RADAR KUDUS – Sejarawan Bonnie Triyana mengungkapkan cerita kunjungannya ke Belanda. Salah satunya, saat ia mengunjungi Gudang Museum di s-Gravenzande.
Disana, ia menemukan Prasasti Damalung yang sempat hilang. Prasasti tersebut ternyata telah tersimpan selama dua abad di Belanda.
Hal ini disampaikan Bonnie melalui akun Twitternya @bonnietriyana (8/8/2024).
Baca Juga: Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, Bagaimana Cara Daftar Misa Agung di Stadion GBK Jakarta?
“Momen yang membahagiakan karena sejak lama sejak lama para ahli purbakala Indonesia berharap bisa menemukan kembali prasasti yang sempat hilang ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, Prasasti tersebut memiliki banyak arti penting untuk bangsa Indonesia.
Prasasti tersebut diciptakan oleh kalangan intelektual era Hindu-Budha (1371 saka atau 1449 masehi) di Kawasan Merapi-Merbabu.
“Saya pertama kali mendengar kisah prasasti ini awal tahun 2023 lalu ketika bersama @sarasdewi diundang bicara di Salatiga. Atas informasi itu pelacakan keberadaannya dilakukan oleh Pim Westerkamp, sejarawan dan kurator senior Museum Volkenkunde, Leiden,” jelasnya.
Prasasti ini juga disebut-sebut menjadi perantara antara aksara Kawi dengan aksara Buda.
Melansir dari Radar Semarang, prasasti ini dulunya ditemukan di Desa Ngandoman, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada 1824.
Perburuan prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman tak lepas dari pertemuan Bonnie dengan Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Semarang pada akhir 2022.
Tim Repatriasi Koleksi asal Indonesia ini pun sedang berupaya memulangkan Prasasti Damalung ke Indonesia.
Prasasti ini dulunya ditemukan Residen Semarang Hendrik Jacobus Domis pada 1822-1825. Ketika itu Hendrik menjabat sebagai Residen Semarang.
Antara 1826 – 1857, sejumlah benda cagar budaya dan Prasasti Damalung diperkirakan dipindah ke Belanda.
Editor : Abdul Rokhim