RADAR KUDUS – Pelopor sirkus modern di Indonesia, Oriental Circus Indonesia (OCI), kini menjadi sorotan publik setelah adanya skandal tuduhan serius yang diungkapkan oleh mantan pemainnya.
Dugaan eksploitasi, penyiksaan, serta pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang diperkirakan terjadi sejak 1970-an telah memicu amarah warganet dan mendesak agar pemerintah segera melakukan penyelidikan.
Berikut kronologi lengkap berdasarkan informasi terbaru.
Awal Mula Adanya Tuduhan Eksploitasi
Pada Selasa, 15 April 2025, beberapa mantan pemain OCI melaporkan pengalaman kelam mereka selama bergabung dengan OCI, yang sebagian besar beroperasi di bawah naungan Taman Safari Indonesia (TSI) ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemenHAM).
Kedatangan mereka diterima oleh Wakil Menteri HAM, Mugiyanto, dan menyampaikan dugaan kekerasan fisik, seperti adanya pemukulan dan penyetruman hingga adanya eksploitasi anak.
Salah satu mantan pemain yang bernama Ida mengaku bahwa pada 1976 ia telah diambil paksa dari orang tuanya ketika masih berusia lima tahun dan dipaksa untuk berlatih secara intensif sejak kecil.
Tuduhan ini termasuk di dalamnya terdapat praktik isolasi dari dunia luar yang mengakibatkan para pemain sulit untuk melarikan diri dari lingkungan tersebut.
Klarifikasi dari OCI dan TSI
Menanggapi adanya tuduhan tersebut, Tony Sumampau selaku pendiri OCI, serta pihak TSI memberikan klarifikasi pada 16-17 April 2025.
Tony membantah keras tuduhan adanya eksploitasi dan perbudakan manusia dalam operasionalnya.
Ia menyebutkan bahwa hanya ada perlakuan sebagai bentuk “pendisiplinan pemain” yang dilakukan untuk menjaga kualitas pertunjukan sirkus.
Tony menegaskan bahwa OCI dan TSI adalah entitas hukum yang berbeda, sehingga TSI tidak memiliki tanggung jawab atas operasional OCI.
Ia juga mengungkapkan bahwa anak-anak yang bergabung dengan OCI berasal dari panti asuhan di Kalijodo, Jakarta, yang telah mendapat donasi dari keluarganya.
OCI menduga adanya sosok “provokator” di balik tuduhan ini dan akan menempuh jalur hukum untuk membersihkan nama mereka.
Viral di Media Sosial
Isu ini menggemparkan publik pada 17-18 April 2025 setelah dua mantan pemain, Vivi dan Butet membagikan kisah kelam mereka dalam podcast “Close The Door” milik Deddy Corbuzier dan juga wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV.
Mereka memberikan gambaran mengenai bentuk kekerasan yang terjadi termasuk gambaran hukuman fisik seperti apa bagi anak-anak yang gagal menjalankan latihan atau pertunjukan.
Media nasional seperti Kompas, JawaPos, dan Detikcom melaporkan tuduhan ini yang memperkuat sorotan publik.
Ramai di platform X, akun seperti @detikcom dan @jawapos memicu diskusi sengit para warganet, mereka saling mempertanyakan hubungan antara OCI dan TSI dan juga menuntut keadilan bagi para korban.
Tagar yang digunakan untuk membela para korban seperti #JusticeForOCIVictims mulai bermunculan walaupun ada beberapa pihak masih mempertanyakan kebenaran atas klaim tersebut.
Tuntutan Penyelidikan oleh Pemerintah
Pada 19-20 April 2025, tekanan publik semakin memanas. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) beserya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mendapatkan desakan untuk membentuk tim pencari fakta guna menyelidiki dugaan pelanggaran HAM.
Baca Juga: PROFIL Lengkap Pendiri Taman Safari, Dalang Dibalik Sirkus OCI yang Tengah Viral
Korban mengatakan bahwa mereka telah bungkam terhadap kasus ini selama puluhan tahun karena takut akan ancaman dan stigma.
Berbagai media seperti MetroTV dan Tribunnews menyoroti kisah tragis yang menimpa para pemain, termasuk pernyataan bahwa banyak di antara mereka direkrut saat masih balita dan tidak diberi akses pendidikan formal.
Publik kini mempertanyakan bagaimana OCI yang pernah tampil di panggung Internasional pada 1990-an bisa menyimpan rahasia kelam ini begitu lama.
Hingga saat ini, pembahasan mengenai kasus ini masih hangat di platform X. Akun seperti @pikiran_rakyat memposting mengenai ungkapan terhadap dugaan kekerasan, dengan warganet yang masih terus menyerukan keadilan bagi para korban.
Namun, tampaknya masih belum ada perkembangan signifikan dari pihak pemerintah atau hasil investigasi resmi yang dipublikasikan.
OCI dan TSI tetap bersikukuh membantah tuduhan, sementara para korban berharap kasus ini tidak hanya menjadi sensasi sesaat di media sosial.
Latar Belakang OCI
Oriental Circus Indonesia (OCI) ini didirikan oleh Hadi Manansang tepatnya pada 1963 dengan nama awal Bintang Akrobat dan Gadis Plastik. Pada 1966 berganti nama menjadi Oriental Show dan baru berubah nama menjadi OCI secara resmi pada 1972.
OCI yang dikenal sebagai pelopor sirkus modern di Tanah Air ini, menghadirkan atraksi seperti flying trapeze, sulap, hingga pertunjukkan hewan liar.
Pada puncak kejayaannya di 1990-an, OCI tampil di Inggris, China, dan Amerika Serikat yang membawa nama Indonesia ke kancah internasional.
Namun, afiliasinya dengan Taman Safari Indonesia serta tuduhan eksploitasi dan kekerasan manusia kini mencoreng nama baik dan reputasinya.
Tuduhan yang dilontarkan terhadap OCI belum sepenuhnya terverifikasi di mata hukum, dan adanya bantahan yang dilakukan oleh Tony Sumampau menambah kompleksitas kasus ini.
Saat ini, publik dihadapkan pada narasi yang saling bertolak belakang: di satu sisi, adanya pengakuan mantan pemain yang menggambarkan kisah kelam yang traumatis; dan di sisi lain, adanya pernyataan dari OCI yang mengatakan bahwa tuduhan ini dilebih-lebihkan dan diprovokasi oleh pihak tertentu.
Baca Juga: Taman Safari Indonesia Ikut Terseret Atas Kasus Eksploitasi, Siapa Sih Pemiliknya?
Guna memastikan keadilan, investigasi independen oleh Komnas HAM atau pihak berwenang lainnya menjadi krusial.
Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya perlindungan anak dan pekerja di industry hiburan yang kerap kali luput dari pengawasan.
Di media sosial khususnya di platform X, sentimen publik cenderung memberikan dukungan bagi mantan pemain, hal ini bisa dilihat dari banyaknya warganet yang menyerukan boikot kepada Taman Safari hingga kebenaran dari kasus ini terungkap.
Namun, ada juga yang meminta kepada masyarakat untuk tidak terburu-buru dalam menghakimi sebelum ada keputusan hukum.
Para korban yang merupakan mantan pemain, seperti Ida, Vivi, dan Butet berharap kasus ini dapat menemukan titik terang untuk mengungkap pelanggaran HAM di masa lalu dan mencegahnya terulang kembali di masa yang akan datang.
Kasus ini berada di persimpangan antara menjadi momentum untuk melakukan reformasi di industri sirkus Indonesia atau akan hanya lenyap sebagai isu viral sesaat.
Yang jelas, suara para mantan pemain telah menggemparkan publik dan tuntutan untuk menegakkan keadilan terus menggema. (Asri Kurniawati)
Editor : Ali Mustofa