Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kronologi Terlengkap Meninggalnya Nenek Yonih, Penjual Nasi Uduk yang Antre Gas Elpiji 3 Kg di Pamulang Tangerang

Noor Syafaatul Udhma • Selasa, 4 Februari 2025 | 16:21 WIB
Ilustrasi Meninggal Dunia
Ilustrasi Meninggal Dunia

RADAR KUDUS – Nasih nahas menimpa nenek Yonih, penjual nasi uduk di Pamulang, Tangerang Selatan pada Senin, 3 Februari 2025.

Gara-gara mengantre gas elpiji 3 kg, nenek berusia 62 tahun tersebut meninggal dunia.

Nenek Yonih diketahui merupakan warga di Jalan Beringin, Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Dia meninggal dunia usai mengantre membeli gas di agen resmi gas elpiji. Diduga nenek Yonih meninggal dunia karena kelelahan mengantre.

Sehari Hari Berjualan Nasi Uduk

Meninggalnya nenek Yonih membuat keluarga kehilangan. Tidak hanya keluarga, tetapi juga tetangga dan warga sekitar.

Diketahui nenek Yonih berjualan nasi uduk setiap pagi. Banyak warga sekitar yang membeli nasi uduk nenek Yonih.

Ketua RT 001 RW 007 Pamulang Barat, Saiful mengatakan nenek Yonih sudah berdagang nasi uduk cukup lama.

Sosok yang biasanya disapa Mpok Yonih ini berjualan di sekitar rumah. Tak hanya nasi uduk tetapi juga aneka gorengan, lontong, dan kopi. “Kami warga sini kehilangan sosok Mpok Yonih, Biasanya warga sarapan di sini,” katanya.

Ketua RW, Nurhadi juga mengaku cukup sering makan di warung Mpok Yonih. Kepergian Mpun Yonih juga membuat warga sekitar kehilangan. “Semua sudah kenal. Sudah seperti keluarga,” katanya.

Kronologi Meninggalnya Nenek Yonih Usai Antre Gas

Salah salau warga Rohaya mengaku pada pukul 11.00 melihat nenek Yonih membawa dua tabung gas kosong ke agen elpiji.

Dirinya juga melihat nenek Yonih diminta pulang saat mengantre karena tidak membawa KTP. Sebab pembelian gas elpiji harus menggunakan KTP. “Orangnya ingin mengantre, tapi disuruh pulang,” katanya.

Nenek Yonih pun kembali ke rumah untuk menyelesaikan urusan termasuk membayar sayuran yang dibeli. Tak lama kemudian, korban berangkat membeli gas lagi dan beristirahat di sekat pangkalan gas.

Setelah mengantre lama, nenek Yonih akhirnya mendapatkan gas. Namun karena kelelahan, dia pingsan.

Keluarga pun menjemput nenek Yonih lalu dibawa pulang. Setibanya di rumah, nenek Yonih sudah lemas.

“Dia ngomong Allahu Akbar terus saya ajak ngomong udah enggak nyaut. Saya kasih minum tidak mau. Orangnya langsung dibawa ke RS Permata. Sampai di RS, meninggal dunia,” katanya.

 

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#LPG 3 kg bersubsidi #gas elpiji 3 kg #subsidi tepat #Pamulang #tangerang