RADAR KUDUS – Salah saru raja Kerajaan Majapahit yang dikenal bertabiat buruk dan dibenci rakyatnya yakni Raja Jayanegara.
Raja Jayanegara merupakan raja kedua setelah Raden Wijaya.
Tak disangka, Raja Jayanegara merupakan anak dari Raden Wijaya, raja pertama sekaligus pendiri Kejaraan Majapahit.
Sosok dan Profil Raja Jayanegara
Dalam kitab Negarakertagama, putra Raden Wijaya bernama Jayanegara. Namun dalam kitab Pararaton, dia dikenal dengan nama Kalagemet yang berarti “lemah” dan “buruk”.
Konon nama Kalagemet disematkan sebagai sindiran terhadap perilaku Jayanegara yang kerap menyakiti rakyat Majapahit.
Jayanegara merupakan putra dari raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya. Jayanegara merupakan anak Raden Wijaya dengan Dara Petak, seorang perempuan Melayu.
Sosok Jayanegara dikisahkan sebagai orang yang berbeda jauh dengan sang ayah. Dia memiliki tabiat buruk, sehingga banyak rakyat yang membencinya.
Tragedi Pembunuhan Jayanegara
Kisah tragis Jayanegara tidak berhenti pada pemberontakan saja. Meski berkali-kali selamat dari pemberontakan, Raja Jayanegara akhirnya tewas usai ditikam oleh Tanca, salah satu abdi ndalem kerajaan yang istrinya digoda oleh raja.
Dalam kitab Pararaton dikisahkan bahwa saat itu Raja Jayanegara sedang menderita bisul dan memanggil Tanca untuk mengobatinya. Saat menjalani pengobatan, Tanca malah menikam Jayanegara hingga tewas.
Kendati demikian, misteri kematian Raja Jayanegara masih menjadi perbedatan sejarawan.
Ada versi yang menyebutkan bahwa Gajah Mada yang sebenarnya dalang di balik pembunuhan tersebut. Itu dilakukan agar bisa menyingkirkan Raja Jayanegara.
Versi satu ini diperkuat tafsir sejarah dalam buku Tafsir Sejarang Kertagama dan buku Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara.
Candi Bajang Ratu
Usai meninggal dunia, Raja Jayanegara pada 1328 didharmakan di Candi Srenggapura di Kapopongan.
Kendati demikian, Candi Bajang Ratu di Desa Temon, Trowulan, Mojokerto dianggap sebagai tempat penghormatan untuk Raja Jayanegara.
Mitos lokal menyebutkan bahwa Raja Jayenegara merupakan raja gagal dan para pejabat yang mengunjungi Candi Bajang Ratu harus memutar dari sisi kiri atau kanan jika tidak ingin kehilangan jabatan.
Editor : Noor Syafaatul Udhma