RADAR KUDUS - Berikut ini pengertian dan penjelasan soal nyamuk wolbachia yang disebut bisa untuk menangani kasus demam berdarah dengue (DBD) baru-baru ini ramai menjadi perbincangan masyarakat.
Sebelumnya diberitakan Kementerian Kesehatan menyebar ribuan nyamuk wolbachia di lima kota sebagai penekan virus nyamuk demam berdarah.
Nama nyamuk wolbachia yang asing di telinga masyarakat memicu pro kontra dan spekulasi.
Berikut ini penjelasan tentang nyamuk wolbachia.
Mengutip keterangan Kementerian Kesehatan, wolbachia adalah bakteri alami pada 60% serangga. Wolbachia hidup dalam sel serangga dan dapat diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui telur.
Baik bakteri wolbachia maupun nyamuk aedes aegypti didapatkan secara alami tanpa ada manipulasi genetika dan tidak diternakkan di laboratorium.
Nyamuk wolbachia adalah nyamuk yang lahir dari telur yang diberikan bakteri alami wolbachia.
Wolbachia dalam tubuh nyamuk demam berdarah atau nyamuk aedes aegypti dapat menekan kembang biak virus dengue, sehingga mengurangi kemampuan nyamuk DBD sebagai penular demam berdarah.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Erizon Safari memastikan telah mempersiapkan sejumlah hal yang diperlukan terkait pelepasan nyamuk Aedes Aegypti Wolbachia yang disebut bisa meredam wabah demam berdarah dengue (DBD).
Sejumlah persiapan itu utamanya pelatihan kepada para petugas di lapangan, puskesmas dan kelurahan.
"Sekarang masih tahap persiapan. Kami melakukan job training untuk petugas lapangan, job training untuk petugas puskesmas, kelurahan dan lain lain, sebatas itu," kata Erizonsaat, Rabu (22/11).
Menurut Erizon pihaknya masih terus mensosialisasikan kepada masyarakat soal nyamuk Wolbachia.
Ia juga memastikan belum ada kendala berarti jelang pelepasan nyamuk tersebut.
Namun Erizon belum bisa memastikan kapan nyamuk-nyamuk Wolbachia disebar di wilayahnya.
Pemkot, kata dia, menunggu keputusan dari pemerintah, Kementerian Kesehatan, persetujuan Pemprov dan Wali Kota Jakarta Barat.
"Untuk hambatan belum ada yang signifikan, meski begitu tetap membutuhkan sosialisasi kepada masyarakat," ujar Erizon.
Sementara, Kordinator juru pemantau jentik (Jumantik) di kawasan Kembangan Utara, Jakbar, Maharani mengatakan sudah ada 11 titik yang disiapkan untuk penempatan telur nyamuk Wolbachia.
Salah satu titiknya di Jalan H Mandor Ramin. Maharani berkata titik penempatan telur tersebut berada jauh dari rumah warga.
"Jaraknya 70 meter dari rumah, enggak boleh kena matahari." Kata Maharani.
Pada titik-titik tersebut disiapkan ember-ember berisi telur yang akan dibiarkan selama dua minggu hingga telur menetas menjadi nyamuk Wolbachia.
Tiap dua minggu ember-ember tersebut akan digantikan dengan ember baru berisi telur Wolbachia.
"Selama dua minggu sekali itu dikontrol, selama enam bulan. Percobaannya seperti itu, mudah mudahan enggak ada DBD." Ujar Maharani.
Maharani mengklaim warga menyambut baik rencana penyebaran nyamuk Wolbachia. Meski begitu, tetap ada kekhawatiran dari masyarakat atas nyamuk tersebut.
Editor : Dzikrina Abdillah