Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Asal Usul Lebaran Ketupat dalam Tradisi Jawa dan Sejarah Penetapannya di Hari Raya Idul Fitri

Dzikrina Abdillah • Rabu, 17 April 2024 | 20:27 WIB
ILUSTRASI Lebaran
ILUSTRASI Lebaran

RADAR KUDUS - Lebaran Ketupat adalah salah satu tradisi yang khas dan bersemangat di Indonesia.

Tradisi memakan ketupat menjadi salah satu makanan wajib yang disantap saat perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Ketupat, sebenarnya, adalah makanan yang telah ada sejak zaman dahulu kala di wilayah-wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ketupat adalah makanan berbahan deser beras yang dibentuk padat dan dibungkus menggunakan daun lontar atau bisa menggunakan janur, yaitu daun kelapa yang masih muda.

Bagi masyarakat Indonesia, ketupat sudah menjadi makanan wajib yang hadir ketika Hari Raya Idul Fitri.

Salah satu tokoh penting dalam cerita ini adalah Sunan Kalijaga, seorang ulama yang terkenal di Jawa.

Munculnya ketupat berawal dari ide Sunan Kalijaga yang ingin menyebarkan agama Islam di Indonesia. 

Sunan Kalijaga ingin menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat lokal.

Untuk itu, dia menciptakan Hari Raya Ketupat pada tanggal 8 Syawal sebagai momen perayaan yang berdampingan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Pada hari tersebut, umat Islam merayakannya dengan memakan ketupat.

Biasanya, ketupat yang mereka siapkan adalah ketupat yang dibungkus dengan anyaman daun lontar atau janur. Bagi umat Islam, Hari Raya Ketupat mempunyai arti tersendiri.

Hal ini dilakukan dengan makna ketupat yang berasal dari kata ketupat yang berarti mengakulapat atau mengakui kesalahan.

Pada hari tersebut, umat Islam mengakui setiap kesalahan yang mereka buat dan berharap bahwa kesalahan tersebut bisa dihapuskan oleh Allah SWT dengan menjalankan ibadah puasa Ramadan yang mereka lakukan selama sebulan penuh. Bahkan, rayaan tersebut bertahan sampai sekarang.

Hari Raya Ketupat juga tidak hanya dirayakan di Pulau Jawa saja, tapi juga menyebar ke pulau lain seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Ketupat dalam Tradisi Jawa

Menurut sejarawan Universitas Padjajaran Bandung Fadly Rahman, berdasarkan cerita rakyat, ketupat berasal dari abad ke-15 hingga ke-16 semasa hidup Sunan Kalijaga.

Ketupat merupakan wakil dari dua simbolisasi, yakni 'ngaku lepat' yang berarti mengakui kesalahan.

Dan 'laku papat' atau empat laku, yang mencerminkan wujud empat sisi ketupat.

Empat laku, atau sisi dari ketupat, tak hanya karena bentuknya yang segi empat, namun terdapat empat makna di dalamnya.

Pertama, lebaran dari kata dasar lebar, berarti pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain.

Kedua, luberan dari kata dasar luber, yang berarti melimpah, artinya memberi limpahan sedegah pada orang yang membutuhkan.

Ketiga, lebaran dari kata dasar lebur, yang artinya melebur dosa yang telah dilalui selama satu tahun.

Keempat, leburan dari kata dasar kapur, yang artinya menghicikan, kembali putih layaknya bayi. Ketupat juga akulturasi dari budaya Hindu dan Islam.

Meskipun disebutkan secara rinci yang menuju pada ketupat, namun berdasarkan sumber tertulis dalam prasaktya yang diteriti orang asli.

Indikasi makanan beras yang dibuntu siur, sudah dilakukan sebelum masa pra-Islam.

Editor : Dzikrina Abdillah
#sejarah #lebaran #asal usul #makna #sunan kalijaga #ketupat #idul fitri