Hari ini 21 April 2025, kita memperingati Hari R.A. Kartini, hari kelahiran Kartini.
R.A. Kartini, dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita Indonesia.
Dalam banyak literatur, R.A. Kartini lahir dari orang tua yang taat agama Islam.
Yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah. M.A. Ngasirah dalam beberapa literatur adalah putri dari seorang tokoh agama.
Karena itu waktu kecil, orang tuanya mewajibkan RA. Kartini untuk belajar ngaji atau belajar Alquran di Pendapa Jepara. Tempat tinggal dinas kedua orang tuanya.
Dari situlah R.A. Kartini sempat bertanya kepada teman Belandanya, RM. Abendanon. Bua tapa belajar ngaji Alquran jika tidak tahu artinya.
Sampai kemudian, suatu Ketika di dipertemukan dengan saudara, yaitu Pamannya Bupati Demak. Tjondronegoro IV.
Tjondronegoro IV kemudian memperkenalkannya dengan Mbh Kyai Sholeh Darat.
Tak Lain adalah guru dari tokoh besar Pencetus Ormas NU Hasyim Asy'ari dan Ormas Muhammadiyah Ahmad Dahlan.
Setelah bertemu dengan Kyai Sholeh Darat, RA. Kartini kemudian menginginkan Alquran dibuatkan tafsirnya. Dengan huruf arab pegon. Ini bertujuan agar bangsa Belanda tidak tahu.
Mbah Kyai Sholeh darat kemudian menghadiahi Tafsir Faidurrahman.
Beberapa sumber menjelaskan tafsir itu sampai Surat Ibrahim. Karena Kyai Sholeh Darat wafat.
Tafsir itu sebagai hadiah dari Mbah Kyai Sholeh Darat untuk hadiah perkawinan kepada RA. Kartini bersama Bupati Rembang saat itu RM Djojhadiningrat.
Apakah RA. Kartini setelah itu mendalami Islam.
Beberapa surat yang dikirim ke Ny Abendanon. Pengakuan dan pendalaman islam oleh RA. Kartini terjadi setelah pertemuan dengan Mbh. Kyai Sholeh Darat.
Beberapa suratnya mengisyaratkan pembahasan tentang agama Islam.
Diskusi tentang agama Islam kepada Nyonya Abendanon juga terjadi.
Karena waktu itu belum ada model hijab modern, tidak ditemukan R.A. Kartini berhijab atau berkerudung. Tetapi R.A. Kartini adalah Perempuan Islam taat.
Sumber dalam berbagai foto yang tersisa dari masa hidupnya yaitu akhir abad ke-19 hingga mula abad ke-20, R.A. Kartini umumnya tampil dengan kebaya tradisional Jawa dan sanggul, tanpa penutup kepala seperti kerudung.
Beberapa foto beredar R.A. Kartini berkerudung bahkan berhijab, dimungkinkan itu adalah tidak benar.
Namun, perlu dipahami bahwa konteks berkerudung atau menutup rambut pada masa itu berbeda dengan sekarang.
Di lingkungan masyarakat ataupun bangsawan Jawa, terutama di kalangan priyayi, adat dan cara berpakaian mengikuti norma budaya setempat yang tidak selalu identik dengan pemakaian kerudung ala Islam saat ini.
Baca Juga: Wamen Kebudayaan Giring Ganesha Napak Tilas Jejak Kartini dan Dukung Jepara Jadi Kota Museum
Kartini sendiri berasal dari keluarga ningrat Jawa yang taat adat, namun juga terbuka terhadap pemikiran modern, termasuk dalam hal pendidikan dan peran perempuan.
Jadi, sejauh dokumentasi sejarah yang ada, R.A. Kartini tidak dikenal sebagai sosok yang mengenakan kerudung dalam pengertian modern.
Tapi hal itu tidak mengurangi kontribusinya sebagai tokoh penting dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia.
Editor : Ali Mustofa