Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gempa Megathrust Mengancam Sejumlah Wilayah di Indonesia, Bagaimana dengan DKI Jakarta?

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 16 Agustus 2024 | 00:07 WIB

gempa megathrust
gempa megathrust

RADAR KUDUS - DKI Jakarta kini berada dalam bayang-bayang ancaman besar dari dua megathrust yang terdeteksi mengapit wilayahnya.

Kedua megathrust tersebut adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Jawa Tengah bagian barat, yang masing-masing memiliki potensi memicu gempa bumi berkekuatan hingga 8,7 magnitudo.

Menurut Subardjo, mantan Ketua Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA), potensi ini telah lama menjadi perhatian para ilmuwan, terutama dengan adanya potensi gempa yang dapat memicu tsunami di wilayah sekitar.

Kedua megathrust ini memiliki sejarah panjang aktivitas seismik yang signifikan.

Megathrust Selat Sunda, dengan panjang 280 km dan lebar 200 km, diketahui pernah memicu gempa besar pada tahun 1699 dan 1780 dengan kekuatan 8,5 magnitudo.

Sejak saat itu, terdapat kekosongan gempa atau yang disebut sebagai seismic gap, yang menunjukkan zona berpotensi gempa namun belum mengalami gempa besar selama ratusan tahun.

Peta Letak Megathrust  (Dok. BMKG)
Peta Letak Megathrust (Dok. BMKG)

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi gempa besar yang dapat terjadi kapan saja.

Ancaman dari Megathrust Selat Sunda bukan hanya pada potensi tsunami, tetapi juga pada getaran kuat yang dapat dirasakan di Jakarta. Jarak antara pusat Megathrust Selat Sunda dengan Jakarta hanya sekitar 200-250 km.

Dengan kondisi tanah Jakarta yang didominasi oleh endapan atau aluvial, getaran ini bisa diperbesar oleh amplifikasi tanah, sehingga memperparah dampak gempa di ibu kota.

Selain itu, Megathrust Jawa Tengah bagian barat juga tidak bisa diabaikan. Meski jaraknya sedikit lebih jauh dari Jakarta, sekitar 200-300 km, namun masih tergolong cukup dekat untuk menimbulkan dampak signifikan.

Sri Widiyantoro, ahli seismolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menyoroti gempa Tohoku di Jepang pada 2011 sebagai contoh.

Meski pusat gempanya berada 400 km dari Tokyo, getaran yang dirasakan di kota tersebut sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta juga berisiko mengalami dampak serupa.

Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengingatkan bahwa prediksi ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi untuk meningkatkan kewaspadaan.

Ia menekankan bahwa hingga saat ini, belum ada teknologi yang dapat memprediksi dengan tepat kapan gempa besar akan terjadi.

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk siap siaga dan mempersiapkan langkah mitigasi yang tepat untuk mengurangi risiko bencana.

Dengan situasi yang demikian, Jakarta harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Warga perlu terus meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang.

Langkah-langkah mitigasi yang tepat dapat menjadi kunci dalam mengurangi dampak dari potensi gempa besar yang mungkin terjadi. (mah)

Editor : Abdul Rokhim
#megathrust indonesia #Daftar wilayah yang terancam gempa Megathrust #Musibah Gempa Megathrust #megathrust adalah #Gempa Megathrust #gempa megathrust jakarta #Megathrust Selat Sunda #Megathrust Nankai #megathrust enggano #megathrust #gempa megathrust di indonesia #gempa megathrust adalah