Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

REVIEW Live Action Avatar: The Last Airbender Netflix Penggunaan CGI Terus Dipuji

Dzikrina Abdillah • Minggu, 25 Februari 2024 | 22:41 WIB

 

Live Action  "Avatar: The Last Airbender".
Live Action "Avatar: The Last Airbender".

RADAR KUDUS - Berikut ini informasi terkait review Live Action  "Avatar: The Last Airbender" tahun 2024.

Diketahui Live Action  "Avatar: The Last Airbender" mulai tayang di Netflix pada 22 Februari lalu.

Live action Avatar ini menjadi salah satu series yang dinantikan penggemar Avatar.

Tak sedikit orang yang bernostalgia dengan Live Action Avatar kali ini.

Seperti cerita Avatar sebelumnya, Live Action  "Avatar: The Last Airbender" juga menceritakan tentang pemimpin 5 pengendali elemen bernama Aang.

"Avatar: The Last Airbender" mengisahkan dunia terpecah menjadi empat bangsa yang menguasai elemen berbeda.

Saat Negara Api mengancam keseimbangan dunia, satu-satunya harapan adalah Avatar, yang dapat mengendalikan semua elemen.

Namun, Avatar Aang menghilang selama seratus tahun.

Aang terbangun kembali dan, bersama sahabatnya Katara dan Sokka, memulai misi untuk menghentikan Negara Api dan Raja Api Ozai.

Dengan mengembangkan kemampuan pengendalian elemen, Aang dan teman-temannya menjalani petualangan melintasi dunia.

Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu teman dan musuh baru sambil mengungkapkan kekuatan dan kebijaksanaan Aang sebagai Avatar.

Pertarungan akhir melibatkan pilihan sulit saat Aang dihadapkan pada tugasnya untuk menyelamatkan dunia dan menyeimbangkan kekuatan elemen.

Dalam Live Action "Avatar: The Last Airbender" terjadi pergeseran kreatif yang nggak menemukan solusi tengahnya.

Ini mengakibatkan duo kreator asli Avatar: Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko, hengkang dari proses pengembangan.

Sebagian orang beranggapan filmnya terasa tergesa-gesa dengan menyatukan 20 episode versi kartun menjadi 8 episode saja.

Salah satu poin positif dari live action ini adalah penggunaan CGI dan efek khusus yang memukau.

Koreografi yang ditampilkan juga menambah keunikan serial ini.

Aang dengan mudah melompat, melayang sesuai keinginannya.

Ia juga punya gaya bertarung yang menyenangkan, menggunakan lingkungan buat keuntungannya.

Lagi-lagi, kesulitan nomor satu dalam adaptasi fantasi adalah banyak hal yang terasa kurang alami jika gak dieksekusi dengan baik.

Tapi secara keseluruhan, Avatar: The Last Airbender ini punya peningkatan dari adaptasi live action yang disutradarai oleh M. Night Shyamalan pada 2010.

Beberapa adegan aksi divisualisasikan dengan tajam. Alam yang ditampilkan di animasi juga dikemas dengan baik di live action ini.

 

Editor : Dzikrina Abdillah
#review #live action #The Last Airbender #netflix #avatar