RADAR KUDUS - Sebuah program pendidikan yang tak biasa tengah jadi sorotan di Jawa Barat.
Bukannya duduk manis di ruang kelas, puluhan siswa justru menjalani pendidikan karakter di dalam barak militer.
Program yang semula menuai tanya, kini justru mendapat dukungan penuh dari Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi alias Kak Seto.
Kunjungan langsung dilakukan oleh Kak Seto ke Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Cikole, Bandung Barat.
Lokasi yang biasa digunakan untuk pelatihan militer itu kini menjadi rumah belajar sementara bagi para remaja dalam program “Pendidikan Karakter Panca Waluya”, hasil inisiasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Uniknya, meski latar tempatnya militer, nuansa pendidikan yang dibangun tetap ramah anak.
Didampingi oleh Gubernur Dedi dan sejumlah pejabat dari Dinas Pendidikan Jawa Barat, Kak Seto melihat langsung metode yang digunakan dalam program ini.
Di tengah seragam loreng dan suasana semi militer, ternyata aktivitas belajar justru tetap mengedepankan pendekatan psikologis yang bersahabat dengan dunia anak.
“Banyak yang keliru menilai. Ini bukan indoktrinasi militer. Meski dibalut suasana barak, pendekatannya tetap memakai bahasa anak dan menjunjung tinggi hak-hak mereka,” ujar Kak Seto dalam kunjungannya.
Bukan Pelanggaran, Tapi Solusi?
Kritik memang sempat muncul. Ada kekhawatiran bahwa barak militer bukanlah tempat ideal bagi tumbuh kembang anak.
Namun Kak Seto menegaskan, justru program ini memperlihatkan bentuk perlindungan yang konkret terhadap anak-anak yang bermasalah secara sosial, seperti korban kekerasan di rumah atau mereka yang terjerat pergaulan bebas.
“Yang utama itu bukan lokasinya, tapi bagaimana programnya dijalankan. Di sini anak-anak tetap diperhatikan kesehatannya, dicek kondisi psikologisnya, dan yang paling penting mereka merasa didengar,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Kak Seto juga memuji kolaborasi lintas sektor yang terlibat. Sinergi antara unsur militer, pemerintah daerah, dan tenaga pendidik menurutnya jadi kekuatan utama program ini.
Hasilnya pun tak bisa dianggap remeh. Para peserta pelatihan mengaku lebih nyaman di lingkungan ini dibandingkan di rumah, yang sering kali menjadi sumber stres.
Cerita Mengejutkan dari Para Siswa
Salah satu testimoni yang viral datang dari seorang siswi SMA. Kepada Gubernur Dedi, ia mengaku lebih tenang tinggal di barak karena di rumah kerap melihat orang tuanya bertengkar.
Bahkan ada peserta yang sebelumnya kecanduan minuman keras, kini justru terlihat lebih tertib dan antusias menjalani aktivitas harian.
Mereka diajak membangun kebiasaan positif—bangun pagi, olahraga, makan teratur, dan mengikuti berbagai pelatihan keterampilan dan mental.
Dan semuanya dilakukan tanpa tekanan fisik yang melampaui batas. “Disiplin iya, tapi tetap pakai hati,” kata salah satu pelatih di lokasi.
Program Edukasi Militer untuk ‘Orang Dewasa Nakal’?
Gubernur Dedi Mulyadi sendiri menyebut bahwa program ini tak hanya diperuntukkan bagi siswa. Ia bahkan membuka kemungkinan agar orang dewasa yang melakukan pelanggaran sosial juga bisa ‘disekolahkan’ di barak militer ini sebagai bagian dari rehabilitasi karakter.
“Siapa pun yang menyimpang, selama masih bisa dibina, kita coba bentuk ulang karakternya. Anak-anak lebih dulu jadi prioritas karena mereka fondasi masa depan,” ujar Dedi.
Model Pendidikan Baru atau Eksperimen Berani?
Program “Panca Waluya” ini memang tidak umum. Tapi dalam situasi pendidikan konvensional yang kerap gagal menjangkau anak-anak yang dianggap "bermasalah", pendekatan semacam ini bisa menjadi terobosan.
Disiplin militer berpadu dengan sentuhan psikologis—dua hal yang selama ini jarang bertemu dalam satu sistem pendidikan.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Sekda Jabar Herman Suryatman dan Ai Nurhasan dari Dinas Pendidikan, menyatakan optimisme bahwa pendekatan ini bisa menjadi model nasional jika terbukti efektif.
“Ini bukan tempat untuk menghukum, tapi untuk membentuk. Kita butuh cara-cara baru untuk menyelamatkan generasi muda dari krisis karakter,” kata Ai.
Pendidikan Tak Lagi Hitam Putih
Apa yang dilakukan Gubernur Dedi Mulyadi bisa saja dianggap kontroversial. Tapi ketika pendekatan konvensional gagal menangani anak-anak dengan latar belakang rumit, terkadang kita butuh solusi yang tidak biasa.
Dengan pengawasan ketat dan pendekatan yang tetap manusiawi, pendidikan di barak militer bisa jadi lebih dari sekadar eksperimen—ia bisa menjadi peluang kedua yang nyata bagi anak-anak yang terpinggirkan.
Editor : Mahendra Aditya