KUDUS – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ikut peduli dalam penelitian fosil hewan purbakala di wilayah Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus.
Yayasan Dharma Lestari, bersama para peneliti yang tergabung dalam Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS) Indonesia melakukan penelitian sisa vertebrata di Situs Purbakala Patiayam, Kabupaten Kudus.
Penelitian itu berlangsung selama 24 hari. Terhitung mulai Senin (8/1) hingga Minggu (24/1) 2024 mendatang.
Penelitian kali ini ditujukan untuk mengungkap potensi kepurbakalaan di Situs Purbakala Patiayam.
Serangkaian kegiatan, meliputi studi lapangan, survei, ekskavasi, dan analisis temuan sisa vertebrata di situs yang berumur hampir satu juta tahun yang lalu ini.
Penelitian kali ini melibatkan lintas sektor. Mulai dari pakar arkeologi, geologi, antropologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga mahasiswa arkeolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya, mereka telah diseleksi.
Kegiatan tersebut diinisiasi Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.
Lestari Moerdijat atau Rerie ingin Situs Purbakala di Patiayam mendapatkan stempel nasional dan diakui oleh dunia.
Selain itu, bersama PAS dan Yayasan Dharma Lestari menerbitkan buku saku berjudul Bertualang ke Zaman Purba di Situs Patiayam.
Menurutnya, ini sebagai bagian upaya publikasi atas kekayaan pada Situs Purbakala Patiayam.
Ia meyakini, keberadaan Situs Patiayam penanda kekayaan zaman prasejarah Indonesia.
”Penanda dimaksud mendeskripsikan bahwa kekayaan Indonesia melampaui sumber daya alam dan sumber daya manusia (SDM) melalui keanekaragaman sejarah, budaya, dan suku bangsa,” jelas Lestari Moerdijat saat menyampaikan di acara sosialisasi empat pilar MPR di Museum Purbakala Patiayam Kudus.
Ia menambahkan, oleh karena itu simpul pengetahuan dan kesadaran mesti diperkuat bahwa Indonesia memiliki pilar-pilar penting terkait perkembangan lintas zaman.
Dalam acara tersebut juga hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah dan Prof.
Truman Simanjuntak yang sudah melakukan penelitian Situs Purbakala Patiayam sejak 1980.
Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah, menyambut baik dengan adanya para pakar dan ahli untuk mengangkat Situs Patiayam Purbakala.
Saat ini masih berlangsung ekskavasi fosil gajah purba Elepas, yang diperkirakan ini paling istimewa.
”Karena temuan ini diperkirakan masih lengkap. Mulai dari gading, tulang rusuk, gigi dan lainnya. Selain itu juga ditemukan gajah purba Stegodon, yang diperkirakan utuh juga. Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi semangat dan dukungan yang diberikan pada kami,” jelasnya.
Juga Gandeng Para Pakar Arkeolog hingga BRIN
Para peneliti yang tergabung dalam Center for Preshistory and Austronesian Studies (CPAS) Indonesia bersama Yayasan Dharma Lestari, melalukan penelitian sisa vertebrata di Situs Purbakal Patiayam, Kabupaten Kudus. Juga ada BRIN dan para arkeolog.
Serangkaian kegiatan yang akan dilakukan, meliputi studi lapangan, survei, ekskavasi, dan analisis temuan sisa vertebrata di situs yang berumur hampir satu juta tahun yang lalu ini.
Melibatkan langsung pakar arkeologi Prof. Dr. Truman Simanjuntak.
Ia sudah tahu seluk beluk Situs Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus.
Prof. Truman sudah pernah melakukan penelitian fosil hewan purba yang ditemukan di wilayah Patiayam pada 1980.
Menurutnya, penemuan ini ada dua jenis gajah purba stegodon dan elephas.
Itu hewan purba yang sangat menonjol, yang hidup di Patiayam sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Beda stegodon dan elephas itu, pada karakteristik fisiknya.
”Ukurannya, salah satu ciri khas yang menonjol itu pada gigi. Stegodon lebih rapi dan bagus, sementara elephas giginya ada renggangannya. Tapi badannya lebih besar gajah purba elephas,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan, dunia hewan lebih dulu menghuni di kawasan Patiayam daripada manusianya.
Karena, lebih banyak ditemukan fosil hewan purba daripada manusia purba.
Keberadaan hewan-hewan karena ada peristiwa migrasi, bisa menyebrangi laut.
Umumnya, migrasi terjadi ketika bumi Nusantara munculkan jembatan darat akibat terjadinya penurunan tempratur bumi dan muka laut.
Pada kesempatan itulah, hewan bermigras dari Asia daratan dan sampai ke Indonesia.
”Fauna dari daratan Cina dan daratan India, bercampur di Jawa. Indonesia itu kaya akan situs-situs tertua purbakala, terutama di Jawa,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu peneliti dari CPAS Ruli, mengatakan penelitian ini difokuskan di dua titik lokasi yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus.
Studi lapangan sendiri sudah dilakukan sejak November 2023.
“Survei lapangan sudah sejak November 2023 kemarin. Saat ini kami tengah melakukan ekskavasi,” kata Ruli.
Pada saat ke lokasi temuan gajah purba elephas, Ruli menjelaskan yang saat ini ditemukan berupa fosil gigi, rahang, gading, tulang rusuk dan lainnya.
Tapi, ia belum berani memastikan umur dari fosil tersebut, karena harus melalui proses laboratorium.
Kegiatan ekskavasi ini pun akan terus berlanjut, untuk selanjutnya dilakukan analisis hingga 21 Januari 2024 mendatang.
Sehingga, hasil temuan tersebut pun belum bisa dibeberkan secara jelas lantaran masih dalam proses penelitian.
“Kalau setelah diidentifikasi nanti bisa tahu, tapi ini belum bisa karena masih proses ekskavasi,” katanya. (san/zen/*)
Editor : Ali Mustofa