Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Kiprah Dokter Moewardi, Tokoh Pahlawan Nasional Asal Pati yang Ikut Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Fairus Salsabila Zahro • Selasa, 14 Januari 2025 | 02:10 WIB
Dr. Moewardi (Koleksi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pati 2020)
Dr. Moewardi (Koleksi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pati 2020)

Dr. Moewardi merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia yang dilahirkan di Desa Randukuning, Pati, Provinsi Jawa Tengah, pada 30 Januari tahun 1907.

Namanya pernah diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit yang ada di Surakarta, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, Solo, Jawa Tengah.

Dr. Moewardi ialah putera ke-7 dari Mas Sastrowardojo dan Roepeni.

Awalnya, Moewardi disekolahkan di Sekolah Rakyat Bumiputra yang ada di desanya, namun karena ia merupakan anak yang sangat cerdas, pada tahun 1913 ayahnya memindahkannya ke HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Kudus.

Ini adalah sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda. 

Setelah dari sekolah HIS tersebut, ayahnya mendaftarkan Moewardi ke ELS (Europeesche Lagere School) di Pati.

Selama menempuh pendidikan, Moewardi dikenal sebagai murid yang pintar, dan aktif sebagai seorang pramuka.

Lulus dari ELS tahun 1921, ayahnya kemudian meminta kepada Dr. Umar yang merupakan ayah angkat Mayjen Ernest Julius Magenda, Direktur Intelejen ABRI era 1960-an untuk bisa memberi rekomendasi supaya Moewardi bisa masuk ke STOVIA.

STOVIA merupakan School Tot Opleiding Voor Inlandsche Aartsen atau Sekolah Dokter Bumiputra, di Batavia (Jakarta).

Akhirnya Moewardi berhasil masuk ke STOVIA dan mampu menamatkan sekolahnya hingga akhir.

Namun, perlu waktu sangat lama untuknya memperoleh ijazah dokternya, bukan karena Moewardi tidak pintar, melainkan karena waktu belajar yang ia miliki terlalu banyak digunakan untuk berperan aktif dalam kancah pergerakan rakyat Indonesia. Ia sangat aktif di dunia mahasiswa.

Setelah berhasil lulus dari STOVIA, Moewardi memutuskan untuk membuka praktek sebagai dokter, yaitu dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan atau dokter THT, di Batavia tahun 1933. 

Setelah bertahun-tahun praktek sebagai dokter, Moewardi tetap ingin memperdalam ilmunya dengan mengambil spesialisasi THT di GH (Geneeskundig Hoogeschool) dan menjadi asisten di rumah sakit yang kini bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Moewardi resmi jadi dokter spesialis di tahun 1939. Pada tahun yang sama, Moewardi juga membentuk sebuah organisasi yang menyatukan semua kelompok kepanduan Indonesia.

Kiprahnya tidak berhenti begitu saja, ia juga turut aktif dalam usaha melawan penjajahan di Indonesia.

Di masa-masa pendudukan Jepang, Moewardi bertugas memimpin Barisan Pelopor Kota Istimewa Jakarta. Saat itu, Moewardi sempat dicari-cari oleh tentara Jepang dikarenakan perlawanannya. 

Moewardi sempat berdebat dengan Soekarno. Ia mendesak Soekarno untuk dapat segera membacakan proklamasi kemerdekaan RI, namun hal itu ditolak Soekarno karena menunggu Moh. Hatta. 

Setelah adanya desakan serta dukungan dari kelompok pergerakan pemuda, Soekarno dan Moh. Hatta pun memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 di Jalan Pegangsaan Timur. 

Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan, Moewardi lalu ditunjuk sebagai ketua umum barisan pelopor.

Pada tahun 1948, Moewardi sempat aktif terjun ke dunia politik. 

Pada 1948 juga, Mayor Hendroprijoko, Jenderal TNI sempat mencegah Moewardi untuk berpraktek karena saat itu kondisi negara sedang darurat.

Namun, Moewardi tidak mengindahkan perkataan Mayor Hendroprijoko dan tetap menjalankan praktek operasinya di rumah sakit.

Beberapa waktu kemudian setelah ia menjalankan operasi di rumah sakit, Moewardi diculik dan tak pernah terlihat lagi.

Setelah itu, dikabarkan bahwa semua korban penculikan termasuk juga Moewardi ternyata tewas dibunuh. 

Melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 190 Tahun 1964, Moewardi diberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Selain namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Solo yaitu Rumah Sakit Dr. Moewardi, namanya juga digunakan sebagai nama jalan di sejumlah kota di Indonesia. 

Moewardi sempat mendapat julukan "dokter gembel" karena perilakunya yang sederhana dan sangat dermawan di lingkungan masyarakat sekitar.

Moewardi senang menolong dan memberi santunan kepada orang-orang yang membutuhkan. 

 

Referensi 

https://esi.kemdikbud.go.id/wiki/Moewardi

Editor : Ali Mustofa
#indonesia #pati #moewardi #pahlawan #dokter