RADAR KUDUS – Sosok Ratu Shima, salah satu pengusa perempuan di Kerajaan Kalingga yang dikenal berani, tegas, dan adil. Selama memimpin, Ratu Shima selalu menerapkan prinsip keadilan.
Profil Ratu Shima
Dikutip dari buku “Pasang Surut Runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha dan Bangkitnya Kerajaan Islam Nusantara, Kerajaan Kalingga konon didirikan oleh pelarian dari India. Pelarian dari India ini menganut agama Hindu dan Buddha.
Kerajaan Kalingga diperkirakan didirikan sejak abad ke-6 dan terletak di pesisir utara Jawa.
Wilayah kekuasannya meliputi Jepara, Purwodadi, Blora, Salatiga, dan Pelakongan.
Salah satu pengusa Kerajaan Kalingga yakni Ratu Shima yang memerintah pada 674-695 M.
Sosok Ratu Shima memiliki peranan penting dalam besarnya Kerajaan Kalingga. Sosoknya dikenal sangat adil dan bijaksana.
Tak heran selama kepemimpinannya, Kerajaan Kalingga mencapi puncak kerajaan.
Ratu Shima merupakan putri dari Prabu Wasugeni dan istri dari Raja Kirathasingha.
Ratu Shima Dikenal Sangat Adil dan Keras
Ratu Shima sangat terkenal di tanah Jawa. Hal itu karena kepemimpinannya yang sangat adil dan keras.
Dia menerapkan peraturan yang kejam terhadap segala bentuk kejahatan, khususnya pencurian.
Tak heran karena peraturan itu membuat masyarakat di Kerajaan Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak kebenaran.
Ratu Shima tak segan memberi hukuman bagi siapa saja yang melanggar aturan, termasuk anggota keluarganya sendiri.
Ratu Shima Tak Segan Menghukum Putra Mahkota
Ada sebuah cerita menghebohkan tentang peraturan yang dibuat Ratu Shima. Suatu hari putra mahkota menyentuh sebuah kantong emas milik Ratu Shima.
Karena perbuatan tersebut, Ratu Shima menjatuhkan hukum mati kepada putra mahkota. Namun hukuman itu dibatalkan karena Dewan Menteri Kerajaan meminta agar putra mahkota tidka dihukum mati.
Kendati selamat dari hukuman mati, putra mahkota tetap menerima hukuman potong kaki karena bagian kaki putra mahkota menyentuh kantong emas sang ratu.
Meski terdengar sangat kejam, tetapi Ratu Shima memang sudah membuat aturan tersebut yang harus dipatuhi seluruh masyarakat termasuk anaknya sendiri. Hal ini dilakukan agar masyarakt selalu jujur dan keadilan harus ditegakkan.
Silsilah Keturunan Ratu Shima
Ratu Shima memiliki seorang anak bernama Parwati. Parwati kemudian menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh bernama Mandiminyak.
Dari pernikahan tersebut, Ratu Shima memperoleh seorang cucu bernama Sannaha.
Sannaha menikah dengan raja ketiga Kerajaan Galuh bernama Bratasenawa dan melahirkan anak bernama Sanjaya.
Setelah Ratu Shima meninggal dunia, Sanjaya diangkat menjadi raja dan memerintah di wilayah Kalingga Uatra.
Konon wilayah ini menjadi cikal bakal Bumi Mataram sehingga keturunanya dikenal dengan Dinasti atau Wangsa Sanjaya penguasa Mataram Kuno.
Ratu Shima Meninggal Candi Angin di Jepara
Ada beberapa peninggalan Kerajaan Kalingga yang dapat kita saksikan hingga saat ini. Peninggalan tersebut berupa candi hingga prasasti.
Baca Juga: Setelah RA Kartini dan Ratu Kalinyamat Bergelar Pahlawan Nasional, Kini Giliran Pemkab Jepara Telusuri Sejarah Keberadaan Ratu Shima
1. Candi Angin di Jepara
Candi Angin merupakan salah satu candi yang konon peninggalan dari Ratu Shima. Candi ini berada di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Candi ini diberi nama candi angin karena terletak di tempat tinggi yang tetap kokoh mesti diterpa angin.
- Candi Bubrah
Candi ini menjadi salah satu candi Buddha yang berada di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan. Lokasinya di antara Percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu.
- Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabak, Magelang, Jawa Tengah.
Dalam prasasti bertuliskan huruf palwa yang mengisahkan mengenai mata iar yang bersih dan jernih disamakan dengan Sungai Gangga di India.
Selain dalam prasasti itu juga terdapat trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai yang menyimbolkan hubungan dewa Hindu dengan manusia.
- Prasasti Sojomerto
Prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto yang berada di Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dalam prasasti ini dperkirakan berasal dari abadi ke-7 M. Prasati ini mengisahkan mengenai kemunculan tokoh bernama Dapunta Salendra yang menjadi sikal bakal raja-raja.
Editor : Noor Syafaatul Udhma