RADAR KUDUS - Gempa bumi berkekuatan 7,1 mengguncang wilayah barat Jepang pada Kamis (8/8) lalu, memaksa pemerintah lokal dan nasional segera bergerak.
Badan Meteorologi Jepang merilis peringatan sementara tsunami, sementara sebuah komite khusus mengeluarkan peringatan bahwa gempa besar lainnya mungkin terjadi dalam waktu seminggu—ini adalah pertama kalinya badan tersebut mengeluarkan peringatan semacam itu secara nasional.
Sebagai tindakan pencegahan, kereta cepat diperlambat, menyebabkan keterlambatan perjalanan, dan Perdana Menteri Jepang membatalkan rencana perjalanan luar negerinya.
Meskipun akhirnya sebagian besar peringatan dicabut dan tidak dilaporkan adanya kerusakan besar, banyak bagian negara masih dalam kondisi waspada tinggi, bersiap menghadapi kemungkinan keadaan darurat di tengah musim liburan musim panas—cerminan fokus Jepang yang ketat pada kesiapsiagaan gempa bumi.
Namun, beberapa ahli mempertanyakan apakah peringatan semacam itu benar-benar diperlukan atau akurat, serta apakah hal tersebut justru mengalihkan sumber daya dari komunitas yang dianggap berisiko lebih rendah.
Gempa terburuk dalam sejarah Jepang baru-baru ini adalah gempa Tohoku berkekuatan 9,1 pada tahun 2011 lalu, yang memicu tsunami besar dan bencana nuklir, menewaskan sekitar 20.000 orang.
Ancaman lain yang masih mengintai adalah gempa megathrust Nankai Trough, jenis gempa paling kuat, dengan kekuatan yang bisa melebihi 9 magnitudo.
Megathrust diperkirakan akan mengguncang Palung Nankai di Jepang dalam pekan ini, dengan potensi dampak yang bisa menjalar hingga ke Indonesia.
Jepang, seperti Indonesia, merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia, terletak di atas "Cincin Api" Pasifik, sebuah area yang dikenal dengan aktivitas seismik tinggi, termasuk gunung berapi dan palung samudra.
Cincin Api Pasifik adalah busur seismik yang membentang di sepanjang tepi Samudra Pasifik, tempat lempeng-lempeng tektonik bertabrakan dan menyebabkan gempa bumi serta aktivitas vulkanik yang intens.
Seiring dengan ancaman gempa di Palung Nankai, Indonesia juga bersiap menghadapi kemungkinan dampak dari aktivitas seismik tersebut.
Pemerintah Jepang telah meningkatkan kesiapsiagaan nasionalnya, mengingat negara ini memiliki sejarah panjang gempa bumi besar, termasuk gempa Tohoku pada tahun 2011 yang memicu tsunami dahsyat dan bencana nuklir. Di Indonesia, kewaspadaan juga ditingkatkan, mengingat potensi efek domino dari gempa di wilayah ini.
Para ahli terus memantau perkembangan di Palung Nankai dan mengingatkan masyarakat di kedua negara untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan gempa besar.
Kesiapsiagaan menjadi kunci dalam mengantisipasi bencana yang dapat terjadi kapan saja di kawasan yang dikenal dengan aktivitas seismiknya yang tinggi ini.
Pemerintah Jepang telah lama memperingatkan kemungkinan terjadinya gempa Nankai Trough sehingga potensi kejadian ini telah menjadi pengetahuan umum.
Namun, peringatan ini juga menjadi kontroversial, dengan beberapa ilmuwan berargumen bahwa fokus yang terlalu besar pada kemungkinan gempa di wilayah tertentu mengabaikan ancaman serupa di bagian lain negara yang mendapat perhatian lebih sedikit. (ury)
Editor : Abdul Rokhim