RADAR KUDUS - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kembali mengalami penyesuaian per 1 Mei 2025.
Dua perusahaan besar penyedia energi, BP Indonesia dan PT Pertamina (Persero), resmi menurunkan harga jual beberapa jenis BBM nonsubsidi di seluruh wilayah operasional mereka.
Penurunan ini menjadi angin segar bagi masyarakat di tengah dinamika harga minyak global dan upaya pemerintah menjaga stabilitas daya beli konsumen.
BP Indonesia Turunkan Harga Hingga Rp250 per Liter
Melalui laman resminya, BP Indonesia mengumumkan penurunan harga pada tiga jenis BBM unggulannya.
Jenis BP 92, yang merupakan varian bensin dengan angka oktan 92, kini dibanderol seharga Rp12.600 per liter, turun Rp200 dari harga sebelumnya di bulan April yang mencapai Rp12.800 per liter.
Tak hanya itu, BBM berperforma tinggi BP Ultimate juga mengalami penyesuaian harga. Dari semula Rp13.370 per liter, kini menjadi Rp13.170 per liter, menandai penurunan sebesar Rp200 per liter.
Adapun jenis BBM diesel andalan mereka, BP Ultimate Diesel, turun lebih signifikan, yaitu Rp250 per liter. Harga yang sebelumnya berada di angka Rp14.060 kini menjadi Rp13.810 per liter.
Kebijakan penurunan ini diyakini sebagai respons atas tren penurunan harga minyak mentah dunia serta upaya mempertahankan daya saing pasar BBM ritel di Indonesia, terutama di kawasan perkotaan yang menjadi basis utama konsumen BP.
Baca Juga: 5 Kelebihan Toyota Innova Reborn Bensin, Irit BBM Tanpa Khawatir Boncos
Pertamina Sesuaikan Harga BBM Nonsubsidi di Berbagai Wilayah
Langkah serupa juga diambil oleh PT Pertamina (Persero) dengan melakukan penyesuaian harga untuk jenis BBM nonsubsidi.
Penurunan harga berlaku untuk wilayah Jabodetabek dan sejumlah daerah lainnya, mencakup varian Pertamax Series dan Dex Series.
Di wilayah Jabodetabek, harga Pertamax (RON 92) diturunkan sebesar Rp100 per liter, dari Rp12.500 menjadi Rp12.400. Pertamax Green (RON 95) kini dijual seharga Rp13.150 per liter, dari sebelumnya Rp13.250.
Adapun Pertamax Turbo (RON 98) mencatat penurunan terbesar, yakni Rp500 per liter, dari Rp13.800 menjadi Rp13.300.
Untuk varian diesel, Dexlite (CN 51) kini dijual seharga Rp13.350 per liter atau turun Rp250 dari sebelumnya Rp13.600.
Sedangkan Pertamina Dex (CN 53) mengalami penyesuaian menjadi Rp13.750 per liter, turun Rp150 dari harga sebelumnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Mobil Toyota yang Irit BBM, Tanpa Perlu Sering Mampir SPBU
Harga BBM Subsidi Tetap Stabil
Meski terjadi penurunan harga untuk BBM nonsubsidi, harga BBM bersubsidi tetap tidak mengalami perubahan.
Pertalite yang masuk dalam kategori penugasan masih dibanderol Rp10.000 per liter, sementara Biosolar yang disubsidi pemerintah tetap pada angka Rp6.800 per liter.
Kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi ini dipandang sebagai bagian dari program perlindungan sosial pemerintah bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Langkah ini juga mencerminkan komitmen negara dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mengendalikan inflasi.
Baca Juga: 20 SPBU di Blora Diperiksa Ketat, Waspada Kecurangan Takaran BBM Jelang Mudik Lebaran!
Respons Pasar dan Implikasi Ekonomi
Penurunan harga BBM oleh dua raksasa energi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap sektor transportasi dan logistik yang sangat bergantung pada konsumsi bahan bakar.
Selain itu, sektor industri dan UMKM juga diperkirakan akan merasakan efek lanjutan dari kebijakan ini melalui efisiensi biaya operasional.
Di sisi lain, pengamat energi menilai langkah ini juga merupakan strategi persaingan harga di tengah ketatnya kompetisi pasar BBM nasional, terutama dengan semakin banyaknya perusahaan asing yang masuk ke sektor hilir migas.
Dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia yang masih sulit diprediksi, masyarakat diimbau untuk tetap cermat dalam mengelola konsumsi BBM serta mengikuti informasi resmi dari masing-masing penyedia agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam memenuhi kebutuhan energi sehari-hari. (*)
Editor : Ali Mustofa