tahlil dan sedekah bumi tetap menjadi inti utama festival.Pada 15/5 kemarin, warga mengarak gunungan hasil bumi ke punden, lalu membagikannya.

Tradisi dilanjutkan dengan tayub dan pementasan Ketoprak “Wahyu Manggolo”. Malam harinya, ditutup dengan pengajian dan prosesi arak-arakan gunungan mengelilingi dusun.

Menurut Yasin, Festival Nginguk Githok tak hanya soal perayaan. Namun sebagai ruang refleksi dan pergerakan budaya dari desa.  

Sekararum diharapkan bisa membuktikan bahwa desa mampu menjadi pusat produksi budaya.

"Dalam era modernisasi, Festival Nginguk Githok menjadi bukti bahwa tradisi tetap hidup. Ia bukan sekadar masa lalu, melainkan lahan subur untuk menumbuhkan masa depan yang berakar pada nilai-nilai lokal," ungkapnya. (Vachri Rinaldy)

Editor : Mahendra Aditya
#Festival Nginguk Githok VII #Sumber rembang #barongan #festival budaya #tradisi