Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Horor Pesugihan Melon, Ritual Penumbalan Anak dalam Kandungan di Jawa Tengah

Noor Syafaatul Udhma • Jumat, 8 November 2024 | 18:59 WIB
Iluatrasi horor
Iluatrasi horor

RADAR KUDUS – Kisah horor ini terjadi pada 2021 di Jawa Tengah. Saat itu Mamat, sedang membuka usaha rental mobil. Selama menjalankan usahanya, Mamat juga menawarkan jasanya menjadi driver juga.

Salah satu orang yang pernah menggunakan jasa Mamat yakni temannya bernama Beni. Si Beni ini memiliki istri bernama Sari. Saat itu Sari sedang mengandung anak pertamanya. Usia kandungnya memasuki 5 bulan.

Suatu hari, Beni menelepon Mamat.  

“Halo Mat, aku mau rental mobil pekan depan. Kalau misalnya kamu senggang, kamu sekalian yang jadi drivernya, bisa enggak, Mat?” tanya Beni

“Bisa. Bisa. Aku antar kemana?” tanya Mamat

Beni pun menjelaskan bahwa kota yang akan dituju ada di sebelah utara Jawa Tengah. Cukup jauh dari tempat tinggal mereka.

Beni juga mengatakan bahwa Sari, istrinya juga akan ikut dalam perjalanan tersebut.

Mamat pun mengatakan siap mengantar dan menunggu informasi dari Beni waktu perjalanannya.

“Oke Mat. Makasih,” kata Beni.

Hari H Penjemputan

Waktu yang disepakati akhirnya tiba. Mamat pun menjemput Beni dan Sari ke rumahnya. Namun saat tiba di rumah Beni ternyata Beni ada tamu. Tamu tersebut bernama Raka. Nah Raka juga ternyata teman dari Mamat juga.

“Sudah lama di sini, Ka?” tanya Mamat

“Wah iya Mat. Sudah dari tadi aku nungguin kamu,” jawab Raka.

“Lho ada apa kok nungguin aku?” tanya si Mamat kaget. Sebab Mamat merasa tidak memiliki janji dengan Raka.

Sebelum Raka menjawab, Beni datang menemui keduanya lalu mengatakan bahwa Raka juga ikut ke Kota A bersama. Beni beralasan Raka yang mengetahui alamat yang dituju.

“Nanti dia yang jadi penunjuk jalan,” kata Beni.

“O begitu. Baiklah,” jawab Mamat.

Mamat pun menanyakan alamat mana yang akan mereka tuju. Namun Beni diam sebentat dan tidak lansung menjawab pertanyaan dari Mamat.

Beberapa saat kemudian, Beni lalu menceritakan sesuatu sebelum mereka berangkat.

Beni pun mengaku bahwa alamat yang akan dituju yakni alamat seorang dukun. Namanya Mbah Didin. Mbah Didin terkenal sekali di Kota A dan memiliki banyak pelanggan. Konon katanya salah satu ritual yang menjadi keahlian dari Mbah Didin yakni Pesugihan Melon.

Pesugihan Melon adalah sebutan untuk praktik pesugihan yang menumbalkan anak dalam kandungan.

Katanya pesugihan ini sering dilakukan Mbah Didin. Itulah alasan kenapa Beni akan mendatangi Mbah Didin untuk melakukan praktik pesugihan.

Beni dan Sari memang sangat menantikan kehadiran buah hati pertamanya. Beni juga sangat ingin membesarkan seorang anak.

Namun karena Beni terlilit utang, maka mereka mengambil jalan pintas dengan nekat melakukan pesugihan melon dan menumbalkan calon bayinya.

Mamat langsung syok mendengar pengakuan dari Beni.

“Gila kamu Ben. Itu anak kandungmu. Anak yang kau inginkan. Kok tega menumbalkan darah dagingmu sendiri?” tanya Mamat ak percaya.

Beni pun mengaku tidak memiliki pilihan lain. Dia harus melakukan pesugihan melon agar masalah keuangan yang menjeratnya bisa selesai.

“Aku sudah berdiskusi dengan Sari dan Sari juga sudah setuju,” katanya.

Beni berjanji ketika kelak dia sudah kaya, dia akan siap membesarkan anaknya kedua, ketiga, dan selanjutnya. “Biar anak anak pertama dikorbankan untuk anak-anak selanjutnya,” kata Beni.

Mamat sangat syok mendengar jawaban dari Beni. Namun Mamat tidak bisa berbuat apa-apa. Selain itu dia sudah terlanjut memenuhi janji mengantarkan mereka ke Kota A.

“Aku gak mau ikut-ikutan tentang pesugihan melon ini ya Ben. Aku hanya mengantar kalian,” kata Mamat.

“Iya Mat. Aman. Kamu hanya nganterin aku saja,” jawab Beni.

Mereka pun akhirnya berangkat. Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, mereka akhirnya sampai di rumahnya Mbah Didin di Kota A.

Tanpa basa basi, Beni lalu mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah Mbah Didin karena ingin melakukan ritual pesigihan melon. Namun Mbah Didin mengaku ritual itu tidak bisa dilakukan saat itu juga karena ada sayarat-syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Mbah Didin lalu menyebutkan syarat untuk melakukan ritual pesugihan melon. “Siapkan kain mori, dupa, kemenyan, jajanan pasar, satu kardus berukuran besar, dan uang Rp 3 juta untuk dilarung disungai,” kata Mbah Didin.

Setelah mendengar persyarakat tersebut, Beni, Sari, Raka, dan Mamat akhirnya balik pulang. Dalam perjalanan Beni pun meminta mamat untuk mengantarkannyakembali ke Kota A untuk melakukan ritual Pesugihan Melon tersebut. Beni beralasan agar tidak ada orang lain yang tahu dengan ritual yang akan dijalankannya tersebut.

Setelah semua persyaratannya sudah siap, Mamat pun meminta Beni mengantarkan ke rumah Mbah Didin.

Ritual Pesugihan Melon dengan Menumbalkan Janin dalam Kandungan

Mereka berangkat pukul 14.00 dan sampai di rumah Mbak Didin pukul 17.00. Kebtulan saat itu, Mbah Didin sedang kedatangan tamu.  Mereka pun menunggu di teras rumah. Tak hanya Mamat, Beni, Sari, dan Raka, di teras rumah Mbah Didin juga ada anaknya Mbah Didin sebut saja Mas Pur.

“Mas, biasanya yang ke sini itu ritualnya apa saja Mas?” tanya Mamat.

“Macam-macam Mas. Ada yang Pesugihan Melon. Ada juga Penglaris Tuyul. Tetapi biasanya ritualnya tidak di sini. Soalnya di sini ramai orang,” kata Mas Pur.

“Lha terus rituanya dimana?” tanya Mamat.

“Di desa sebelah. Bapak saya ada pondok khusus ritual,” jawab Mas Pur.

Setelah emnunggu beberapa lama, akhirnya Beni masuk. Syarat-syaratnya diperiksa. Setelah siap, mereka akhirnya berangkat ke pondok di desa sebelah.

Pondoknya tersbeut berada di desa sebelah dan jauh sekali dari pemukiman warga. Karena jalan sempit, mobil mereka tidak bisa masuk. Maka mereka terpaksa jalan kaki menuju pondok yang dituju.

Sepanjang jalan menuju pondok tersebut tidak ada penerangan dan lokasi pondoknya dikelilingi pohon-pohon yang rimbun. Pondok tersebut dekat dengan sungai besar.

Pertama-tama Sari diminta mandi sendirian di sungai. Uang tunai Rp 3 juta juga harus dilarungkan di sungai. Kemudian Mbah Didin memberikan satu bungkus kain putih kepada Beni. “Nanti pas uangnya dilarung, bungkusan ini juga dilarungkan bersama,” kata Mbah Didin.

Mereka pun berpencar. Sari mendi di sungai. Beni melarungkan uang dan kain putih pemberian Mbah Didin. Mbah Didin menyiapkan ritual di pondok, sedangkan Mamat dan Raka berada di teras.

Setelah semua selesai, mereka kumpul di pondok. Di situlah ritualnya dimulai. Namun sebelum ritual dimulai, Mbah Didin meminta kardu besar.

Ternyata kardus itu tertinggal di mobil. Beni pun meminta Mamat mengambil kardus di mobil.

Mamat menyusuri jalanan tersebut yang sepi dan sempit. Setelah menemukan kardus di dalam mobil, Mamat pun balik, tetapi saat perjalanan Mamat melihat ada bayangan hitam di pohon-pohon bambu yang dia lewati.

 Bayangan tersebut ternyata semakin besar. Tak hanya itu, Mamat semakin merinding saat ada suara bambu yang dipukul-pukul. Makin lama suaranya semakin kencang. Dia pun berlari sekencang mungkin menuju pondok.

“Pucat kali mukamu Mat. Kau kenapa?” tanya Raka.

Kardus pun diberikan kepada Beni untuk selanjutnya diberikan ke Mbah Didin.

“Apa yang mau kalian inginkan?” tanya Mbah Didin.

“Kalau kalian masukkan daun ke dalam kardus ini maka daun yang akan berlimpat ganda. Bila uang, maka uang kalian yang akan berlipat ganda,” kata Mbak Didin.

Beni dan Sari kompak meminta uang. Maka Beni memasukkan uang Rp 100 ribu dalam kardus.

Setelah itu Mbah Didin meminta Beni dan Sari keluar. Mereka pun menunggu hingga berjam-jam.  

Sekitar pukul 00.00 mereka dipanggil masuk ke dalam pondok. Kemudian mereka diminta masuk ke sebuah ruangan gelap. Nanti “Sari akan tidur di sini.

Bila Sari takut tidur sendiri, maka kalian boleh menemai tetapi jangan ganggu ritualnya. Selain itu kardus yang sudah aku tutup dengan kain mori itu jangan sampai disentuh apalgi disenggol. Aku tunggu di luar sampai selesai,” kata Mbah Didin.

Ritual Pesugihan Melon Gagal 

Pada pukul 03.00 tiba-tiba terdengar letusan dari dalam ruangan ritual. Mamat dan Raka kaget. Selang ebberapa saat, Sari keluar dan mengadu sakit luar biasa diperutnya.

“Aku gak sanggup Mbah,” kata Sari.

“Jangan keluar. Ritualnya belum selesai,” jawab Mbah Didin.

“Aku sudah gak kuat mbak. Sakit sekali perutku,” kata Sari.

“Mana Beni?” tanya Mbak Didin

“Masih di dalam mbah,” jawba Sari yang masih kesakitan.

Saat dicek, Beni sedang duduk berjongkok sambil memegang kardus yang ditutup kain mori tersebut.

Setelah kain mori dibuka, kardus itu ada tumpukan uang sangat banyak. Melihat itu Mbah Didin sangat kesal. Karena kardusnya belum penuh. “Ini belum selesai ritualnya,” kata Mbah Didin.

“Apakah nyai sudah datang,” kata Mbah Didin.

“Saya sudah tengok nyai mbah,” jawab Sari.

“Pas perutmu ditusuk-tusuk jarum, berarti nyai akan mengambil anakmu. Kamu tahu kan kalau ritual ini ritual tumbal bayi,” jawab Mbah Didin kesal.

Mbah Didin mengatakan seharusnya Sari tetap diam hingga selesai. Sebab ritualnya belum selesai. “Kalau seperti ini nyai bisa-bisa marah,” kata Mbah Didin.

Beni pun meminta maaf dan meminta solusi. Mbah Didin pun meminta Beni dan Raka mengambil air sendang. Saat naik ke pondok, Beni dan Raka melihat sosok perempuan dengan pakaianserba kerajana Jawa sedang berdiri di tengah sendang sambil gendong bayi.

“Bilang sama temanmu aku sudah tidak marah pada mereka. Tetapi kalau mereka mau meminta haknya mereka harus bertemu aku di sini,” katanya.

Mbah Didin pun langsung berlari menuju ke ruangan ritual. Uang yang berada di kardus sudah hilang. Selain itu bayi dalam kandungan Sari juga diambil. “Nyari sudah mengambil uang tersebut,” kata Mbah Didin.

“Lalu gimana mbah ini. Apa kami harus mengulang,” tanya Beni.

“Kalau mau mengulang, yang nyai mau nyawa salah satu dari kalian,” kata Mbah Didin. Mendengar itu, semuanya pucat pasi.

Ritual Pesugihan Melon tersebut gagal. Bayi mereka ditumbalkan dan mereka tidak mendapatkan uang yang diinginkan. Mereka pun kembali ke rumah dengan perasaan kecewa.

Setelah kejadian itu, Mamat masuk rumah sakit dan setelah sembuh tidak mengetahui kondisi dari Beni dan Sari.

Namun 4 bulan kemudian, Benidapat kabar anak yang ada dalam kandungan Sari lahir tetapi tidak sempurna. Selang tiga hari bayi itu meninggal dunia.  

Kisah diambil dari YouTube Nadia Omar dari cerit Mamat di Jawa Tengah

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#Horor #tumbal #pesugihan #pesugihan bersekutu dengan iblis #Horor Indonesia #mistis #jawa tengah #Mistis dan Sakral #mitos