RADAR KUDUS – Setelah kasus bunuh diri seorang dokter yang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) di RSUP Kariadi viral, sebagian dokter ikut angkat bicara terkait program pendidikan yang selama ini berlangsung.
Salah satunya beban jam kerja yang dinilai tidak sehat. Kalangan dokter sejawat pun ikut khawatir dengan beban kerja tersebut karena akhirnya bisa beresiko juga terhadap pasien yang sedang ditangani.
Karena fisik, pikiran dan mental si dokter sudah terkuras.
Selain itu, jam kerja PPDS yang ada saat ini pun dinilai tidak manusiawi.
Sebelumnya mulai Kamis (15/8/2024) beberapa dokter spesialis mengungkap keprihatinannya terhadap dugaan bullying yang menimpa dokter tersebut melalui akun media sosialnya.
Seorang dokter yang juga sering memosting konten edukasi mengenai Kesehatan juga mengunggah pita hitam sebagai bentuk empati dan duka.
Hal ini dilakukan oleh dokter Adam Prabata melalui instagramnya @adamprabata pada Kamis (15/8/2024).
“No caption needed for this black ribbon. Be kind to yourself and others, please. Everyone has their own struggles (Tidak perlu keterangan untuk pita hitam ini. Tolong bersikap baiklah pada dirimu dan sesama. Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing—red) tulis dokter Adam.
Selain dokter Adam, dokter Internis @drningz turut memosting respon mengenai kabar tersebut. Begitu juga dengan dokter spesialis di Pekanbaru melalui akun Instagramnya @drmita.spkk.
Ia mengungkap tangkapan layar percakapan soal masukan beban kerja PPDS Anastesi yang dinilai cukup berat.
Baca Juga: Habib Luthfi bin Yahya Terima Anugerah Bintang Mahaputra Adipradana
Dalam postingan itu disebutkan, jam kerja “normal” tanpa giliran jaga adalah sekitar 18 jam per hari. 18 jam yang dimaksud adalah masuk jam 6 pagi, dan pulang jam 12 malam.
Disebutkan, bila ada dokter PPDS yang pulang jam 11 malam artinya pulang cepat. Sehingga, menjadi “normal” atau kebanyakan dokter PPDS harus pulang jam 2 atau 3 pagi.
Lalu pada hari berikutnya sudah harus standby lagi jam 6 pagi di RS. Jam kerja gila ini disebut berlangsung terus menerus selama studi sekitar 5 tahun.
“yang sehat fisik dan mental pun kalau tiap hari kerja 18 jam belum tambahan jaga dan tugas-tugas akademik plus tugas ngladeni kebutuhan poro sesepuh kakak senior, ya kenthir juga kurasa. Lagian kerja dengan jam gak manusiawi gini apa gak membahayakan pasien? Risiko human error gede lhoo,” ungkap dokter Mita.
Editor : Noor Syafaatul Udhma