REMBANG – Minat investor untuk berinvestasi di Kabupaten Rembang terus tumbuh.
Terbaru, hadir pabrik gula di Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, dengan nilai investasi hingga Rp 1,7 triliun.
Ini terungkap saat penandatanganan kerja sama penelitian dan pengembangan varietas tebu untuk konversi lahan terbengkalai antara perguruan tinggi Muhammadiyah dan PT Wadah Karya Rembang dan seremoni panen demplot tebu 2024 di lokasi tapa pabrik di Kemadu, Sulang, Rembang.
Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Bibit Waluyo mantan Gubernur Jateng periode 2008-2013, Bupati Rembang Abdul Hafidz, Direktur Utama PT. Wadah Karya Rembang Kamadjaya, Sekda Rembang, Fahrudin, dan Direktur Utama PT. Mandiri Palmera Agrindo.
Menurut Bupati Rembang, Abdul Hafidz hadirnya pabrik tebu di Rembang. Jadi harapan baru sekaligus menjawab pekerjaan rumah di wilayahnya yang belum terselesaikan.
”Mendengar info ini, Kami langsung tancap gas. Apalagi investasi kurang lebih 120 ribu US dolar atau Rp 1,7 triliun,” ujarnya.
Hafidz menyebutkan saat ini sudah ada kerja samanya.
Sehingga sudah dipastikan keberadaan pabrik ini akan bisa menggairahkan para petani tebu. Baik petani Rembang, Blora maupun Pati.
Apalagi, kapasitas cukup tinggi dalam operasionalnya. Selain itu dilengkapi teknologi ramah lingkungan. Tidak pakai batu bara.
“Ini tentu sangat menggembirakan. Karena jangan sampai ada sebuah kegiatan produksi yang mengganggu lingkungan. Karena tidak pakai bahan baku batu bara,” katanya.
Direktur Utama PT. Wadah Karya Rembang, Kamadjaya mengaku senang karena bisa memenuhi harapan masyarakat Rembang dan bupati.
Ia berharap dengan keberadaan pabrik di Rembang, ke depan bisa mewujudkan pabrik unggul yang dikelola dengan baik, memberikan kesejahteraan petani tebu.
”Petani Rembang sudah jagoan di dalam tebu. Tetapi saya lebih perhatian petani di Blora, saya tidak pungkiri. Karena banyak dari mereka harus mesti dibantu. Insya Allah pabrik tetap ada di Rembang, mari mulyo berbarengan,” komitmennya.
Ia menceritakan masa lalu dari tahun 2000-2002 kerja gula, lalu eksplorasi membuat pabrik sendiri di Cepiring mulai tahun 2002 dan beroperasi 2008.
Kemudian pabrik berikutnya di Blora tahun 2013, giling di tahun 2014 akhir dan 2015. Dua-duanya sudah tidak ditangan.
”Pabrik ketiga akan dipertahankan dengan kemampuannya supaya tidak lepas lagi. Saya bertekad kepentingan pabrik ini bukan hanya untuk pengusaha tetapi dulur petani. Dan buka kesempatan memiliki saham di pabrik ini,” imbuhnya.
Kamadjaya mengajak Muhammadiyah berkolaborasi. Karena ingin belajar, sekaligus karena prestasi Muhammadiyah selama 50 tahun lebih sudah membuktikan.
Di dalam pendidikan dasar segalanya keilmuannya.
”Pengembangan bibit tentu tidak akan jauh dari upaya terus menerus menggarap dari sisi ilmu. Apapun yang ditugaskan Muhammadiyah apakah lewat perguruan tinggi atau badan usaha milik Muhammadiyah akan menjadi satu kehormatan kami kalau bisa kerja sama, tentunya bukan hanya di dalam MoU, melakukan penelitian bibit unggul, tentunya pendirian pabrik gula,” katanya. (noe/ali)
Editor : Abdul Rokhim