Bogor – Sejumlah pengemudi taksi di kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor, menghadang iring-iringan mobil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat kunjungan kerjanya, belum lama ini.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas aktivitas perusahaan jasa transportasi yang mereka nilai merugikan pengemudi lokal.
Para sopir menyampaikan langsung keluhan kepada Gubernur, terutama terkait keberadaan PT Indogen, perusahaan transportasi yang mereka sebut menurunkan tarif secara sepihak sehingga mematikan usaha pengemudi lokal.
“Kami warga sini, Pak. Sudah lama nyari nafkah dari narik taksi. Tapi sekarang pendapatan kami jauh menurun sejak ada perusahaan itu,” ucap salah satu pengemudi dalam perbincangan yang terekam dalam video di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Diduga Perusahaan Asing, Tarif Dianggap Tekan Harga Pasar
Menurut para pengemudi, video iklan dari PT Indogen yang beredar di media sosial menjadi sumber kekhawatiran.
Mereka menilai promosi tersebut mendorong penurunan tarif transportasi secara signifikan, memicu persaingan yang tidak sehat, dan membuat sopir lokal kesulitan bersaing.
“Biasanya kami pasang tarif Rp500 ribu, sekarang mereka hanya menarik Rp350 ribu. Tentu saja kami tak sanggup menyaingi harga itu,” kata seorang sopir lainnya.
Saat dimintai penjelasan, para pengemudi mengungkap bahwa perusahaan tersebut disebut-sebut milik warga negara asing asal Yaman yang berdomisili di Indonesia, namun tidak memiliki kantor operasional resmi di kawasan Puncak.
“Orangnya tinggal di sekitar sini, tapi kantor perusahaannya tidak ada di Puncak,” ujar seorang pengemudi lainnya.
Gubernur Dedi Respons Langsung Keluhan di Lapangan
Menanggapi aspirasi tersebut, Gubernur Dedi Mulyadi terlihat aktif menggali informasi langsung dari para sopir.
Ia mempertanyakan asal-usul perusahaan, jenis kendaraan yang digunakan, serta siapa saja penumpang yang menjadi target pasar mereka.
“Yang naik kendaraan itu siapa saja?” tanya Dedi kepada para sopir.
“Mayoritas wisatawan dari Timur Tengah, Pak. Mereka memang banyak liburan di sini,” jawab para sopir hampir serempak.
Para sopir mengungkap bahwa turis asing lebih memilih menggunakan jasa dari PT Indogen karena tarifnya yang dianggap jauh lebih murah, padahal operasionalnya dilakukan oleh sopir lokal dengan kendaraan beragam.
“Jadi mereka tetap pakai orang sini sebagai sopir, tapi tarifnya ditekan. Kami kalah bersaing.
Makanya kami minta tolong kepada Bapak, agar izin usaha mereka dicabut saja,” tegas salah satu perwakilan pengemudi.
Desakan Cabut Izin Usaha
Keluhan paling utama para sopir adalah ketimpangan yang mereka rasakan dalam kompetisi tarif.
Mereka menyebut model bisnis PT Indogen telah menggerus pasar lokal dan membuat banyak sopir kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
“Kami cuma ingin bersaing secara adil. Kalau tarif diturunkan sedemikian rupa oleh perusahaan besar, kami rakyat kecil mau makan apa?” ucap salah satu sopir dengan nada emosional.
Gubernur Dedi menanggapi dengan tenang, mengatakan akan menelusuri lebih lanjut praktik usaha perusahaan tersebut.
“Kalau jasa ditawarkan dengan harga lebih murah, kita perlu telusuri lebih lanjut legalitas dan dampaknya,” kata Dedi.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak PT Indogen terkait keluhan para sopir taksi lokal tersebut.
Editor : Mahendra Aditya