RADAR KUDUS - Update terbaru dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melemah lagi pada hari ini (9/4/2025).
Penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin pada selasa (8/4/2025) yang turun ke level 5.996, atau 514,48 poin atau setara dengan 7,90%.
Namun, ada kemungkinan IHSG akan mengalami technical rebound, jika nanti ada sinyal positif dari pemerintah Indonesia mengenai negosiasi dalam kebijakan tarif Presiden Amerika Sekirat (AS).
Pengamat pasar modal, Hendra menungkapkan bahwa kemungkinan technical rebound tetap terbuka, terutama jika ada sinyal diplomasi tegas dari Presiden Prabowo Subianto dalam menanggapi kebijakan tarif Presiden Trump.
Hendra memastikan bahwa pasar modal Indonesia masih banyak peminat yang mungkin akan disokong dari fundamental ekonomi domestik dan juga emiten yang masih solid.
Disisi lain, Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengungkapkan bahwa China tidak khawatir terhadap tekanan dari Kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
Namun, AS menanggapi dengan memberikan tarif yang lebih tinggi sebesbar 104% kepada barang- barang China.
Beda dengan Indonesia IHSG lebih sentimen terutama adanya kekhawatiran terhadap pelaku pasar pada kebijakan tarif dari Presiden Donald Trump.
Tim pengamat pasar modal, Hendra mengatakan bahwa meskipun ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 9,9% dari total ekspor nasional, reaksi pasar yang berlebihan mengindikasikan adanya kekhawatiran lebih dalam terhadap ketegangan dagang global yang berpotensi adanya perlambatan dalam ekonomi dunia, serta belum adanya respons cepat dari pemerintah RI sebelum pasar dibuka.
Hendra juga mengungkapkan bahwa justru saat para investor panik, bisa menjadikan peluang strategis untuk mengoleksi saham- saham unggulan yang harganya lumayan.
Indonesia memiliki beberapa fondasi ekonomi yang tetap solid yaitu pertumbuhan PDB sekitar 5%, neraca perdagangan dan fundamental emiten- emiten besar agar tetap kuat.
IHSG yang dibuka pada selasa (8/4/2025) turun hingga ke 596,33 atau 9,16% ke posisi 5.914,28.
Akibat pelemahan tersebut yang membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membekukan sistem perdagangan (trading halt) sementara waktu. (Fadila Noor Rohma)
Editor : Mahendra Aditya