RADAR KUDUS - Masyarakat di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta, dikejutkan oleh gempa yang terjadi pada Senin, 26 Agustus 2024.
Gempa tersebut menimbulkan kepanikan di kalangan warga, mengingat kekuatan gempa yang cukup signifikan dengan magnitudo 5,8.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan peringatan melalui media sosial, mengonfirmasi bahwa gempa terjadi pada pukul 19.57 WIB dengan pusat gempa berada pada kedalaman 30 kilometer di bawah permukaan bumi.
Gempa ini memperkuat kekhawatiran akan potensi gempa megathrust di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
BMKG sebelumnya telah memperingatkan bahwa Yogyakarta termasuk dalam wilayah rawan gempa megathrust karena lokasinya yang berada di selatan Pulau Jawa.
Yogyakarta berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah barat dan timurnya, serta berada di dekat patahan yang dapat memicu gempa besar.
Secara historis, Yogyakarta telah mengalami serangkaian gempa besar, setidaknya 10 kali sejak tahun 1840.
Beberapa di antaranya adalah Gempa tahun 1840, Gempa tahun 1867, Gempa 27 September 1937, Gempa 23 Juli 1943, Gempa 13 Januari 1981, Gempa 25 Mei 2001, Gempa 27 Mei 2006, Gempa 21 Agustus 2010, Gempa 11 November 2015, dan Gempa 28 Juni 2021.
Sejarah ini menunjukkan bahwa wilayah ini memang sangat rentan terhadap aktivitas seismik yang signifikan.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh para ahli, terdapat 13 kecamatan di Yogyakarta yang dikategorikan sebagai wilayah rawan gempa dan tsunami akibat potensi megathrust.
Di Kabupaten Kulon Progo, yang berada di selatan Yogyakarta dan menghadap langsung ke Samudera Hindia, terdapat empat kecamatan yang sangat rentan, yaitu Kecamatan Temon, Kecamatan Wates, Kecamatan Panjatan, dan Kecamatan Galur.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, memastikan bahwa New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang berada di Kabupaten Kulon Progo telah dibangun dengan standar yang mampu menahan gempa hingga magnitudo 8,5.
"Yogyakarta International Airport itu sudah disiapkan untuk menghadapi Megathrust. Desainnya dirancang tahan gempa hingga 8,5 magnitudo, serta elevasinya lebih tinggi dari elevasi tsunami," jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan pada Selasa, 27 Agustus 2024.
Selain itu, di Kabupaten Bantul, terdapat tiga kecamatan yang juga masuk dalam zona merah potensi Gempa Megathrust, yakni Kecamatan Srandakan, Kecamatan Sanden, dan Kecamatan Kretek.
Kabupaten ini memiliki garis pantai yang panjang dan menjadi lokasi dua objek wisata terkenal, yaitu Pantai Parangtritis dan Gumuk Pasir Parangkusumo.
Dengan demikian, upaya mitigasi perlu lebih ditingkatkan di wilayah ini, terutama di daerah-daerah wisata pantai yang berpotensi terdampak langsung oleh bencana.
Enam kecamatan lainnya yang berada di wilayah administratif Kabupaten Gunungkidul juga diidentifikasi sebagai wilayah berisiko tinggi terhadap gempa megathrust.
Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Kecamatan Purwosari, Kecamatan Panggang, Kecamatan Saptosari, Kecamatan Tanjungsari, Kecamatan Tepus, dan Kecamatan Girisubo.
Penduduk di daerah-daerah ini diimbau untuk selalu waspada karena gempa bumi dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan sebelumnya.
Meski wilayah Kabupaten Sleman tidak termasuk dalam daftar kecamatan yang paling rawan, potensi dampak dari gempa megathrust tetap ada.
Oleh karena itu, masyarakat di wilayah ini juga perlu melakukan persiapan dan mitigasi bencana.
Demikian pula dengan Kota Yogyakarta, meskipun berada cukup jauh dari pantai, masyarakat tetap harus waspada dan siap menghadapi kemungkinan terburuk. (ury)
Editor : Abdul Rokhim