RADAR KUDUS – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin bercerita soal sulitnya membuka sekolah dokter spesialis di Indonesia.
Ia mengungkapkan kendala yang dihadapi dan mengakui adanya persaingan antar kelompok dokter spesialis sehingga ketersediaan dokter spesialis sulit terpenuhi.
Hal ini ia sampaikan saat hadir mengisi podcast Deddy Corbuzier yang tayang pada Selasa (17/9/2024) sebelum ia juga pamit undur diri sebagai Menteri Kesehatan dimana jabatannya berakhir pada Oktober mendatang.
Ia mengakui, sulitnya memenuhi ketersediaan dokter spesialis ini karena Pendidikan spesialis di Fakultas Kedokteran (FK) sedikit.
Bila pun ada, kuota pesertanya setiap tahun juga masih kurang.
Baca Juga: Kabar Baik! Pengumuman Hasil Administrasi LAN RI Dirilis, Ini Linknya
“Kita kurang dokter spesialis. Kursi pendidikannya gak ada, gak ada kursi gak ada bangkunya. Dari 92 FK, Cuma ada 21 yang bisa pendidikan spesialis. Dari pendidikan spesialis ini yang bisa sub-spesialis ini cuma berapa mungkin 8, kecil sekali. Jadi gak dipersiapkan dari dulu memang,” jelas Budi.
Ia juga bercerita dirinya sudah mendapat bantuan dari Menteri Keuangan untuk beasiswa dokter spesialis tersebut. Namun, hal tersebut belum tentu langsung bisa menyelesaikan persoalan.
Baca Juga: SIMAK! Pendaftaran KPPS Resmi Dibuka, Ini Daftar Gajinya
Ia menilai ada persaingan antar kelompok dokter spesialis sehingga tak hanya program sekolah spesialis yang sulit dibuka, namun juga dalam praktiknya di Rumah Sakit.
“Untuk urus perizinan sekolah, buka satu aja gak dikasih ijin, gak difasilitasi sama kelompok (dokter) lainnya. Antara satu kelompok spesialis dengan spesialis lain terjadi persaingan mengerjakan prosedur tertentu.
Dan ini menjadi isu yang sangat sensitif. Sering terjadi pertarungan, bahwa ini yang ngerjain hanya boleh saya, yang ini gak boleh. Dan soal ini mereka bisa sangat fierce bertarungnya,” jelas Budi.
Baca Juga: Kabar Baik! Pengumuman Hasil Administrasi CPNS BKKBN 2024 Diumumkan, Ini Linknya
“Jadi saya buka aja contohnya. Pada saat saya pasang cath lab, itu butuh spesialis jantung pembuluh darah sub-spesialis intervensi, jadi gak hanya butuh spesialis jantung aja. Karena ini butuh pendidikan khusus. Karena kurang (dokternya) saya kasih beasiswa. Nah, spesialis penyakit dalam gak suka.
Saya kan gak ngerti, saya bukan orang Kesehatan, nah ternyata yang pasang ring itu ada dua grup: dia bisa spesialis jantung intervensi bisa spesialis penyakit dalam kardiovaskular,” lanjutnya.
Baca Juga: 7 TIPS Lolos Seleksi Kompetensi Dasar (SKD), Penting Untuk Anda Ketahui
“Yang saya tidak pahami, kedua grup ini bersaing siapa yang bisa melakukan ini, nah ini masalah. Dan Itu banyak terjadi. Lalu untuk kasus kemoterapi, itu dibawah layar ada pertarungan antara bedah onkologi dan bedah hemato-onkologi,” kata Budi.
Ia juga memberi contoh bagaimana dokter membagi jatah pekerjaan mereka.
Baca Juga: Simak! Cara Sanggah setelah Pengumuman Hasil Administrasi CPNS 2024
“Misalnya pasien diberikan botox. Sepertiga diatas boleh dokter umum sebagian dibawah harus dokter spesialis kulit dan kelamin, jadi bagi-bagi jidatnya gitu. Ada persaingan antar kelompok dokter, dan itu menurut saya Indonesia susah kerja tim.
Ini saya ngomong sebagai orang luar ya, tapi saya rasa ini sebagai wake up call yuk jangan gini lagi," jelasnya saat berdiskusi bersama Deddy terkait permasalahan kurangnya dokter spesialis di Indonesia.
Editor : Ali Mustofa