RADAR KUDUS - Bencana alam terus menimpa Gorontalo hingga dalam sepekan terakhir.
Setelah longsor menimbun tambang emas illegal dan menewaskan 23 pekerja, kini banjir bandang masih mengintai di 6 kecamatan Gorontalo.
Hingga akhirnya pada Jumat, 12 Juli tagar #prayforgorontalo trending di media sosial x atau twitter.
Baca Juga: 44 Orang Dirawat di RSJ karena Mabuk Kecubung, 2 Di Antaranya Meninggal Dunia
Melansir dari berbagai sumber valid, Gorontalo tengah dikepung bencana alam.
Bahkan kepungan bencana itu disebut oleh warga sebagai “tsunami”.
Sebelumnya pada Selasa (9/7), banjirdisertai longsor menimpa sebuah kawasan tambang emas illegal.
Total sudah ada 23 pekerja yang ditemukan meninggal dunia di kawasan tambang rakyat Desa Tulabolo Timur Kecamatan Suwawa Timur Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo tersebut.
Baca Juga: Sistem Matrilineal Suku Minangkabau: Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial dan Peran Gender
Dari video yang beredar di media sosial, terlihat banyak rumah disapu oleh banjir bandang hingga akhirnya deretan rumah itu hancur.
Kini Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo bersama tim gabungan mendirikan dapur umum untuk para petugas SAR gabungan dan para korban longsor di tambang emas Motomboto, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Tak hanya itu pada Rabu (10/7), enam kecamatan di Gorontalo mulai direndam banjir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Gorontalo Mahmud Baderan menjelaskan banjir terus meluas hingga enam kecamatan.
Enam kecamatan itu adalah Kota Selatan, Kota Tengah, Kota Barat, Dungingi, Dumbo Raya, dan Kota Timur.
Baca Juga: Prabowo Subianto Jalani Operasi Kaki Penuh Resiko, Begini Kondisinya Saat Ini
Titik terparah berada di Kecamatan Dumbo Raya dan Kota Barat dengan ketinggian air mencapai di atas 50 sentimeter.
Banjir ini dipicu oleh hujan deras dan luapan sungai secara bersamaan.
“Curah hujan tinggi memicu meluapnya Sungai Bone dan Bolango, ditambah aliran sungai dari Danau Limboto,” jelasnya.
Editor : Noor Syafaatul Udhma