Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kebijakan Dedi Mulyadi Anak Nakal Masuk Barak Militer Tuai Pro dan Kontra, Diadukan ke Presiden Prabowo?

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 8 Mei 2025 | 19:11 WIB

 

Gurbernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat kunjungi barak Resimen 1 Kostrad untuk memantau anak nakal yang dimasukkan barak militer
Gurbernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat kunjungi barak Resimen 1 Kostrad untuk memantau anak nakal yang dimasukkan barak militer

RADAR KUDUS – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali mengguncang wacana pendidikan nasional dengan program kontroversial: anak-anak yang dicap "nakal" akan ditempa dalam barak militer bersama TNI-Polri.

Tujuannya? Membentuk karakter dan menekan kenakalan remaja lewat pendekatan disipliner ketat. Program ini sudah mulai dijalankan di Purwakarta dan Bandung, dengan 30 anak di setiap lokasi.

Tapi langkah Dedi ini bukan tanpa kritik. Di balik sorotan kamera dan jargon “pendidikan karakter”, banyak pihak menilai kebijakan ini justru menabrak batas hukum, etika, dan logika pendidikan modern.

Baca Juga: Program Barak Militer Dedi Mulyadi Bikin Geger: Warga Bermasalah Tak Dikirim ke Penjara, Tapi Justru Dapat Pelatihan dan Gaji

“Pendidikan atau Militerisasi?”

Menurut Dedi, program ini menyasar pelajar dari tingkat SMP ke atas, terutama mereka yang dinilai telah melakukan pelanggaran berat dan berasal dari keluarga yang kesulitan mengasuh atau mendidik.

Namun, keputusan untuk memasukkan mereka ke lingkungan barak militer menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini bentuk pembinaan, atau justru pelecehan terhadap hak anak?

“Kami hanya menerima anak-anak yang memang diserahkan langsung oleh orang tua. Kalau tidak ada izin, tidak akan kami terima,” ujar Dedi.

Namun pernyataan ini tidak menenangkan semua pihak. Banyak organisasi, dari LSM perlindungan anak hingga lembaga pendidikan, menilai pendekatan ini mengabaikan prinsip dasar perlindungan anak.

Kang Dedi Mulyadi memantau anak nakal yang dimasukkan barak militer saat kunjungi barak Resimen 1 Kostrad
Kang Dedi Mulyadi memantau anak nakal yang dimasukkan barak militer saat kunjungi barak Resimen 1 Kostrad

Pakar: "Masalahnya Ada di Rumah dan Sekolah, Bukan di Barak"

Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) menjadi salah satu pihak yang lantang menolak.

Direktur Eksekutif PKPA, Keumala Dewi, menegaskan bahwa pendekatan militeristik tidak menyentuh akar persoalan sebenarnya, yaitu kegagalan pola asuh di rumah dan minimnya intervensi berbasis psikologi di sekolah.

“Kita tidak bisa menyelesaikan luka psikologis anak dengan disiplin barak. Itu justru bisa memperparah trauma,” katanya.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyebut bahwa pendekatan edukatif melalui guru BK lebih tepat dibanding pengiriman ke lingkungan militer.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sistem tersendiri dalam menangani siswa bermasalah, yang selama ini telah dijalankan lewat konseling dan pendampingan psikologis.

DPR hingga FSGI: Ada yang Lebih Penting dari Menakuti

Ketua Komisi Pendidikan DPR RI, Hetifah Sjaifudian, juga turut menyuarakan ketidaksepakatannya.

Menurutnya, konsep bela negara yang dijadikan dalih oleh Dedi tidak berarti harus melibatkan pelatihan militer.

Baca Juga: Pendiri Geng Jalanan Ini Ingin Jadi Taruna Akmil, Curhat ke Dedi Mulyadi: “Ayah Hilang, Ibu Tak Bekerja” – Balasan Sang Gubernur Bikin Haru!

“Bela negara itu tentang menumbuhkan semangat cinta tanah air, bukan memaksa anak-anak masuk barak,” ujarnya.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) bahkan menyoroti aspek yang lebih mendasar: gizi dan keamanan anak.

Heru Purnomo dari Dewan Kehormatan FSGI bertanya, “Siapa yang menjamin anak-anak itu makan cukup dan sehat selama diasramakan berbulan-bulan?”

Rawan Tumpang Tindih dan Mengacaukan Kurikulum

Imam Zanatul Haeri dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyatakan kekhawatiran soal dampak kebijakan ini terhadap jalannya kurikulum sekolah.

Menurutnya, pengiriman siswa ke barak tanpa koordinasi dengan sekolah dan guru bisa mengganggu proses belajar dan menimbulkan tumpang tindih kewenangan antara pemerintah daerah dan kementerian pusat.

“Siapa yang menanggung biaya transportasi guru jika harus ke barak? Apakah Pemprov siap tanggung semua logistik itu?” kata Imam.

Baca Juga: Jalan Rusak di Cirebon Jadi Viral, Dedi Mulyadi Tak Tinggal Diam: “Baru Dua Bulan Jadi Gubernur, Udah Disalahin Semua”

YLBHI: Ini Bukan Pembinaan, Tapi Pelanggaran Hukum

Yang paling tajam datang dari YLBHI. Ketua YLBHI, Muhammad Isnur, menyebut keterlibatan aparat bersenjata dalam mendidik anak adalah bentuk kekeliruan besar.

Ia menegaskan bahwa militer bukan instrumen pendidikan, apalagi terhadap anak-anak.

“Ini bertentangan langsung dengan UU Perlindungan Anak dan UU Sistem Peradilan Pidana Anak,” tegas Isnur.

Menurutnya, pendekatan yang terlihat "baik" di permukaan ini justru membuka celah pelanggaran HAM dan memperlihatkan pemahaman yang keliru tentang pendidikan karakter.

Langkah Dedi Mulyadi memindahkan “pendidikan” anak nakal ke barak militer memang terlihat berani, bahkan bisa disebut revolusioner.

Tapi, apakah ini benar-benar solusi atau justru bentuk keputusasaan dalam menangani krisis pendidikan karakter di akar rumput?

Saat banyak pihak menyarankan pendekatan psikologis, edukatif, dan berbasis keluarga, barak militer terasa seperti pilihan paling keras dari semua opsi yang ada—dan bukan yang paling bijak.

Editor : Mahendra Aditya
#Gubernur Dedi Mulyadi juga tegas untuk melakukan pembinaan secara khusus kepada para pelajar nakal #respons Dedi Mulyadi soal kritik jalan rusak #Dedi Mulyadi anak nakal barak militer #Dedi Mulyadi #Dedi Mulyadi bapa tiri #Kang Dedi Mulyadi larang wisuda mahal #Program Barak Militer yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi #kang dedi mulyadi #Dedi Mulyadi bantu anak kurang mampu #kontroversi barak militer siswa #pendidikan karakter anak bermasalah #Gubernur Dedi Mulyadi sindiran #kebijakan Dedi Mulyadi 2025 #militerisasi pendidikan Indonesia #Dedi Mulyadi barak militer #KDM #program rehabilitasi pelajar Dedi Mulyadi #gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi #Dedi Mulyadi spanduk Cirebon #kritik kebijakan Dedi Jabar #pelanggaran HAM anak di Jawa Barat #Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri acara Musyawarah Nasional I Asosiasi Dewan Provinsi Seluruh Indonesia #Dedi Mulyadi beri pekerjaan warga #kebijakan kontroversial Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi #Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ikut andil merayakan euforia kemenangan Tim Sepak Bola kebanggaan warga Jawa Barat