RADAR KUDUS – Kabar mengenai kultur bullying (perundungan) di dunia kedokteran masih menyita perhatian publik. Terakhir dikabarkan seorang dokter yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RS Kariadi Semarang diduga bunuh diri karena tidak kuat menjalani program tersebut.
Setelah kabar itu mencuat, banyak dokter di Indonesia yang mulai berani berbicara bagaimana mereka menjalani PPDS.
Salah satunya dokter Marcelius yang pernah menjalani PPDS pada tahun 2020 dan kemudian memutuskan untuk resign pada 2022.
Baca Juga: Benarkah Megathrust Jadi Ancaman? Ini Penjelasan Menperin Agus Gumiwang
Karena akumulasi perlakuan yang tidak mengenakkan dari seniornya saat PPDS, Dokter Marcelius harus menguburkan mimpinya untuk jadi dokter spesialis.
Kisah ini juga diceritakan dalam wawancara di Youtube dan tayang pada Senin (27/8/2024).
Dokter Marcelius menceritakan, perlakuan yang tidak manusiawi pernah ia dapatkan saat semester 1.
Ia mendapat sejumlah kekerasan fisik seperti dipukul, ditendang, ditampar hingga mendapat lemparan botol didepan pasien dan perawat. Ia juga beberapa kali mendapat kekerasan verbal.
Baca Juga: Anies Baswedan Tak Terlihat, PDIP Umumkan 6 Pasangan Calon Kepala Daerah, Ini Nama-namanya
Dan bullying itu ternyata tidak berhenti begitu saja.
“Triggernya (pemicunya) di semester 4. Waktu itu saya melalkukan kesalahan. Ada namanya parade, waktu dimana residen-residen dihakimi ketika melakukan kesalahan. Kami dikumpulkan setelah jam 6 atau jam 9 malam waktu itu dan saya lagi ada di kamar jaga.
Waktu itu saya disuruh berdiri di tengah-tengah residen. Kemudian yang dilakukan mereka, ada senior yang melempar botol-botol satu satu ke kita. Yang sebenarnya menurut saya sangat menyakitkan adalah saya tidak mampu membela diri. Waktu itu saya masih berpikir mau melanjutkan mimpi saya mau jadi seorang orthoped. Jadi saya lanjut,” katanya.
Baca Juga: Menengok Detik-Detik Gunung Krakatau Meletus pada 1883, Bak Kiamat Datang
Baca Juga: Breaking News! Rumah Sakit Pusat Pertamina di Jakarta Selatan Kebakaran, Kok Bisa?
Setelah kejadian itupun ia masih mendapatkan bullying.
Ia sempat dipukul lagi oleh seniornya, lalu libur selama tiga hari saat PPDS dan akhirnya memutuskan untuk resign. Setelah resign, ia mengaku tidak mendapatkan intimidasi lagi.
Ia juga bercerita, sebelum resign pernah mendapat curhatan dari juniornya yang menunjukkan gelagat ingin bunuh diri. Saat ia speak up mengenai hal tersebut, ia malah mendapatkan intimidasi verbal berupa pesan-pesan dari anonim.
"Dalam pesan pesan itu ya saya dibilang sok munafik," katanya.
Berkaca dari kasus dokter Aulia Risma, menurutnya, kasus bullying di dunia kedokteran adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
Apalagi terjadinya transfer ilmu berlangsung dari senior ke junior.
Editor : Noor Syafaatul Udhma