JAKARTA - Indonesia dan Malaysia kerap kali terlibat dalam polemik klaim budaya.
Hal itu menyebabkan perselisihan dan saling tuding di kalangan masyarakat.
Media nasional Indonesia mencatat ada sejumlah warisan budaya Nusantara yang diklaim Malaysia, mulai dari batik, Reog Ponorogo, angklung, hingga renang.
Baru-baru ini Negeri Jiran itu disebut menjiplak lagu daerah Halo-Halo Bandung karya Ismail Marzuki.
Berikut ini dua lagu Indonesia yang pernah diklaim milik Malaysia:
1. Rasa Sayange
Dikutip dari CNBC, Malaysia sempat menggunakan lagu Rasa Sayange untuk promosi pariwisatanya yang bertajuk Malaysia Truly Asia pada 2017 lalu.
Masyarakat Indonesia sontak melakukan protes dan menuding Negeri Jiran telah mencuri warisan budaya Tanah Air.
Klaim lagu ini kembali terulang pada tahun 2017, saat menjadi tuan rumah SEA Games 2017.
Malaysia kembali menggunakan lagu Rasa Sayange saat pembukaan event olahraga se-Asia Tenggara tersebut.
Seperti diketahui, Rasa Sayange adalah lagu asal Indonesia yang merupakan lagu daerah dari Maluku. Lagu itu diciptakan oleh Paulus Pea, seorang pencipta lagu asal Maluku.
Terkait hal itu, Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan lagu berjudul Rasa Sayange adalah lagu asal Indonesia.
Ia menegaskan ini karena masih mendengar klaim dari sejumlah pihak yang menyatakan lagu itu berasal dari Malaysia.
"Dulu pernah sempat lagu Rasa Sayange ada yang bicara itu dari kami, asalnya Malaysia. Itu Google saja tahu sejarahnya. Kita tahu asalnya Indonesia," kata dia, dalam acara Temu Anwar di Jakarta, dikutip Sabtu (9/9).
2. Halo-Halo Bandung
Malaysia diduga melakukan klaim atas lagu daerah asal Jawa Barat berjudul Halo-Halo Bandung.
Hal ini pertama kali diketahui dari video klip lagu berjudul Hello Kuala Lumpur di kanal Youtube yang diduga berasal dari Malaysia.
Video itu sudah diunggah sejak 2018 lalu
Lagu Hello Kuala Lumpur tersebut sangat mirip dengan lagu asal Indonesia yakni Halo-Halo Bandung.
Kemiripan tersebut sangat identik mulai dari nada irama hingga melodinya.
Bahkan liriknya pun hanya diubah sedikit bahkan nyaris sama.
Editor : Dzikrina Abdillah