Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Hamzah Sulaiman, Bukan Sekedar Ikon Raminten Ternyata Bukan Sembarang Orang

Zakarias Fariury • Kamis, 24 April 2025 | 17:12 WIB
Hamzah Sulaiman atau Raminten
Hamzah Sulaiman atau Raminten

RADAR KUDUS - Kabar duka menyelimuti dunia seni dan kuliner Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hamzah Sulaiman, pendiri restoran ikonik House of Raminten dan tokoh yang melekat dengan citra budaya Jawa, wafat pada Kamis (24/4/2025) dalam usia 75 tahun.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab meninggalnya.

Nama Hamzah Sulaiman tidak hanya dikenal sebagai pengusaha, melainkan juga seniman yang meninggalkan jejak mendalam dalam budaya populer Yogyakarta.

Karakter “Raminten” yang ia ciptakan telah menjadi simbol perpaduan seni, kuliner, dan kearifan lokal yang unik.

Perjalanan Hidup dan Kiprah Budaya

1. Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Hamzah menyandang gelar kehormatan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ia dikenal dengan nama kebesaran Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamiji Nindyo, yang menunjukkan dedikasi dan pengabdiannya terhadap budaya dan adat istiadat Jawa.

Ia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan resmi Keraton.

2. Keturunan Pendiri Grup Mirota

Hamzah merupakan anak bungsu dari pendiri Grup Mirota, sebuah konglomerasi bisnis lokal yang telah berkembang menjadi salah satu jaringan usaha ritel terbesar di Yogyakarta.

Warisan kewirausahaan dari orang tuanya turut menginspirasi langkahnya dalam membangun bisnis mandiri.

3. Seniman Ketoprak yang Melahirkan "Raminten"

Dunia mengenal sosok “Raminten” sebagai karakter perempuan Jawa yang halus, cerdas, dan kerap menyampaikan kritik sosial dengan gaya humor.

Karakter ini pertama kali muncul dalam acara Ketoprak Humor Pengkolan di TVRI, di mana Hamzah berperan sebagai perempuan Jawa lengkap dengan kebaya, jarik, dan konde.

Peran tersebut begitu kuat melekat hingga menjelma menjadi identitas publiknya.

Dari sinilah lahir konsep restoran House of Raminten, yang menggabungkan karakter Raminten dengan pengalaman kuliner dan budaya.

4. Mendirikan House of Raminten

Pada 2008, Hamzah Sulaiman mendirikan House of Raminten, restoran bernuansa Jawa yang menawarkan menu tradisional seperti nasi kucing, jamu, dan berbagai sajian khas lainnya.

Desain interior, pelayanan, hingga pertunjukan budaya di restoran ini menampilkan budaya Jawa secara utuh.

Restoran tersebut menjadi destinasi wajib bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta, menjadikan House of Raminten lebih dari sekadar tempat makan—melainkan simbol perayaan budaya.

5. Membangun Hamzah Batik di Jantung Malioboro

Selain dunia kuliner, Hamzah juga merambah usaha fesyen dengan mendirikan Hamzah Batik di Jalan Malioboro.

Toko ini bukan hanya menjual kain batik, namun juga cendera mata khas Yogyakarta.

Toko tersebut kerap menyelenggarakan pentas seni jalanan sebagai bentuk pemberdayaan seniman lokal.

Hamzah memanfaatkan ruang publik untuk mengenalkan seni tradisional kepada wisatawan, menjadikan tokonya sebagai pusat interaksi antara budaya lokal dan pengunjung dari berbagai daerah.

Warisan dan Pengaruh yang Tak Terhapuskan

Wafatnya Hamzah Sulaiman meninggalkan kekosongan di dunia seni dan budaya Yogyakarta.

Ungkapan belasungkawa datang dari berbagai kalangan, termasuk para pelaku seni, pengusaha, dan masyarakat yang pernah merasakan langsung kehangatan serta kekayaan budaya dari karya-karyanya.

Sosoknya dikenal luas sebagai pribadi yang lembut, rendah hati, namun tajam dalam menyikapi persoalan sosial melalui ekspresi seni.

Meski raganya telah tiada, nama "Raminten" akan tetap hidup sebagai warisan budaya yang abadi di hati masyarakat Yogyakarta.

Di tengah duka, masyarakat meyakini bahwa semangat Hamzah akan terus diteruskan oleh generasi penerus seni dan budaya di Kota Gudeg, menjadikan Raminten bukan sekadar karakter, melainkan bagian dari identitas budaya Yogyakarta yang lestari. (*)

Editor : Ali Mustofa
#hamzah sulaiman #kuliner Jogja #kabar duka #profil hamzah sulaiman #asal usul raminten #sejarah raminten #raminten #profil raminten