Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sukatani Band Viral! Lagu Bayar Bayar Bayar Ditarik, Ini Arti Kode 1312 dan Kaitannya dengan Perlawanan Punk

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 21 Februari 2025 | 17:25 WIB
Profil Band Sukatani yang baru baru ini viral karena lagunya bayar bayar bayar
Profil Band Sukatani yang baru baru ini viral karena lagunya bayar bayar bayar

RADAR KUDUS - Dunia musik punk Indonesia tengah dihebohkan oleh Sukatani Band, duo dance-punk asal Purbalingga yang mendadak viral setelah merilis video permintaan maaf kepada institusi Polri.

Hal ini dipicu oleh lagu mereka yang berjudul Bayar Bayar Bayar, yang dianggap menyinggung polisi karena liriknya yang berbunyi "bayar polisi."

Dalam video yang diunggah di akun Instagram resmi mereka, Sukatani Band yang terdiri dari Muhammad Syifa Al Lutfi alias Alectroguy (gitaris dan produser) serta Novi Citra alias Twister Angel (vokalis) menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan institusi Polri atas lagu ciptaan kami dengan judul Bayar Bayar Bayar yang liriknya 'bayar polisi' yang telah kami nyanyikan sehingga viral di beberapa platform media sosial," ujar Alectroguy pada Kamis (20/2/2025).

Lebih lanjut, Alectroguy menegaskan bahwa lagu tersebut sebenarnya ditujukan untuk mengkritik oknum kepolisian yang melanggar aturan, bukan institusi secara keseluruhan.

Namun, Sukatani memutuskan untuk menarik lagu itu dari semua platform resmi mereka.

Profil Sukatani Band

Sukatani Band merupakan band punk yang mulai aktif sejak 2022. Berbeda dari band punk pada umumnya, mereka tampil dengan ciri khas unik: mengenakan balaclava atau penutup wajah dan membagikan sayuran kepada penonton saat manggung.

Aksi tersebut bukan tanpa alasan—mereka ingin menyuarakan perjuangan para petani, tema yang juga kerap muncul dalam lirik lagu mereka.

Musik mereka terinspirasi dari genre anarcho-punk era 80-an serta proto-punk.

Dengan gaya eksperimental, Sukatani memadukan suara digital dengan alat musik konvensional, menciptakan nuansa khas yang membedakan mereka dari band punk lain di Indonesia.

Dukungan dari Masyarakat: Tagar #KamiBersamaSukatani Trending

Meski telah meminta maaf dan menarik lagu mereka, dukungan terhadap Sukatani Band justru semakin deras. Tagar #KamiBersamaSukatani sempat menduduki puncak trending di media sosial X (sebelumnya Twitter).

Banyak netizen yang merasa lagu Bayar Bayar Bayar adalah bentuk kebebasan berekspresi yang tidak seharusnya dihapus.

Beberapa musisi dan figur publik pun ikut bersuara, termasuk Baskara Putra, vokalis .Feast yang dikenal vokal terhadap isu sosial.

Dalam unggahan di akun X miliknya, ia menulis, "Ada lagu udah mulai kena bredel. Sedih banget denger kabarnya. 1312."

Unggahan tersebut sontak menambah perbincangan soal arti 1312, sebuah kode yang kerap muncul di lingkaran punk dan aktivisme perlawanan.

Arti 1312 dan Kaitannya dengan Perlawanan Punk

Angka 1312 yang sering muncul dalam dukungan terhadap Sukatani merupakan kode numerik dari akronim ACAB (All Cops Are Bastards).

Dalam sistem alfabet numerik, angka 1 mewakili huruf A, 3 untuk huruf C, dan 2 untuk huruf B.

Istilah ACAB sendiri berasal dari Inggris dan pertama kali populer di kalangan buruh tambang yang melakukan aksi mogok kerja pada 1940-an.

Mereka menggunakan ungkapan ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap tindakan represif kepolisian saat itu. Seiring berjalannya waktu, frasa ini menyebar luas ke berbagai negara dan diadopsi oleh subkultur punk sebagai simbol perlawanan terhadap otoritas yang dianggap menindas.

Di Indonesia, angka 1312 dan istilah ACAB sering digunakan oleh komunitas punk serta aktivis yang mengkritik tindakan aparat yang dinilai berlebihan atau melanggar hak masyarakat.

Dalam konteks Sukatani Band, penggunaan angka ini di media sosial mencerminkan solidaritas penggemar terhadap band tersebut.

Dilema Kebebasan Berekspresi dan Sensor Musik

Kasus yang menimpa Sukatani Band membuka kembali perdebatan tentang batas kebebasan berekspresi di industri musik Indonesia.

Di satu sisi, kritik sosial melalui seni adalah bagian dari kebebasan berpendapat yang dilindungi oleh undang-undang. Namun, di sisi lain, ada regulasi yang mengatur konten yang dianggap merugikan institusi tertentu.

Fenomena sensor terhadap musik bukanlah hal baru. Di berbagai negara, banyak musisi yang menghadapi tekanan akibat lirik yang dianggap kontroversial.

Sebut saja Rage Against The Machine yang kerap berurusan dengan pemerintah AS karena lirik lagu mereka yang mengkritik sistem kapitalisme dan kebijakan luar negeri.

Di Indonesia sendiri, beberapa musisi juga pernah mengalami hal serupa. Band-band punk dan underground kerap mendapat tekanan akibat lirik yang berisi kritik terhadap pemerintah dan institusi tertentu.

Dalam kasus Sukatani, keputusan untuk menarik lagu mereka menimbulkan pertanyaan: apakah ini bentuk tanggung jawab atau tekanan eksternal?

Masa Depan Sukatani Band: Apakah Akan Tetap Liar?

Meski dihantam kontroversi, popularitas Sukatani Band justru semakin meningkat.

Fans mereka semakin militan, dengan banyak yang berharap mereka tetap mempertahankan sikap kritis dalam berkarya.

Bahkan, permintaan agar Bayar Bayar Bayar kembali dirilis terus berdatangan.

Namun, langkah apa yang akan diambil Sukatani ke depan masih menjadi misteri.

Apakah mereka akan tetap berani melawan arus, atau justru beradaptasi dengan kondisi agar tetap bisa berkarya tanpa hambatan? Yang jelas, kontroversi ini telah menempatkan Sukatani sebagai salah satu band punk paling berpengaruh di Indonesia saat ini.(*)

Editor : Mahendra Aditya
#tagar Kami Bersama Sukatani #profil band sukatani #Band Sukatani #Band Sukatani Unggah Permohonan Maaf ke Kapolri #Vokalis Sukatani Band #kami bersama sukatani #mengenal band sukatani