Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Tradisi Kupatan di Masyarakat Jepara-Demak dan Sekitarnya yang Dirayakan Seminggu Setelah Idul Fitri

Zainal Abidin RK • Senin, 7 April 2025 | 15:12 WIB
DIKUMPULKAN: Para umat muslim mengikuti selamatan kupat-lepet di musala pada lebaran kupatan pada Senin (7/4). Salah satunya di Musala Baitussalam RT 1 dan RT 2 Desa Bringin, Batealit, Jepara.
DIKUMPULKAN: Para umat muslim mengikuti selamatan kupat-lepet di musala pada lebaran kupatan pada Senin (7/4). Salah satunya di Musala Baitussalam RT 1 dan RT 2 Desa Bringin, Batealit, Jepara.

JEPARA - Sepekan setelah Idulfitri, Sebagian Masyarakat Jawa melaksanakan lebaran ketupat atau kupatan.

Sebagian lainnya menyebut perayaan itu sebagai Syawalan.

Di Jepara (lereng Muria) misalnya tradisi itu dilaksanakan di musala dan masjid.

Masing-masing orang membawa kupat dan lepet serta kuah dari rumah dibawa ke tempat ibadah itu.

Di tempat ibadah itu, kupat lepet kemudian dikumpulkan jadi satu.

Kemudian para warga berdoa.

Salah satunya bacaan tahlil. Setelah bacaan tahlil selesai, mereka kemudian membagikan kupat lepet yang telah dikumpulkan sebelumnya Kembali dibagikan kepada jamaah.

Di Lokasi itu pula, para jamaah yang hadir memakan Sebagian kupat lepet dengan kuah. Kuah ini rerata kuah opor.

Isiannya bisa ayam, udang, tahu, atau telur.

Tergantung dengan selera.

Sebagian kupat -lepet hasil pembagian dibawa pulang.

Masyarakat terdahulu kupat lepet yang telah didoakan diberikan ke hewan ternak.

Mengharap agar semua selamat.

Berbeda dengan Masyarakat pesisir di Demak misalnya.

Di Demak, Syawalan banca’an atau selamatan kupat-lepet dilaksanakan di perahu-perahu dan kapal-kapal.

Masyarakat nelayan menabur jajan dan uang di perahu atau kapal, Sungai yang jadi perlintasan kapal dan perahu, serta laut yang jadi tempat kapal dan perahu bersandar.

Jajan dan uang itu kemudian diperebutkan anak-anak ataupun orang dewasa setempat.

Setelahnya mereka berpesta dengan perahu dan kapal di laut.

Pesisir di Jepara melakukan larung kepala kerbau yang kemudian kepala itu diperebutkan masyarakat yang hadir. air dari laut kemudian digebyurkan ke dinding-dinding kapal. 

Di Jepara ada namanya syawalan Lomban. Yang juga jadi ajang Wisata.

Sejarah tradisi ini dipopulerkan Sunan Kalijaga.

Sunan Kali Jaga menggunakan tradisi Kupat Lepet sebagai sarana dakwah, mengenalkan Islam di Masyarakat Jawa.

Bagian dari mendekatkan umat Islam yaitu bersyukur kepada Alloh Ta’la.

Dengan cara bersedekah, bersilaturahmi dengan mengaku lepat (salah) dan meminta maaf kepada Alloh dan sesama manusia.    

Kupat dalam Bahasa Jawa dan Ketupat dalam Bahasa Indonesia, punya arti Ngaku Lepat atau dalam Bahasa Indonesia mengakui kesalahan.

Kupat ini simbol sesama umat Islam saling memaafkan.

Segi empat dalam ketupat symbol kiblat papat lima pancer yaitu kemanapun manusia Kembali kepada Alloh.

Janur sebagai bungkus pembuatan kupat, lambing tolak bala.

Rangkaian anyaman dalam kupat bentuk dari perjalanan manusia. Yang penuh kerumitan dan kesalahan.

Warna putih di dalam kupat cermin kebersihan dan kesucian, setelah tadi meminta maaf kepada Alloh dan sesama umat muslim dan manusia.

Beras yang jadi nasi sebagai isi kupat lambang rizki yang berkah.

Pada zaman dulu, terdapat tradisi berbau mistis, namun untuk sekarang ini Sebagian besar jarang ditemukan.  

Ketupat dianggap tolak bala. Yang percaya ketupat lepet matang digantung di atas kusen pintu depan rumah ataupun barang dan hewan ternak.

Mengapa kupat dan lepet selalu dibungkus daun Janur atau daun muda kelapa? Janur berasal dari serapan Bahasa Arab Ja’an - Nur maknanya datang cahaya.

Menurut sumber lain bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati.

Ketika orang Islam mengakui kesalahan, hatinya ibarat kupat dibelah. Isinya putih bersih artinya bersih dari kesalahan.

Sementara lepet dari kata “silep kang rapet” atau menutup dengan rapat.

Setelah mengakui lepat, kemudian meminta maaf dan menutup kesalahan yang sudah dimaafkan.

Rapet memiliki makna, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tujuannya persaudaraan semakin kuat seperti lengketnya hasil masakan ketan dalam lepet. (*)

 

Editor : Ali Mustofa
#syawalan #jepara #kupatan #umat islam #memaafkan #kupat