Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

KRONOLOGI Pemukulan Wasit di Sepak Bola PON XXI Aceh-Sumut 2024, Wasit Dilarikan ke IGD

Zakarias Fariury • Minggu, 15 September 2024 | 19:36 WIB

 

KRITIS: Sebuah ambulans terlihat di lapangan saat pertandingan sepak bola putra antara Aceh melawan Sulawesi Tengah di Stadion Dimurthala, Sabtu, 14 September 2024. (ANTARA/Hendri Sukma Indrawan)
KRITIS: Sebuah ambulans terlihat di lapangan saat pertandingan sepak bola putra antara Aceh melawan Sulawesi Tengah di Stadion Dimurthala, Sabtu, 14 September 2024. (ANTARA/Hendri Sukma Indrawan)

RADAR KUDUS - Pertandingan perempat final sepak bola PON XXI Aceh-Sumut 2024 yang mempertemukan tim sepak bola putra Aceh dengan Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Sabtu (14/9/2024) di Stadion Dimurthala, Banda Aceh, berakhir dengan kericuhan.

Insiden tersebut bahkan memuncak dengan pemukulan terhadap wasit oleh pemain Sulteng, Rizki Saputra.

Dalam laga penuh kontroversi ini, Aceh dinyatakan menang walkover (WO) setelah tim Sulteng memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan.

Sulteng Unggul di Awal, Ketegangan Meningkat

Pertandingan sempat berjalan lancar di awal. Tim Sulteng mampu unggul lebih dulu melalui gol yang dicetak oleh Alan Wahyu pada menit ke-24.

Skor 1-0 memberikan harapan bagi tim Sulteng untuk bisa melaju ke semifinal.

Namun, pertandingan mulai memanas pada menit ke-38 ketika terjadi perselisihan antara pelatih Sulteng dan staf pelatih Aceh di pinggir lapangan.

Ketegangan ini memicu reaksi dari suporter tuan rumah yang tidak terima, hingga beberapa dari mereka melemparkan botol minuman ke lapangan sebagai bentuk protes.

Kartu Merah dan Permainan Keras

Situasi di lapangan semakin panas memasuki babak kedua. Pada menit ke-74, pemain Sulteng bernomor punggung 25, Wahyu Alman, menerima kartu merah langsung setelah melakukan pelanggaran keras.

Upaya Wahyu untuk membuang bola dengan mengangkat kakinya terlalu tinggi hampir mengenai kepala salah satu pemain Aceh, yang membuat wasit tidak ragu mengusirnya keluar lapangan.

Dengan hanya 10 pemain di lapangan, Sulteng terpaksa bertahan lebih defensif.

Permainan keras yang ditampilkan oleh Sulteng terus berlanjut, menyebabkan wasit harus sering mengeluarkan kartu kuning.

Puncaknya, pada menit ke-85, Moh Akbar, pemain Sulteng lainnya, juga mendapatkan kartu merah.

Insiden ini kembali memicu ketegangan di lapangan dengan sejumlah protes dari kubu Sulteng.

Perselisihan antara pemain dan wasit pun terjadi, membuat pertandingan sempat terhenti selama beberapa menit.

Setelah suasana mulai mereda, wasit memutuskan untuk menambah waktu tambahan selama 13 menit.

Kontroversi Penalti dan Pemukulan Wasit

Kontroversi terbesar terjadi pada menit ke-97 ketika wasit memberikan hadiah penalti kepada tim tuan rumah Aceh.

Keputusan ini dinilai tidak adil oleh tim Sulteng, karena berdasarkan tayangan ulang, jelas terlihat bahwa pemain Aceh melakukan aksi diving di dalam kotak penalti.

Keputusan wasit yang kontroversial ini memicu kemarahan dari para pemain Sulteng.

Kemarahan tersebut memuncak ketika Rizki Saputra, pemain bernomor punggung 15 dari Sulteng, kehilangan kendali emosinya dan memukul wasit di bagian kepala.

Wasit yang terkena pukulan langsung terjatuh dan membutuhkan perawatan medis di lapangan.

Setelah beberapa menit mendapatkan perawatan, wasit kemudian dievakuasi menggunakan ambulans.

Insiden pemukulan ini menciptakan kericuhan besar di stadion, dengan suporter tuan rumah yang kembali melempar botol ke dalam lapangan.

Meski sempat terhenti akibat insiden tersebut, pertandingan akhirnya kembali dilanjutkan setelah beberapa menit.

Rizki Saputra diberikan kartu merah oleh wasit, menjadikan ini kartu merah ketiga bagi tim Sulteng. Dengan hanya delapan pemain di lapangan, Sulteng semakin kesulitan mempertahankan keunggulan mereka.

Tak lama setelah insiden tersebut, tim Aceh kembali mendapatkan penalti setelah pemain Sulteng dianggap melakukan handball.

Akmal Juanda, yang dipercaya sebagai eksekutor, berhasil menjalankan tugasnya dengan baik dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Setelah pertandingan memasuki waktu tambahan, wasit membunyikan peluit panjang tanda berakhirnya waktu normal.

Seharusnya, laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Namun, tim Sulteng memutuskan untuk walk out sebagai bentuk protes terhadap serangkaian keputusan wasit yang mereka anggap tidak adil.

Dengan keputusan tersebut, tim Aceh dinyatakan menang WO dan melaju ke babak semifinal PON XXI.

Editor : Abdul Rokhim
#pon #Kontroversi wasit PON #Eko Agus Sugiharto #sepak bola PON #pssi #pon 2024 #Kronologi pemukulan wasit PON #Pemukulan wasit PON #Aceh vs Sulteng