Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jayabaya Sudah Meramalkan Gempa Megathrust Akan Membelah Pulau Jawa, Simak Penjelasannya!

Zakarias Fariury • Kamis, 29 Agustus 2024 | 13:42 WIB
Peta Lokasi Zona Megathrust
Peta Lokasi Zona Megathrust

RADAR KUDUS - Masyarakat Indonesia kembali diingatkan akan ramalan Jayabaya, seorang raja dari masa lampau yang dikenal dengan prediksinya tentang masa depan Nusantara.

Salah satu ramalannya yang paling terkenal adalah kemungkinan Pulau Jawa akan terbelah akibat bencana besar.

Ramalan ini kini mendapat perhatian lebih serius, terutama dengan semakin intensnya perbincangan tentang potensi gempa megathrust yang dapat mengguncang wilayah tersebut.

 

Perhatian terhadap ramalan ini semakin meningkat setelah Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono, menyatakan bahwa potensi terjadinya gempa megathrust di zona megathrust Selat Sunda hanya tinggal menunggu waktu.

Pernyataan ini semakin memperkuat kekhawatiran akan bencana besar yang mungkin saja terjadi di Pulau Jawa, sejalan dengan ramalan Jayabaya yang diungkapkan oleh Ki Atmowijoyo, seorang pakar supranatural dan indigo.

Prediksi dan Ramalan Jayabaya: Bencana atau Konflik Sosial?

Ki Atmowijoyo, dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Kisah Dunia Lain pada 17 Mei 2024, mengaitkan potensi gempa besar di Pulau Jawa dengan ramalan Jayabaya.

Ia menjelaskan bahwa ramalan tersebut menyebutkan kemungkinan Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua, yang bisa terjadi karena bencana alam atau konflik sosial.

Baca Juga: Terkait Zona Merah Megathrust, BMKG Ungkap Daerah yang Terancam Gempa Besar Berulang, Mana Saja?

 

Salah satu frasa yang terkenal dari ramalan ini adalah "Wong Jowo kari separo," yang berarti orang Jawa hanya akan tersisa separuh, baik karena bencana alam maupun perang saudara.

Dalam konteks bencana alam, Ki Atmowijoyo merujuk pada pergerakan lempeng megathrust di Selat Sunda.

Menurutnya, jika lempeng tersebut bergerak, gempa yang dihasilkan bisa mencapai kekuatan antara 8,7 hingga 9,8 skala Richter (SR). "Lempeng megathrust di selatan hingga Selat Sunda, jika bergerak, diperkirakan gempanya akan berkekuatan antara 8,7 hingga 9,8 SR," ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa gempa tersebut berpotensi memicu tsunami dengan gelombang setinggi 34 meter, yang dapat menyapu daratan Jawa.

Sejarah dan Siklus Gempa Megathrust

Prediksi Ki Atmowijoyo tidak hanya berdasarkan ramalan, tetapi juga pada pola sejarah gempa besar yang terjadi di masa lalu.

Ia mengingatkan bahwa gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1400-an dan 1600-an, dan siklus 200 tahunan ini menunjukkan bahwa potensi terjadinya gempa besar semakin dekat.

"Polanya sudah dekat, ada potensi yang besar, kita harus waspada," tegasnya.

Baca Juga: Jadi Pusat Gempa Megathrust, Banten dan Selat Sunda bakal Menjadi Wilayah yang Paling Berbahaya? Begini Penjelasannya 

 

BMKG mencatat bahwa zona megathrust Selat Sunda, yang merupakan wilayah pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, terus bergerak dengan laju 60-70 mm per tahun.

Pergerakan ini menciptakan tekanan yang pada akhirnya dapat memicu gempa besar dan tsunami.

Dengan jarak sekitar 170 km dari pusat megathrust Selat Sunda, gempa dari zona ini kerap dirasakan di Jakarta dan sekitarnya, memperlihatkan betapa dekatnya ancaman tersebut.

Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman

Ki Atmowijoyo menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana ini.

Meskipun ramalan Jayabaya membawa pesan yang mengandung unsur mistik, data ilmiah dari BMKG menunjukkan bahwa ancaman gempa megathrust memang nyata dan harus diantisipasi dengan serius.

"Data dan prediksi dari BMKG sudah berbicara, dan gempa memang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya," ungkapnya.

Lebih lanjut Ki Atmowijoyo menegaskan bahwa kesiapan adalah kunci untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

 

Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan berbagai upaya mitigasi.

Seperti membangun konstruksi bangunan yang tahan gempa, mempersiapkan jalur evakuasi, serta mengadakan pelatihan tanggap bencana.

Dengan kesiapsiagaan yang baik, diharapkan dampak dari potensi bencana ini dapat diminimalisir, meskipun prediksi waktu terjadinya gempa tetap menjadi misteri.

Ramalan Jayabaya, meski berasal dari masa lalu, kini seakan mendapatkan relevansinya kembali di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern yang menunjukkan adanya ancaman nyata di wilayah Pulau Jawa.

Kombinasi antara kepercayaan tradisional dan bukti ilmiah ini menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia harus selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan, baik yang datang dari alam maupun yang telah diramalkan sejak dahulu kala. (ury)

Editor : Ali Mustofa
#konflik sosial #bencana alam #Potensi Megathrust Mentawai #selat sunda #megathrust adalah #kapan megathrust #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #gempa hari ini #jakarta #megathrust #gempa bumi #ki atmowijoyo #bencana #nusantara #mitigasi #bmkg #pulau jawa