RADAR KUDUS – Pada hari Senin (15/7) BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) mengeluarkan laporan terkait aktivitas terkini Gunung Merapi Jogjakarta.
Berdasarkan pantauan sejak pukul 00.00 - 24.00 WIB pada Minggu (14/7), BPPTKG mengamati adanya 28 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimal 1600 meter, dan 43 kali guguran pada Sabtu (13/7) mengarah ke Barat Daya (Kali Bebeng, Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang).
Atas hal ini, BPPTKG memperkirakan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah berpotensi bahaya.
Penampakan Gunung Merapi mengeluarkan lava merah juga terekam dalam video CCTV dan foto pantauan yang beredar di media sosial.
Karenanya, masyarakat diminta mewaspadai bahaya lahar dan awan panas di sekitar Sungai Boyong (sejauh maksimal 5 km), Sungai Bedog Sleman DIY, Krasak, Bebeng (sejauh maksimal 7 km).
Begitu juga dengan area sekitar Sungai Woro Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten (sejauh maksimal 3 km), dan Sungai Gendol DIY (5 km).
Bila terjadi letusan, BPPTKG memperkirakan muntahan material vulkanik bisa menjangkau radius 3 km dari puncak.
Atas erupsi ini, BPPTKG meminta masyarakat untuk:
1. Tidak melakukan kegiatan di wilayah potensi bahaya
2. Mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi
Baca Juga: KRONOLOGI Penemuan Potongan Kaki Manusia Ditemukan di Pantai Marina Semarang
3. Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi
Sebagai informasi, Gunung Merapi berstatus Siaga (Level 3) sejak 5 November 2020. (nib)
Editor : Noor Syafaatul Udhma