RADAR KUDUS - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali memperingatkan masyarakat Indonesia akan potensi gempa besar yang dapat mengguncang wilayah Nusantara.
Gempa yang dikenal dengan istilah "megathrust" ini tidak hanya berpotensi merusak, tetapi juga memicu tsunami.
Megathrust Selat Sunda M 8.7 dan Megathrust Mentawai-Suberut M 8.9 menjadi dua zona yang paling dikhawatirkan, mengingat energi besar yang telah lama tertahan di sana.
Apa Itu Gempa Megathrust?
Gempa bumi megathrust adalah jenis gempa yang terjadi di zona subduksi, di mana lempeng tektonik bumi saling bertemu dan menumpuk.
Zona megathrust merupakan bagian dangkal dari lajur subduksi dengan sudut tukik yang landai.
Ketika tekanan yang menumpuk di antara lempeng-lempeng ini dilepaskan, gempa besar dapat terjadi, yang seringkali disertai dengan tsunami.
Meskipun zona ini dapat 'pecah' berkala, jeda waktu antar-gempa bisa mencapai ratusan tahun, yang membuatnya sulit diprediksi.
Aktivitas Seismik di Indonesia
Indonesia memang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas gempa paling tinggi di dunia.
Setiap tahunnya, BMKG mencatat ribuan gempa yang mengguncang Nusantara dengan berbagai magnitudo dan kedalaman.
Tahun 2021 mencatat rekor dengan 11.386 gempa, yang 27 di antaranya termasuk gempa merusak.
Wilayah ini berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, sehingga memiliki 13 segmen megathrust yang berpotensi memicu gempa besar.
Seismic Gap di Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Suberut
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebutkan adanya kekhawatiran besar terhadap Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Suberut.
Kedua segmen ini sudah ratusan tahun tidak mengalami gempa besar, yang berarti energinya terus menumpuk dan siap dilepaskan kapan saja.
Menurut peta sumber gempa Indonesia, Megathrust Selat Sunda terakhir kali 'pecah' pada tahun 1699 dan 1780, sementara Megathrust Mentawai-Suberut terakhir kali mengalami gempa besar pada tahun 1797 dan 1833.
Kesiapan dan Mitigasi BMKG
Meski ancaman megathrust semakin nyata, BMKG memastikan telah menyiapkan berbagai upaya mitigasi dan antisipasi.
Sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) diklaim mampu menyebarkan informasi gempa dan tsunami secara cepat dan akurat.
Selain itu, BMKG juga aktif melakukan edukasi, pelatihan mitigasi, hingga simulasi evakuasi berbasis pemodelan tsunami kepada masyarakat, instansi terkait, serta pelaku industri di wilayah pantai.
Kesimpulan: Upaya Mengurangi Risiko
Indonesia berada dalam lingkaran kegempaan aktif dengan risiko tinggi, namun upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang dilakukan dapat mengurangi dampak bencana.
Meski gempa megathrust 'tinggal tunggu waktu', kesadaran dan persiapan yang matang dapat menekan potensi kerugian dan bahkan menciptakan zero victim.
Masyarakat diharapkan tetap waspada namun tidak perlu panik, karena sistem yang ada akan memberikan perlindungan dan informasi tepat waktu.
Editor : Ali Mustofa