Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Ignatius Suharyo, Perjalanan Menjadi Kardinal hingga Wakil Indonesia yang Bisa Jadi Paus

Zakarias Fariury • Kamis, 24 April 2025 | 17:14 WIB
Kardinal Ignatius Suharyo. (Tiziana Fabi/AFP)
Kardinal Ignatius Suharyo. (Tiziana Fabi/AFP)

RADAR KUDUS - Pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma akan segera digelar melalui sebuah tradisi kuno yang telah berlangsung selama berabad-abad, yakni konklaf.

Dalam momen sakral yang hanya digelar saat Takhta Suci lowong, para kardinal dari seluruh dunia akan berkumpul secara tertutup di Vatikan untuk memilih pengganti Paus Fransiskus, yang wafat pada 21 April 2025.

Di antara para pemegang hak suara dalam konklaf tersebut, Indonesia menempatkan satu-satunya wakilnya: Kardinal Ignatius Suharyo.

Baca Juga: Ini Syarat Agar Ignatius Suharyo Bisa Menjadi Paus, Kardinal Asal Indonesia

Dengan usia 74 tahun, Suharyo memenuhi syarat utama untuk mengikuti konklaf, yakni berstatus sebagai kardinal dan berusia di bawah 80 tahun.

Selain memiliki hak pilih, Suharyo juga secara teknis memiliki peluang untuk dipilih sebagai paus baru.

Perjalanan Hidup dalam Pelayanan Gereja

Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo lahir pada 9 Juli 1950 sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Latar belakang keluarganya kuat dalam pelayanan gereja.

Salah satu kakaknya, RP. Suitbertus Ari Sunardi OSCO, merupakan rahib imam di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Temanggung.

Sementara dua saudara perempuannya, Suster Christina Sri Murni dan Suster Maria Magdalena Marganingsih, mengabdikan diri sebagai biarawati.

Suharyo menempuh pendidikan rohani sejak usia remaja dengan masuk seminari sejak jenjang SMP hingga SMA.

Baca Juga: Suharyo Hardjoatmodjo, Satu-satunya Kardinal Asal Indonesia yang Memenuhi Syarat ikut Konklaf di Vatikan

Pada 1971, ia melanjutkan studi ke IKIP Sanata Dharma Yogyakarta dan meraih gelar Sarjana Muda di bidang Filsafat dan Teologi.

Lima tahun kemudian, ia meraih gelar Sarjana penuh dan ditahbiskan sebagai imam.

Kiprahnya semakin menonjol ketika Kardinal Justinus Darmojuwono mengutusnya untuk melanjutkan studi di Roma.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral bidang Teologi Biblikal di Universitas Urbaniana pada 1981.

Sekembalinya ke tanah air, Suharyo mengabdikan diri sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya, Yogyakarta, dan kemudian di berbagai institusi pendidikan lainnya.

Dari Uskup Agung hingga Kardinal

Langkah penting dalam perjalanan rohaninya terjadi pada 1997, ketika Paus Yohanes Paulus II menunjuknya sebagai Uskup Agung Semarang.

Ia mengusung semboyan pelayanan Serviens Domino Cum Omni Humiliate—“Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati,” yang diambil dari Kisah Para Rasul 20:19.

Pengabdiannya terus berlanjut hingga akhirnya dipercaya untuk memimpin Keuskupan Agung Jakarta pada tahun 2010, menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja yang mengundurkan diri.

Tonggak tertingginya tercapai pada 1 September 2019, saat Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai salah satu dari 13 kardinal baru dunia.

Ia menerima gelar Kardinal Imam Spirito Santo alla Ferratella, gereja tituler yang terletak di Roma.

Tak hanya dalam pelayanan langsung, Suharyo juga aktif dalam dunia literasi teologi.

Beberapa karyanya yang dikenal luas di antaranya adalah Alam Hidup Perjanjian Lama, Datanglah KerajaanMu, dan Kisah Sengsara Yesus dalam Injil Sinoptik.

Baca Juga: Profil Kardinal Peter Erdo, Kandidat Penerus Paus Fransiskus Asal Hungaria

Peluang dalam Konklaf

Kini, sebagai satu-satunya kardinal asal Indonesia yang memiliki hak suara dalam konklaf, nama Ignatius Suharyo kembali menjadi sorotan.

Meski peluang untuk terpilih sebagai paus tidak mudah mengingat konklaf melibatkan lebih dari seratus kardinal dari seluruh dunia, kehadiran Suharyo menunjukkan pentingnya peran Asia, khususnya Indonesia, dalam kancah global Gereja Katolik.

Baca Juga: Mengenal Kardinal Pietro Parolin, Salah Satu Kandidat Penerus Paus Fransiskus

Konklaf akan berlangsung di Kapel Sistina, di mana para kardinal akan memilih pemimpin baru yang akan menggembalakan lebih dari 1,3 miliar umat Katolik di seluruh dunia.

Hasil akhir akan ditentukan melalui musyawarah mendalam, doa, dan pemungutan suara tertutup, yang akan ditandai dengan munculnya asap putih dari cerobong kapel saat paus baru terpilih.

Di tengah sorotan internasional, nama Suharyo menjadi simbol harapan baru dari Asia Tenggara sebuah wilayah yang kian menunjukkan peran strategis dalam wajah global Gereja Katolik modern. (*)

Editor : Ali Mustofa
#Paus Fransiskus #konklaf Paus baru #ignatius suharyo #kardinal asal indonesia #kardinal baru indonesia #vatikan #suharyo #konklaf Vatikan