Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Asal Usul dan Sejarah Panggilan Gus, Apakah Panggilan Gus untuk Keturunan Nabi?

Noor Syafaatul Udhma • Jumat, 11 Oktober 2024 | 22:05 WIB
GUS BAHA saat menyampaikan nasihat.
GUS BAHA saat menyampaikan nasihat.

RADAR KUDUS – Bagi sebagian orang Jawa mungkungkin sudah tak asing dengan sebutan gus. Sebutan gus menarik diperbincangkan karena banyak netizen yang mempertanyakan sebutan gus.

Sebagian mempertanyakan sebutan gus ini merupakan gelar atau bisa digunakan untuk laki-laki yang berada di pesantren.

Ada pula yang beranggapan gus merupakan keturunan nabi. Ada pula yang menyangka panggilan gus ini sebuah gelar.

Gus Dur, Gus Miftah, Gus Mus, hingga Gus Baha’ Dipanggil Gus

Banyak tokok-tokoh di Indonesia yang dipanggil gus. Padahal nama aslinya bukan gus. Misalnya saja Gus Dur memiliki nama asli Abdurrahman Wahid.

Presiden keempat RI ini memiliki nama panggilan Dur yang kemudian ditambah dengan Gus, sehingga menjadi Gus Dur.

Sahabat Gus Dur yakni Gus Mus juga dipanggil Gus. Gus Mus memiliki nama lengkap Ahmad Mustofa Bisri yang kemudian dipanggil Gus Mus.

Gus Miftah yang viral dan sering menikahkan artis-artis memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman yang kemudian dipanggil Miftah lalu familiar disapa Gus Miftah.

Salah satu tokoh agama asal Rembang yang juga dipanggil gus yakni Gus Baha’. Gus Baha’ memiliki nama lengkap Ahmad Bahauddin Nursalim yang kemudian dipanggil Gus Baha’.

Asal Usul Panggilan Gus

Menurut salah satu artikel berjudul Mengenal Sejarah Asal Usul Panggilan Gus yang ditulis oleh K.R.M.H Tommy Agung Hamidjoyo menjelaskan bawah panggilan gus awal mulanya muncul dari ndalen kraton.

Panggilan itu diperuntukan khusus untuk kalangan putra raja yang biasa dengan sebutan Gusti atau Gus. Sebutan ini familiar digunakan sebelum kemerdekaan.

Saapn Gusti atau Gus ini dimulai pada masa Pakubuwono IV pada 1788-1820 M yang dikenala sebagai masa punaknya peradaban Kraton Mataram Islam setelah Sultan Agung dengan adanya para Santri Pitu atau Tujuh Ulama besar Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Maka sudah turun terumrun anak laki-laki putra raja sampai hari ini dipanggil Gusti atau Den Bagus, Raden Bagus.

Panggilan Gusti atau Den Bagus hanya ada pada golongan priyai di masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur yang awalnya dibawa oleh para ulama kerajaan dan kiai dalem kraton yng kemudian dibawa keluar untuk menyapa putra anak laki-lakinya mereka juga dengan sapaan Den Bagus.

Seiring berjalannya  waktu ratusan waktu kemudian sebutan Den Bagus digunakan oleh golongan priyayi Jawa di luar kraton seperti golongan ulama kiai dan golongan saudagar untuk memanggil anak laki-laki mereka degan menghilangkan kata “Raden” atau “Den) sehingga tinggal Bagus atau Gus.

Gus Digunakan untuk Menyebut Putra Pemimpin Pesantren

Menurut buku Baoesastra, sapaan Bagus dalam bahasa Jawa diartikan bocah lanang sing rada duwur pangkate atau sebutan bagi anak lelaki yang memiliki kedudukan tinggi.

Saat masa kemerdekaan, pesantren mulai tumbuh dan berkembang pesat di tanah Jawa. Maka nama sapaan gus kemudian digunakan untuk menyebut putra pimpinan pesantren.

Panggilan Gus ini kemudian perlahan menjadi semacam gelar bagi anak-anak kiai terutama di kultur NU. Lambat laun penggunaan gus digunakan untuk menyebut putra kiai. Putra kiai biasanya diperlakukan secara khusus karena diharapkan menjadi penerus sang kiai.

Perlakukan khusus itu dengan memberi gelar sapaan khusus yakni gus.

Namun ada juga orang yang disebut gus karena tokok psiritual atau mubalig. Dan itu sah-sah saja.

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#gus dur #gus miftah berdakwah dengan pelacur #Gus Baha #gus mus #gus miftah #Gus Mus meminta masyarakat gunakan nurani memilih pemimpin #kerajaan #Gus Dur Bapak Tionghoa Indonesia #Gus #gus dur bapak toleransi #gus dur bapak pluralisme