RADAR KUDUS – Istilah “Raja Jawa” masih trending di media sosial dan kini digunakan oleh banyak orang.
Belum banyak orang tahu mengenai istilah tersebut.
Istilah Raja Jawa populer sejak kapan?
Mulanya istilah Raja Jawa ini viral setelah Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Golkar menyebutkan untuk tidak bermain-main dengan “Raja Jawa” dalam pidatonya.
Pidato itu tampak berlangsung saat Rapimnas dan Munas XI Partai Golkar 2024 pada Rabu (21/8/2024).
Baca Juga: Gempa Megathrust Serang Indonesia, Kini Yogyakarta Digoyang, Wilayah Lain Waspada!
Dalam pidato itu, Bahlil tampak mengenakan jas dan dasi kuning Golkar, serta berbicara di podium. Bahlil menyebutkan soal Raja Jawa dan mewanti-wanti para kader dan seluruh anggota Golkar untuk tidak main-main.
Pada durasi video pertama, ia mengajak para anggota untuk fokus ikut mengawal mengundang pemerintahan Prabowo Gibran di masa yang akan datang.
Bahlil juga mengajak Golkar agar bisa lebih baik dari sebelumnya.
Baca Juga: Trending, Gempa 5.8 Guncang Gunung Kidul Yogyakarta, Ini Daftar Daerah yang Terdampak
Bahlil lalu menyebut agar tidak main-main dengan Raja Jawa supaya tidak celaka.
“Jadi kita harus lebih paten lagi. Soalnya kalau Raja Jawa ini, kalau kita main-main celaka kita,” kata Bahlil.
Ia menambahkan sosok Raja Jawa itu mengerikan.
"Saya mau kasih tahu aja, jangan main-main dengan orang ini. Ini, waduh, orang ini ngeri-ngeri sedap, saya kasih tau," kata Bahlil.
Baca Juga: Simak! Kominfo bakal Blokir Bigo Live di Indonesia, Ini Alasannya
Tapi Ia tidak secara gamblang menyebutkan siapa Raja Jawa yang dimaksud.
“Anda sudah melihatlah, menyaksikan, tidak perlu saya ungkapkan lah,” kata Bahlil yang kemudian dapat senyuman dari para hadirin.
Setelah viral, istilah Raja Jawa ini juga disinggung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Ia mengatakan ingin berkenalan dengan Raja Jawa tersebut.
Baca Juga: Benarkah Megathrust Jadi Ancaman? Ini Penjelasan Menperin Agus Gumiwang
Raja Jawa Merujuk pada Presiden Joko Widodo?
Setelah viral, pihak Istana Negara melalui Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) Hasan Nasbi menjelaskan Istana tidak mau berdebat lebih lanjut mengenai sosok Raja Jawa itu. Apalagi hal itu merupakan pernyataan politik di partai politik.
Ia juga mempersilakan masyarakat menafsirkan sendiri terkait sosok "Raja Jawa" tersebut.
"Silakan ditafsirkan masing-masing," kata Hasan.
Meski tidak ada pihak yang menyebut nama Raja Jawa itu, banyak publik telah memahami bahwa Istilah Raja Jawa itu merujuk pada Presiden Joko Widodo.
Dalam beberapa postingan, perujukan istilah tersebut juga disertai dengan gambar dari Presiden Joko Widodo.
Baca Juga: Kabar Baik! BIN Buka Formasi CPNS untuk Lulusan SMA, Ini Syarat dan Ketentuannya
Baca Juga: Briptu Putri Sirty Cikita Dihujat Netizen di Instagram, Duta Sopan Indonesia?
Di media sosial sendiri, istilah Raja Jawa itu akhirnya kerap digunakan dan sempat trending. Di Twitter/X, istilah itu digunakan untuk menyebut Presiden Jokowi yang seolah telah menjadi Raja semasa pemerintahannya.
Mantan Menteri Mahfud MD melalui twitnya pada Senin (26/7/2024) juga menyinggung istilah Raja Jawa.
“Secara politik raja Jawa itu tidak ada lagi. Tapi secara kultural raja Jawa masih ada. Misalnya Sultan HB X oleh sebagian rakyat masih disebut raja, tapi hanya sebagai raja kultural, pemelihara budaya jawa. Namun Sultan HB ini tidak bengis dan tidak menakutkan, sebaliknya Sang Raja santun dan merakyat,” tulis Mahfud MD.
Baca Juga: Catat Baik-Baik! Ini Dia Kisi-Kisi Soal SKD CPNS 2024 yang akan Diujikan
Istilah Raja Jawa juga tampak digunakan dalam sebuah demonstrasi di Makassar belum lama ini. Melansir dari @txtdrmks, ada gambar tersemat bertuliskan:
“Makassar Tidak Tunduk Pada Raja Jawa”
Postingan tersebut telah mendapat lebih dari 1 juta views, 12 ribu repost, 54 ribu likes dan 680 komentar.
Editor : Noor Syafaatul Udhma